Kegiatan Selasar Menulis Skenario dalam Rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Cirebon Kegiatan Selasar Menulis Skenario merupakan bagian dari rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Kegiatan ini terselenggarakan oleh Ruang Perempuan EPS bekerja sama dengan Paham Perempuan, Mèrtika, dan Gusdurian Cirebon. Berlangsung pada Rabu, 26 November 2025. Acara ini menjadi ruang belajar intensif mengenai proses penulisan skenario, serta wadah bertukar gagasan tentang penciptaan karya audio visual yang berakar pada nilai kemanusiaan.

Pemateri menegaskan bahwa menulis skenario tidak dapat dilakukan dengan menabrakkan ide begitu saja. Sudut pandang penulis harus menyatu dengan perspektif penonton. Karakter tidak boleh berdiri sebagai nama di atas kertas, tetapi harus hidup melalui alur dan konflik yang masuk akal. Film bergenre horor komedi teranggap sebagai salah satu yang paling sulit, karena menuntut kemampuan membangkitkan rasa takut dan tawa secara bersamaan.

Pemahanan skenario sebagai rambu yang mengawal imajinasi menuju wujud visual. Tulisan menjadi dasar sebuah film, dan penulis memiliki tanggung jawab menciptakan struktur cerita yang jelas. Segmentasi penonton harus tahu dengan rinci, sebab media yang berbeda memiliki tujuan yang tidak sama.

Televisi masih berperan penting bagi masyarakat di pelosok, meskipun tayangannya sering ternilai kurang berbobot. Bioskop menuntut kualitas karena penonton datang dengan pilihan dan kesadaran penuh. Sementara platform digital dan layanan streaming menghadirkan perubahan besar dalam industri pertelevisian di Indonesia.

Menghidupkan Cerita

Materi juga menyoroti pentingnya menyusun karakter yang kuat dan unik. Penokohan protagonis di televisi biasanya harus jelas antara baik dan buruk, tanpa ruang abu-abu. Bahasa yang terpakai dalam skenario harus mudah orang pahami, dialog harus mengalir alami, dan tidak berlebihan.

Penulis skenario perlu berani berimajinasi, tetapi tetap memegang aturan penulisan dan regulasi penyiaran. Sebagai contoh, pemateri pernah mendapat tawaran menulis kisah nyata seorang hafizah bernama Jasmin, sambil menyesuaikan naskah dengan batasan konten yang berlaku.

Baca Lainya  Dari Dapur ke Ruang Komunal: Eco Enzyme di Hari ke-14 HAKTP

Unsur penting dalam skenario mesti jelas sedari dari premis sebagai benang merah cerita, sinopsis sebagai rangkuman keseluruhan, sceneplot yang memecah sinopsis menjadi adegan, hingga draf sebagai pengembangan teknisnya. Penekanan pada set area dan karakter sebagai fondasi visual untuk menghidupkan cerita.

Acara berjalan hangat dan reflektif. Pemateri mengajak peserta untuk terus menulis, tanpa takut salah, karena proses membaca dan revisi akan menuntun sebuah naskah menemukan bentuk terbaiknya. Menulis skenario terpahami sebagai kerja pengetahuan dan keberanian, sebuah usaha merawat kesadaran publik melalui cerita.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *