Perbedaan vibes (citra) yang terpancar dari anak Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) yang mengenakan kemeja rapi dan anak Fakultas Ilmu Tarbiyah (FIT) yang berbusana syar’i bukanlah sekadar masalah kain dan potongan. Kontras ini cerminan dua pendekatan yang berbeda terhadap cara memandang penampilan (fesyen), identitas, dan peran individu di tengah masyarakat. Perbandingan antara kemeja rapi yang mahasiswa FEBI kenakan dan busana syar’i mahasiswa FIT menyingkap lapis-lapis nilai, tuntutan sosial, dan ekspresi diri yang mendasarinya.
Meski keduanya sama-sama memiliki fesyen sopan dan tertutup, secara kasat mata keduanya memancarkan “vibes” sangat berbeda. Perbedaan ini terlihat dari berbagai aspek seperti pilihan fesyen hingga nilai yang ingin mereka tampilkan. Mahasiswa FEBI biasanya menggunakan kemeja linen atau polos dengan celana cino. Sedangkan bagi mahasiswi, paduannya biasa menggunakan blus atau blazer rapi dan sopan. Serta kerap terpadukan dengan pasmina berbagai model yang rapi dan sopan, dan memadukannya dengan sneakers.
Anak FEBI menggunakan kemeja yang rapi identik dengan tampilan modern, profesional, dan elegan. Hal ini karena next destination mereka adalah kantor, bank, atau entrepreneur. Dengan begitu, mereka berpakaian demikian sebagai latihan awal agar terbiasa dengan tuntutan dunia kerja. Serta membangun personal branding, kesiapan, dan keseriusan dalam dunia kerja.
Di lingkungan ini juga anak FEBI tertuntut untuk profesionalisme, kesiapanan bersaing di ruang publik, dan citra diri sebagai modal utama. Maka gaya kemeja yang rapi seperti itu ibaratnya simulasi dengan dressscode kantor, atau untuk menghadiri pertemuan yang penting di kantor supaya terbiasa.
Memakai fesyen profesional seperti itu juga melatih mereka untuk selalu siap dalam wawancara, rapat, dan presentasi. Kemudian, di fakultas ini gaya kemerja bersifat fleksibel supaya bisa beradaptasi dengan tren fesyen. Dengan demikian, mahasiswa bisa terlihat stylish serta berpenampilan sopan tanpa kehilangan kesan formal. Pun agar banyak terlirik oleh perusahaan setelah lulus dari kuliah karena personal branding yang mereka miliki.
Keteladanan Moral dan Kedalaman Adab
Sedangkan anak FIT menggunakan busana syar’i yang berciri pakaian yang longgar (tidak membentuk lekuk tubuh), tebal (tidak transparan), berwarna lembut dan panjang, serta sering terpadukan dengan flatshoes. Untuk mahasiswa bisa juga menggunakan kemeja yang longgar dan ti dak boleh memakai celana jin karena terlalu ketat dan kurang sopan. Sedangkan mahasiswi biasa menggunakan gamis atau abaya serta balutan jilbab yang menutup dada dan menutup punggung seperti khimar. Kemudian bagi mahasiswi harus selalu menggunakan rok panjang atau bisa juga dengan perpaduan tunik,karena tidak boleh memakai celana panjang.
Anak FIT menggunakan busana seperti itu karena seringkali terpandang sebagai teladan moral di kampus. Gaya berpakaian syar’i juga menjadi perwujudan tanggung jawab moral karena memperkuat citra seorang pendidik muslim yang menjaga kesopanan dan teladan baik. Vibes yang gaya ini hasilkan adalah tenang, lembut, religius, dan berwibawa. Serta menampilkan kesan pribadi yang berhati-hati dalam bersikap dan berinteraksi dengan calon peserta didik.
Penampilan syar’i seperti itu mendukung mereka untuk berperan sebagai calon guru, pendidik agama, dan tokoh masyarakat yang menjunjung tinggi adab dan kesantunan. Dengan busana syar’i mereka menjaga marwah diri dan profesi untuk memberikan contoh kepada orang sekitar. Meskipun gaya busana sederhana dan tertutup, mereka merasa lebih nyaman dan tenang karena meminimalkan perhatian dari lawan jenis. Serta gaya busana seperti itu terancang agar tetap nyaman dan praktis untuk aktivitas sehari hari, sambil tetap mempertahankan aspek kesantunan dan sebagai calon pendidik.
Pakaian sebagai Alat Komunikasi Non-Verbal
Menariknya, meskipun mempunyai vibes berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menampilkan citra diri yang baik dan positif. Anak FEBI ingin menunjukkan bahwa mereka mampu tampil profesional dan berwawasan luas. Sementara anak FIT ingin menampilkan bahwa mereka berakhlak baik dan sopan. Mahasiswa FEBI memandang pakaian sebagai investasi profesional atau sebuah alat komunikasi non verbal yang menyampaikan kesiapan mereka untuk bernegosiasi dan memimpin. Serta mencerminkan semangat profesionalisme dalam dunia modern.
Sebaliknya, mahasiswa FIT berbusana syar’i karena sebuah komitmen untuk menjadi teladan yang baik dan calon guru atau pendidik serta untuk menaati syariat dan peraturan yang ada di kampus. Kemudian juga menggambarkan keteguhan moral dalam kehidupan akademik. Pada akhirnya, baik kemeja rapi maupun busana syar’i adalah seragam identitas yang tak terucapkan. Keduanya mewakili upaya yang tulus untuk menyesuaikan diri dengan bidang ilmu yang mereka pelajari sekaligus menegaskan peran dan nilai yang ingin mereka bawa ke tengah masyarakat.
Keduanya memperkaya warna kehidupan kampus, menunjukkan bahwa keberagaman ekspresi diri dapat hidup berdampingan dalam harmoni, walaupun harus terlandasi dengan rasa saling menghormati dan menghargai. Intinya, mahasiswa FEBI memakai kemeja rapi karena dunia yang mereka tuju menuntut kerapian dan citra. Sementara anak FIT memakai busana syar’i karena profesi di masa depan yang mereka geluti menuntut kesantunan dan ketaatan kepada para calon peserta didik. Keduanya punya alasan yang kuat dan valid. Kampus menjadi keren karena ada keberagaman identitas seperti ini.[]

