Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata. Ada bahasa yang lebih halus, lebih spontan, dan sering kali lebih jujur: bahasa visual. Salah satu bentuk bahasa visual yang paling kuat adalah pakaian. Bagi banyak perempuan, pakaian bukan sekadar penutup tubuh, melainkan media untuk berbicara tentang siapa mereka, apa yang mereka yakini, dan bagaimana mereka ingin mendapat perlakuan. Pakaian menjadi semacam “teks” yang oleh masyarakat baca, entah secara sadar atau tidak. Karena itu, pilihan pakaian perempuan selalu memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar warna dan potongan.
Sejak dulu hingga sekarang, pakaian perempuan berada di persimpangan antara norma budaya, ekspektasi sosial, dan ekspresi pribadi. Seorang perempuan mungkin memilih pakaian tertentu karena ingin menunjukkan profesionalitas, merasa nyaman, menunjukkan identitas budaya, atau mengekspresikan kreativitasnya. Di sisi lain, masyarakat sering memberi makna tambahan pada pakaian tersebut, bahkan terkadang menyalahartikan pesan yang ingin tersampaikan. Karena itu, pembahasan tentang pakaian perempuan bukan sekadar soal fashion; ia adalah masalah komunikasi, identitas, dan relasi sosial.
Pakaian juga menjadi bagian penting dari pembentukan identitas. Seorang perempuan yang memilih memakai hijab, misalnya, sedang menyampaikan pesan tentang nilai-nilai yang ia pegang: kesopanan, keyakinan religius, atau komitmen spiritual. Namun, hijab juga bisa menjadi simbol kekuatan, representasi budaya, atau bahkan bentuk pemberdayaan diri. Dalam beberapa kasus, perempuan berhijab ingin menunjukkan bahwa mereka mampu berprestasi tanpa harus melepaskannnya sebagai identitas keagamaan. Mereka ingin mengatakan bahwa intelektualitas, kompetensi, dan kontribusi sosial tidak pernah terbatasi oleh kain yang menutupi rambut.
Ruang Aman
Di luar konteks keagamaan, pakaian juga menjadi sarana bagi perempuan untuk membangun ruang aman bagi diri sendiri. Ada perempuan yang memilih pakaian longgar untuk merasa lebih bebas bergerak. Sementara ada yang memilih pakaian berwarna cerah untuk membawa energi positif. Pun ada yang memilih gaya minimalis karena merasa lebih tenang dan tidak suka banyak perhatian. Setiap pilihan itu adalah bahasa. Ketika seorang perempuan memilih pakaian bernuansa hitam, mungkin ia sedang ingin terlihat lebih dewasa atau sedang ingin memberikan kesan tegas. Sebaliknya, pilihan warna pastel bisa menyampaikan kelembutan atau suasana hati yang lebih ringan.
Di era modern, pakaian perempuan juga berubah menjadi alat ekspresi yang terhubung dengan platform digital. Media sosial seperti Instagram, TikTok, atau Pinterest telah membuka ruang luas bagi perempuan untuk menampilkan gaya pribadi tanpa harus mengikuti standar kecantikan tradisional. Banyak perempuan yang justru menemukan kepercayaan diri setelah berani mengekspresikan diri melalui pakaian. Fashion influencer, misalnya, berbicara bukan hanya melalui caption, tetapi melalui gaya yang mereka tampilkan. Mereka membangun “narasi visual” yang mudah terpahami oleh jutaan orang.
Namun, tidak bisa terpungkiri bahwa pakaian perempuan juga sering menjadi objek penilaian yang tidak adil. Masyarakat kerap memberi standar ganda: ketika perempuan berpakaian terlalu tertutup, dia teranggap konservatif; ketika berpakaian terlalu terbuka, dia teranggap tidak sopan. Bahkan dalam konteks budaya tertentu, pakaian masih sering menjadi indikator moralitas. Padahal, pakaian hanyalah salah satu bagian dari ekspresi diri, bukan ukuran harga diri atau kualitas moral seseorang. Dalam banyak kasus, komentar tentang pakaian perempuan muncul bukan karena pakaian itu sendiri, melainkan karena budaya patriarki yang masih kuat menilai perempuan dari tampilan luar.
Kuasa Identitas
Di sisi lain, pakaian dapat menjadi sarana perempuan untuk mengambil kembali kontrol atas tubuhnya. Ketika seorang perempuan memutuskan gaya pakaian tertentu tanpa memikirkan standar yang masyarakat paksakan, dia sedang melakukan bentuk kecil dari perlawanan. Perlawanan itu bisa sesederhana memilih pakaian yang membuatnya nyaman, meski tidak sesuai selera orang lain. Atau bisa juga dalam bentuk memilih pakaian yang mencerminkan dirinya sendiri, bukan sekadar mengikuti tren.
Selain itu, pakaian juga dapat menciptakan ruang untuk solidaritas antara perempuan. Gerakan-gerakan global seperti “Modest Fashion”, “Body Positivity”, atau “Hijab Revolution” menunjukkan bagaimana pakaian bisa menjadi simbol perjuangan bersama. Pakaian bukan lagi hanya persoalan individu, tetapi juga sarana untuk berbicara tentang kebebasan, penghargaan tubuh, dan keadilan sosial. Ketika perempuan saling mendukung dalam ruang ini, mereka memperluas makna pakaian sebagai bentuk bahasa yang memperjuangkan martabat dan hak-hak mereka.
Dalam konteks profesional, pakaian perempuan bahkan bisa memengaruhi persepsi orang terhadap kemampuan mereka. Banyak perempuan merasa harus berpakaian lebih formal atau “lebih rapi” demi dianggap kompeten. Padahal, laki-laki sering bebas dari tekanan yang sama. Ini menunjukkan bahwa pakaian perempuan tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga medan perjuangan. Perempuan sering harus mempertimbangkan bagaimana tampil cukup tegas agar mendapat penghormatan, tapi tetap “feminim” agar tidak teranggap terlalu agresif. Situasi ini menunjukkan bahwa bahasa pakaian perempuan sering diintervensi oleh tuntutan sosial yang rumit.
Representasi Bahasa
Meski begitu, perkembangan zaman menunjukkan adanya perubahan positif. Makin banyak perempuan yang berani tampil sesuai jati diri, terlepas dari komentar dan standar masyarakat. Makin banyak pula ruang yang menghargai keunikan perempuan dalam berbusana. Kini, perempuan tidak lagi harus memilih antara mengikuti aturan sosial atau menjadi diri sendiri; mereka bisa menciptakan gaya yang merepresentasikan keduanya. Pakaian menjadi bahasa yang fleksibel, kreatif, dan berlapis. Ia berbicara tentang kepribadian, suasana hati, prinsip hidup, dan bahkan cita-cita.
Pada akhirnya, pakaian perempuan adalah pesan yang hidup. Kadang ia berbicara tentang kekuatan, kadang tentang kesederhanaan, kadang tentang keyakinan, dan kadang tentang kebebasan. Yang penting adalah bagaimana perempuan diberikan ruang untuk memilih bahasanya sendiri—tanpa tekanan, tanpa penilaian berlebihan, dan tanpa harus memenuhi ekspektasi orang lain. Karena pada akhirnya, pakaian bukan hanya tentang apa yang terlihat dari luar, tetapi tentang bagaimana perempuan merasa di dalam dirinya sendiri.[]

