Mahasiswa, Bullying, dan Kesehatan Mental

Sumber Gambar: medcom.id

Dalam kehidupan pendidikan tinggi yang semakin kompleks dan meluasnya pengetahuan, mahasiswa menghadapi berbagai tantangan. Tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga sosial dan psikologis. Salah satu isu mutakhir yang menjadi pusat perhatian adalah peristiwa bullying (perundungan). Ini berdampak terhadap kesehatan mental mahasiswa.

Meskipun bullying sering terasosiasikan dengan pendidikan dasar dan menengah, kenyataannya praktik ini juga terjadi di perguruan tinggi, baik bentuk verbal, sosial, maupun digital. Di era modern yang tertandai kemajuan teknologi dan keterhubungan digital, bentuk-bentuk bullying mengalami transformasi yang lebih halus tapi tetap merusak. Misalnya perundungan melalui media sosial, pengucilan dalam kelompok akademik, atau pelecehan berbasis status sosial dan identitas.

Bullying di kalangan mahasiswa sering kali tidak terdeteksi karena berlangsung dalam ruang-ruang yang tertutup. Atau melalui platform digital yang sulit terawasi oleh institusi pendidikan. Bentuknya bisa berupa komentar merendahkan di forum diskusi daring, penyebaran rumor melalui grup pesan, atau pengabaian sistematis dalam kegiatan kelompok.

Dinamika Sosial Kampus

Mahasiswa korban bullying kerap mengalami tekanan psikologis signifikan, seperti kecemasan, depresi, penurunan motivasi belajar, bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup. Dalam konteks ini, kesehatan mental menjadi isu yang tidak terpisahkan dari dinamika sosial kampus. Ketika mahasiswa tidak merasa aman secara emosional, maka proses pembelajaran dan pengembangan diri mereka akan terhambat secara serius.

Era modern membawa serta ekspektasi yang tinggi terhadap performa akademik dan sosial mahasiswa. Tekanan untuk berprestasi, bersaing, dan tampil sempurna di media sosial menciptakan lingkungan yang rentan terhadap praktik-praktik eksklusif dan diskriminatif. Mahasiswa yang tidak mampu memenuhi standar sosial tertentu baik segi penampilan, gaya hidup, atau kemampuan akademik sering kali menjadi sasaran bullying.

Atau, misalnya, mahasiswa dari latar belakang ekonomi rendah dapat membuat mahasiswa merasa minder dalam interaksi sosial. Contoh lain, mahasiswa dengan orientasi seksual minoritas menghadapi stigma yang mengarah pada pelecehan verbal. Fenomena ini menunjukkan bahwa bullying tidak hanya bersifat individual, tetapi juga terkait dengan norma sosial yang berlaku di lingkungan kampus.

Baca Lainya  Peraduan Cita, Citra, dan Realita Mahasiswi

Meskipun berbagai kampanye dan layanan konseling kampus telah tersedia, permasalahan kesehatan mental di kalangan mahasiswa tetap sulit terminimalkan. Banyak mahasiswa yang masih merasa takut untuk bercerita karena khawatir teranggap lemah atau tidak mampu menghadapi masalah sendiri. Kurangnya pemahaman tentang pentingnya kesehatan mental serta minimnya tenaga profesional di kampus turut memperburuk keadaan.

Dampak dari bullying terhadap kesehatan mental mahasiswa tidak dapat kita remehkan. Studi psikologi menunjukkan bahwa individu yang mengalami perundungan berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kecemasan, depresi, gangguan tidur, dan penurunan fungsi kognitif. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi capaian akademik, relasi sosial, dan prospek karier mahasiswa.

Kampus dan Lingkungan Inklusif

Lebih jauh lagi, kampus yang tidak mampu menciptakan lingkungan inklusif dan aman secara psikologis akan kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang pembentukan karakter dan intelektualitas. Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan tinggi untuk mengembangkan kebijakan dan mekanisme pencegahan bullying yang komprehensif, termasuk edukasi tentang empati, pelatihan keterampilan sosial, dan sistem pelaporan yang efektif.

Salah satu pendekatan yang dapat kita terapkan adalah integrasi pendidikan karakter dan kesehatan mental dalam kurikulum. Mahasiswa perlu mendapat bekal pemahaman tentang pentingnya menghargai perbedaan, mengelola konflik secara konstruktif, dan membangun relasi yang sehat. Selain itu, kampus harus menyediakan layanan konseling yang mudah terakses dan bebas stigma, sehingga mahasiswa yang mengalami tekanan psikologis dapat memperoleh bantuan profesional. Peran dosen dan tenaga kependidikan juga krusial dalam menciptakan atmosfer pembelajaran yang suportif dan bebas dari intimidasi. Mereka harus terlatih untuk mengenali tanda-tanda distres psikologis dan meresponsnya secara tepat. 

Lingkungan sekitar memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental seseorang, karena kondisi sosial, fisik, dan emosional di sekitarnya dapat membentuk suasana hati, pola pikir, serta kesejahteraan psikologis individu. Lingkungan yang positif seperti keluarga yang harmonis, teman yang suportif dan lingkungan fisik yang bersih serta amandapat menumbuhkan rasa nyaman, aman dan bahagia, sehingga membantu menjaga kestabilan emosi dan mencegah stres yang berlebih.

Baca Lainya  Sejarah Berdosa pada Perempuan

Sebaliknya, lingkungan yang penuh tekanan, konflik, atau ketidakteraturan dapat memicu kecemasan, depresi, bahkan menurunkan motivasi hidup. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung sangat penting untuk menjaga keseimbangan mental dan meningkatkan kualitas hidup seseorang.

Solidaritas Kolektif

Di sisi lain, mahasiswa sebagai peran perubahan sosial juga memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya kampus yang inklusif dan berempati. Gerakan mahasiswa, organisasi kampus, dan komunitas akademik dapat menjadi ruang strategis untuk mengkampanyekan anti-bullying dan promosi kesehatan mental. Misalnya, melalui seminar, diskusi publik, atau kampanye media sosial yang mengangkat isu-isu psikososial. Ketika mahasiswa saling mendukung dan menciptakan solidaritas, maka potensi bullying dapat tertekan dan kesehatan mental kolektif dapat meningkat.

Kesimpulannya, bullying dan kesehatan mental merupakan dua isu yang saling terkait dan sangat relevan dalam kehidupan mahasiswa di era modern. Lingkungan kampus yang kompetitif dan terhubung secara digital menciptakan tantangan baru dalam menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa.

Oleh karena itu, perlu pendekatan yang melibatkan institusi pendidikan, tenaga pendidik, mahasiswa, dan kebijakan publik untuk mengatasi bullying dan mempromosikan kesehatan mental. Hanya dengan menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, inklusif, dan peduli terhadap kesejahteraan emosional, kita dapat memastikan bahwa mahasiswa berkembang secara optimal sebagai individu dan warga negara yang berdaya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *