It’s Okay Not to Be Okay: Keberanian Merasa dan Tidak Baik-Baik Saja

“It’s okay to not be okay. It’s okay to cry. You’re not weak for feeling.” Ucapan Moon-young kepada Gang-tae ini bukan hanya sekadar kalimat penghibur, melainkan sapaan lembut bagi jiwa yang terlalu lama menahan air mata. Kalimat sederhana yang menjadi benang merah dari drama It’s Okay Not to Be Okay. Kalimat terdengar seperti pengakuan bahwa tak…

Baca Lengkapnya

Rekonstruksi Diri: Membedah Kaitan Trauma Masa Lalu dan Beban Ekspektasi

Pernahkah Anda merasa lelah luar biasa, padahal secara fisik Anda tidak sedang melakukan aktivitas berat? Rasa lelah itu sering bukan berasal dari otot yang bekerja terlalu keras, melainkan dari pikiran yang tak henti mengejar standar kesempurnaan. Dalam buku fenomenal What’s So Wrong About Your Trauma & Expectation (2024) karya Ardhi Mohamad, Esther Lubis mengajak kita menyelami…

Baca Lengkapnya

Membuka Stereotipe Baru Perempuan Masa Lampau

Historiografi Perempuan Mataram (2025) berhasil membuka perspektif baru mengenai peran dan posisi perempuan masa lampau. Perempuan yang acap kali mendapat stereotipe negatif. Sri Lestari bersama rekan-rekannya dalam buku ini menawarkan beberapa pandangan baru dari hasil studinya baru-baru ini. Uniknya, para penulis, membuka perspektif tidak hanya dari satu sudut pandang yang kaku. Lestari, dkk. menyuguhkan—selain dari perspektif…

Baca Lengkapnya
Faqihuddin Abdul Kodir

Menghidupkan Fikih Keluarga

“Air susu istri yang disusukan kepada sang bayi adalah kewajiban suami, sehingga istri berhak menuntut bayaran kepada suaminya.” (Halaman 138, Bab VI: Dimensi Akhlak dalam Kehidupan Relasi Pasangan Suami Istri) Kalimat di atas benar-benar seperti tamparan yang menyadarkan, mengoyak narasi-narasi konvensional tentang fikih keluarga yang selama ini menimbulkan kesenjangan (teriringi lagu Just a Friend to…

Baca Lengkapnya
Film Sore

Bayang Ilusi dan Kekuatan Trauma dalam Film Sore

Ada beberapa hal yang bagus dan tidak bagus dalam film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) garapan Yandy Laurens. Adegan “Hai, saya Sore, istri kamu dari masa depan,” berulang-ulang. Bagi sebagian penonton (mungkin), saya khususnya, adegan itu membikin bosan. Namun, tulisan ini tak bakal mengupas Sore secara teknis, melain berusaha menyoroti bagaimana hal-hal lain yang melatarinya. Sejenak agak melipir,…

Baca Lengkapnya
Nyi Sadikem

Nyi Sadikem: Gowok dan Simbol Perlawanan

Artie Ahmad mengawali alur kisah dalam novelnya Nyi Sadikem (2025) dengan menampilkan nuansa kolonial yang erat kaitannya dengan jual-beli perempuan untuk dijadikan sebagai gundik. Ekonomi yang sulit, mendorong para orang tua untuk menjual anak perempuannya kepada para Landha. Dari sebuah desa, terkisahkan seorang bapak melarat menjual anaknya seharga sekian ratus gulden. Ia hanya gadis muda, cukup cantik, dan…

Baca Lengkapnya

Nyanyian Sunyi: Asmara dan Realita

Kehidupan khas pedesaan tertampilkan secara apik oleh Mahfud Ikhwan. Berlatar perkampungan bernama Rumbuk Randu, desa yang ‘konon’ memiliki banyak kisah kelam dari pasangan ganjil Mat Dawuk dan Inayatun. Menjadi sentral pengisahan yang oleh Warto Kemplung ceritakan.  Selain menyoroti pasangan ganjil yang aneh itu, gambaran pedesaan di novel-novel umunya kerap kali terabadikan dengan nuansa tenteram, tenang,…

Baca Lengkapnya

Derita Suratan Perempuan: Menjenguk Cerpen-Cerpen Ahmad Tohari

Kehadiran tokoh dalam cerita sama pentingnya akan kebutuhan manusia terhadap oksigen. Tokoh menjadi titik nadi bergerak atau tidaknya sebuah cerita, termasuk dalam cerita pendek (cerpen) dan karya sastra lainnya. Bahkan, wujud tokoh bisa mengenangkan pembaca pada penciptanya, penulisnya.  Manakala pernah membaca cerita pendek bertokoh Alina atau Sukab, ingatan kita bakal segera terlempar pada Seno Gumira…

Baca Lengkapnya

Jangan Salah Pasangan, Seumur Hidup itu Lama

Dunia perfilman Indonesia mengenai kesehatan mental semakin melimpah. Persaingan di dalamnya amat ketat, tertambah perkara-perkara sosial yang kian memprihatinkan sehingga menginspirasi pembuatan film. Oleh karena itu, pegiat dunia film ingin menguak realitas sosial yang bertujuan sebagai pembelajaran atau renungan bagi sesama. Selain itu, pemilihan aktor adalah poin utama pemasaran agar mendapatkan rating tinggi, walhasil sutradara…

Baca Lengkapnya