Kisah Perempuan Pembela HAM

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Cirebon – Langkah-langkah kecil mendecak harapan yang bergemerisik di atas kerikil halaman Episode Kopi pada Sabtu, 29 Novemeber 2025. Malam itu, udara lembap Cirebon perlahan terhangatkan oleh perbincangan serius tapi akrab. Pada hari kelima peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP), Episode Kopi kembali menjadi ruang yang menghidupkan perjumpaan dalam agenda Women Human Right Defender (WHRD). 

Orang-orang datang satu per satu, merapatkan langkah, dan mengambil tempat duduk di kursi-kursi yang melingkar tersusun menghadap panggung kecil. Semuanya hadir untuk satu alasan, mendengarkan Cici Situmorang, pegiat komunitas dan pendiri Inspiration House.

Cahaya kuning temaram dari lampu-lampu gantung memantul pada gelas-gelas minuman yang tersusun di tujuh meja penanda lingkar diskusi. Masing-masing gelas seolah menjadi saksi bisu konsentrasi para peserta yang duduk menghadap depan, khidmat, seolah menghadap kiblat pengetahuan. Di tengah lingkar itu, Cici duduk bersama Preasetyo Aditya. Pria yang akrab tersapa Bondit terdapuk sebagai moderator diskusi membawa tubuhnya yang penuh luka, keberanian, dan keteguhan.

Bondit membuka diskusi dengan sapaan ramah, lalu Cici mulai bicara. Suaranya tegas, sedikit bergetar karena kesadaran bahwa apa yang ia bawa malam itu bukan sekadar cerita, melainkan pergerakan yang sudah lama ia hidupi. Ia memulai dengan doa atas duka yang sedang terjadi di Sumatera. Tanah kelahirannya, tanah yang baginya selalu menjadi rumah yang rumit untuk dipanggil rumah.

Masalah Identitas

Dalam diskusi malam itu, dengan jelas bagaimana Cici menyebut diri sebagai perempuan dari Sumatera adalah hal yang “tricky”. Berulang kali ia mengalami hambatan hanya karena identitasnya. Mulai dari tertuduh melakukan kristenisasi, menghasut masyarakat, hingga teranggap membawa “bahaya” ke lingkungan tempat ia mengabdikan diri sebagai pendidik dan pekerja sosial.

Baca Lainya  Opening Kampanye #16HAKTP Paham Perempuan: Bedah Buku dan Malam Puisi

Perjalanannya di Cirebon pun tak sepenuhnya mulus. Sebagai perempuan minoritas, ia harus menghadapi stigma yang merentang panjang. Namun malam itu, Cici tak datang untuk meratapi luka. Ia datang untuk menyebarkan semangat yang membuatnya tetap bergerak. 

“Saya menjalankan ini tanpa khawatir soal bayaran,” ujarnya. “Saya hanya menanamkan energi positif untuk terus berjalan.” Kalimat itu terucap lantang, mengalir dari orang yang tahu betapa mahalnya harga keberanian di lingkungan yang sering kali tak ramah.

Tak lama setelah itu, para peserta mulai semakin condong mendekat dengan tubuh, tatapan, dan kesediaan untuk mendengar. Mereka seperti ingin menangkap hembusan semangat dari sosok perempuan yang berjuang dalam lapis-lapis diskriminasi yang seolah tak pernah selesai.

Dari Luka Menjadi Rumah

Ketika mendapat pertanyaan mengapa ia mendirikan Inspiration House, Cici menarik napas sejenak. Perjalanan ia mulai saat masih kuliah di Semarang. Ia pernah bergabung di Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) dan bergaul dekat dengan mahasiswa HMI, dua organisasi yang sering teranggap bertolak belakang. 

Ia memulai gerakan kecil mengadvokasi orang-orang termarjinalkan. Anak jalanan, pengamen, dan anak-anak terlantar. Namun perjuangan itu tidak tanpa risiko. Di kampusnya sendiri ia pernah mendapat tuduhan melakukan kristenisasi. Tuduhan itu sempat mengguncang hidupnya selama tiga tahun. Namun, justru dari situlah Inspiration House tumbuh.

“Saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan berbeda. Namun inilah pemberiannya,” ujarnya tegas di depan para peserta malam itu. Dan dari perbedaan itulah ia membangun rumah edukasi nonformal yang kini telah menghasilkan berbagai program seperti Cilik-cilik Kenal Gusdur, Cilik-cilik Anti Korupsi, dan kegiatan-kegiatan edukatif lainnya yang menanamkan nilai kemanusiaan bagi anak-anak telantar.

Sebagai perempuan Batak, Cici menyebut bahwa perempuan masih teranggap tidak bernilai dalam beberapa struktur kebudayaan yang ia alami. Ia sering mendapat pertanyaan tentang pernikahan, teranggap berbeda karena intonasi bicaranya, hingga beberapa kali mendapat ancaman verbal. Namun Cici tidak mengendur. “Sekalipun harus bersinggungan dengan orang berpengaruh, saya tidak peduli,” katanya.

Baca Lainya  Gandeng Nisa.co.id, Taman Wacana Adakan Diskusi Bertemakan: Kebebasan Berpendapat

Ia pernah mendapat tentangan kampus tempat ia mengajar dan berperan sebagai humas, sebuah pengalaman yang membuatnya menyadari bahwa berbicara kebenaran tidak selalu sejalan dengan kepentingan institusi. Namun ia tidak pernah menempatkan uang sebagai tujuan.  “Ada banyak cara lain bagi manusia, khususnya perempuan, untuk berdaya,” katanya dalam sesi tanya jawab.

Gen Z dan Ruang

Cici, yang kini memasuki usia 30 tahun, berkali-kali menyebut betapa ia bersyukur memiliki orang tua yang begitu terbuka. Didikan itu pula yang membuatnya memahami persoalan generasi masa kini. “Permasalahan hari ini, khususnya di kalangan Gen Z, hanya satu: mereka butuh ruang,” ungkapnya dalam diskusi. Ruang untuk terdengar dengan hati; ruang untuk bergerak dalam dimensi sosial tanpa terbatasi stereotipe; ruang untuk jujur menjadi diri sendiri.

Cici selalu memposisikan diri sebagai teman bagi siapa pun, terutama mahasiswa yang ia ajar. Relasinya sebagai dosen tidak menghalangi kedekatan humanis itu. Luka-lukanya mengajarkannya bagaimana ia harus memperlakukan orang lain: dengan empati, dengan keterbukaan, dan dengan kesediaan untuk mendengar.

Namun ada satu hal yang masih menjadi tantangan baginya untuk berkata “tidak”. Ia mengaku, untuk perempuan yang tumbuh dalam budaya penuh tuntutan gender, menolak ajakan atau ekspektasi tertentu, terutama antara laki-laki dan Perempuan adalah hal yang sulit. 

Ia bercerita tentang pribadinya yang tidak bisa memasak, sebuah fakta sederhana yang justru membuatnya sering tertuntut untuk “belajar menjadi perempuan seutuhnya”. Ia merespons tuntutan itu bukan dengan kemarahan, tetapi dengan obrolan dua arah, pendekatan humanis, dan keberanian untuk meruntuhkan asumsi secara pelan-pelan .

Ketika mendapat pertanyaan bagaimana ia menjaga ketangguhan itu agar bisa terwariskan kepada generasi berikutnya, Cici kembali kepada prinsip awalnya, “keterbukaan”. Baginya, memahami konteks generasi adalah kunci agar pesan dapat siapapun terima.  “Harapan adalah privilege di tengah dunia dan negara yang menggerus harapan,” ungkapnya. Karena itu, setiap tindakan kecil yang menciptakan ruang aman adalah bentuk perlawanan.

Baca Lainya  Haid Panjang dan Solusi Kesehatan Lebih Baik

Pada sesi akhir, seorang peserta bertanya: Jika Tuhan memiliki gender, bagaimana pandangan Mbak Cici?”, Pertanyaan itu membuat ruangan hening. Cici lalu menjawab, “Tuhan, jika dieksistensikan, adalah bapak. Maskulin. Tapi maskulin yang saya maksud adalah kasih sayang kepada anaknya. Bukan maskulin yang macho atau patriarkis.” Baginya, Tuhan adalah perlindungan. pelindung yang membuatnya mampu bertahan hingga kini .

Menjadi penutup sesi, sebuah pernyataan datang menghangatkan ruangan malam itu: “Eksistensi kita sebagai manusia adalah untuk bergerak dan berdampak.” Dan dari halaman kecil Episode Kopi yang berkerikil itulah, gema perlawanan itu kembali dipantulkan ke dunia melalui seorang perempuan yang terus memilih untuk menyala.[]

Penulis: Raihan Athaya Mustafa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *