Berteman dengan Beta Woman (2)

Sumber Gambar: inet.detik.com

Pascaberkenalan dengan Alpha Female, tulisan ini kembali mengajak pembaca untuk bersua dengan istilah gen Alpha lainnya. Spesifik mengenai corak kepribadian perempuan selanjutnya, yakni Beta Woman atau Beta Female. Berkaca pada Freud (2002) kepribadian sebagai struktur yang terdiri dari tiga komponen yaitu id, ego, dan superego menjelaskan mengenai tingkah laku sebagai suatu hasil dari konflik serta rekonsiliasi ketiga komponen kepribadian seseorang.

Sederhananya, kepribadian menjadi hal unik yang oleh setiap orang miliki dan terdiri dari tiga macam komponen di atas. Kepribadian manusia menjadi kompleks karena memiliki lebih dari satu komponen.

Id menjadi komponen sejak lahir yang menginginkan naluriah dan bersifat orisinil. Ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan id dapat terekspresikan dengan cara yang dapat di dunia nyata (realistis) terima. Sedangkan superego menekankan pada penilaian-penilaian tentang moral atau hukum yang memilah apakah tindakan yang baik atau buruk, benar atau salah.

Komponen-komponen tersebutlah yang bekerja sama untuk membentuk perilaku manusia yang berbeda. Kembali pada personalnya lebih kuat mana mengemas antara id, ego, atau superego. Dengan demikian, muncul ragam kepribadian manusia baik laki-laki maupun perempuan masa kini dengan istilah alpha, beta, sigma, gamma, omega, dan delta female maupun male.

Sejatinya keenam kepribadian tersebut tidak hanya terperuntukkan bagi perempuan, tetapi juga laki-laki, sehingga anggapan kepribadian yang terdominasi female tersebut tidak melulu benar. Pun dengan sebutan beta male.

Tonjola Sikap

Beta female atau beta male berbeda dengan tipe alpha, seseorang dengan kepribadian beta cenderung memilih bekerja di balik layar dan tidak ingin menonjolkan pribadinya di depan umum. Kekhasan yang timbul dari perempuan beta menunjukkan adanya sikap lebih menghargai terhadap sesama. Bukan berarti perempuan alpha tidak menghargai, tetapi beta lebih menonjolkan rasa kasih, perhatian, dan penyayang terhadap orang lain. Rasa empati yang tinggi mengarahkan pada sifat suka menolong, kalem, mudah berteman dan bukan tipikal orang yang suka mendominasi.

Baca Lainya  Pendidikan bagi Perempuan: Membangun Masyarakat Adil dan Setara

Bahkan beta tercap sebagai pribadi yang introver tapi baik hati. Saking baiknya, kerap kali menjadi kelemahan untuk dimanfaatkan orang lain. Ketidakmampuan pribadinya untuk “menolak” tidak membantu menjadikan ia pribadi yang ringan tangan, sehingga momen-momen semacam ini yang orang lain lakukan untuk mengambil keuntungan darinya.

Sikap yang terlalu baik tersebut acap kali ia dipandang lemah oleh sebagian orang. Tertambah lagi dengan sifatnya yang mudah mengikuti arus membuatnya terpaksa masuk ke dalam lingkungan yang sebenarnya tidak ia sukai. Hal ini yang menyebabkan perempuan-perempuan dengan tipe beta female tidak memiliki ketegasan pada pribadinya sendiri karena terdominasi oleh rasa tidak enak dan mementingkan perasaan orang lain.

Meskipun sejatinya, kebaikan yang ia lakukan memiliki makna baik yang tersembunyi yaitu dengan berusaha menghindari konflik dan menyesuaikan diri. Memilih mundur dari hal-hal yang memicu perselisihan daripada memperkeruh masalah.

Beragam sifat dari beta female di atas, baik kelebihan dan kelemahan memberikan refleksi pada masing-masing perempuan untuk mengenali lebih dalam kepribadian yang mereka miliki. Pengenalan mendalam tidak terlepas dari konsep psikologi salah satunya yang Freud gagas tergambarkan melalui id, ego, dan superego.

Potret corak kepribadian seseorang, perempuan maupun laki-laki menegaskan tentang “inilah saya” atau “siapa dirinya” baik sadar atau tidak, pascamemahami karakter yang termiliknya sehingga dapat membuat hidup menjadi lebih menarik atau justru semakin sulit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *