Kompor Bukan Kodrat

Sumber Gambar: istockphoto.com

Ada ironi yang sangat mencolok dalam cara kita memandang dapur. Ketika seorang pria membawa piring masakan buatan sendiri ke meja makan, seisi ruangan serempak kagum. Namun ketika seorang perempuan mengaku tidak pandai memasak, desis penilaian langsung mengudara pertanyaan basa-basi berubah jadi sidang kecil. “Gimana nanti urus suami?” seolah-olah kompor adalah takdir yang hanya berlaku satu arah.

Bahkan saya sendiri mengalami, ketika saya mengaku tidak lihai urusan dapur makian yang seenaknya keluar dari mulut tante saya yang juga seorang perempuan. Sedangkan ketika abang pertama saya bisa memasak pujian yang berlebihan dia sampaikan. Akan tetapi, abang kedua saya juga mengaku tidak pandai memasak hanya dia biarkan, bahkan dia maklumi dengan kalimat “lelaki memang tidak harus jago urusan dapur”.

Tiga orang satu rumah, tiga perlakuan yang sama sekali berbeda, hanya karena jenis kelamin yang berbeda. Yang lebih mengejutkan: penghakiman itu datang dari sesama perempuan. Artinya, standar ganda ini bukan hanya menerap dari luar, ia sudah terinternalisasi, bahkan oleh mereka yang paling terdampak.

Dapur, Warisan Budaya yang Salah Kaprah

Fenomena ini mungkin terasa sepele, bahkan sering teranggap bercanda di media sosial. Namun jika kita amati lebih dalam, ada persoalan serius tentang standar ganda (double standard) dalam masyarakat kita. Mengapa laki-laki yang bisa memasak teranggap “hebat”, sementara perempuan yang tidak bisa memasak justru terpandang “tidak berguna”?  

Ini bukan soal masak-memasak. Ini soal siapa yang mendapat izin memiliki kemampuan sebagai pencapaian, dan siapa yang teranggap wajib memilikinya sebagai kewajiban kodrat.

Standar ganda ini bukan lahir kemarin sore. Ia berakar dari sistem sosial yang sudah berabad-abad menempatkan perempuan semata-mata sebagai pengelola rumah tangga. Dalam budaya Jawa misalnya, masyhur ungkapan bahwa tugas perempuan hanyalah macak, manak, dan masak. Berdandan, melahirkan, dan memasak. Dapur bukan sekadar ruangan; ia adalah simbol dari batas yang masyarakat tetapkan untuk perempuan.

Baca Lainya  Filter dan Kepercayaan Diri Perempuan

Maka ketika perempuan tidak memenuhi ekspektasi itu, masyarakat menganggapya gagal. Sebaliknya, laki-laki tidak pernah terbebani ekspektasi yang sama sehingga ketika ia memasak, itu terasa seperti bonus. Sebuah nilai lebih yang layak teragung-agungkan. 

Data dari Badan Pusat Statistik (2023) menunjukkan bahwa sekitar 80% pekerjaan rumah tangga di Indonesia masih oleh perempuan lakukan. Angka ini bukan hanya soal kebiasaan, melainkan cerminan dari ekspektasi yang mengakar begitu dalam hingga terasa seperti “kodrat.”

Padahal jika kita mau jujur, memasak adalah keterampilan hidup bukan warisan biologis yang terwariskan lewat kromosom X. Ia setara dengan kemampuan mencuci, memperbaiki sesuatu yang rusak, atau mengelola keuangan pribadi. Semua orang perlu bisa hidup mandiri, tanpa memandang jenis kelamin. Ketika masyarakat menjadikan kemampuan memasak sebagai tolok ukur keperempuanan seseorang, kita tidak sedang berbicara soal keterampilan tetapi kita sedang bicara soal kontrol.

Pujian yang Tidak Setara, Hukuman yang Tidak Adil

Ada sesuatu yang perlu kita renungkan dari cara kita memuji laki-laki yang memasak. Pujian itu sebagian besar bukan lahir karena masakannya enak atau tekniknya mumpuni melainkan karena ia melakukan sesuatu yang tidak diharapkan darinya. Ia melampaui ekspektasi rendah yang masyarakat tetapkan. Artinya, kita secara tidak langsung mengakui bahwa standar untuk laki-laki adalah: tidak perlu bisa masak

Di sisi lain, perempuan yang tidak memasak dianggap melanggar sesuatu yang lebih dari sekadar norma sosial, ia dianggap melanggar identitasnya sebagai perempuan. Mansour Fakih dalam Analisa Gender dan Transformasi Sosial menyebut kondisi ini sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender: ketika ekspektasi berbeda diterapkan pada kemampuan yang pada dasarnya sama, dan perempuan yang tidak memenuhi ekspektasi itu menjadi target diskriminasi. 

Baca Lainya  Ruang Kemesraan Perempuan dan Kuliner

Yang lebih menyakitkan adalah ketika penghakiman itu datang bukan dari orang luar, melainkan dari sesama perempuan seperti yang saya alami sendiri. Ini menunjukkan betapa dalamnya internalisasi nilai-nilai patriarki bekerja: ia tidak hanya menekan dari atas, tapi juga menyebar ke dalam, membuat sesama perempuan menjadi pengawas satu sama lain tanpa sadar. Kurnianto (2016) menyebutkan bahwa stigma terhadap perempuan kerap datang dari berbagai arah dan membatasi ruang gerak perempuan termasuk dari kelompok perempuan itu sendiri.

Resep untuk Generasi yang Lebih Adil

Perubahan tidak harus dimulai dari kebijakan besar atau gerakan masif. Ia bisa dimulai dari hal paling sederhana: berhenti berkomentar soal kemampuan memasak seseorang seolah itu adalah ukuran nilai dirinya. Ketika kita berhenti melontarkan kalimat seperti “masa perempuan tidak bisa masak?” kepada seorang perempuan, kita sedang meruntuhkan satu batu kecil dari tembok ekspektasi yang sudah lama mengurung mereka.

Begitu pula sebaliknya hentikan pujian berlebihan kepada laki-laki hanya karena ia bisa menggoreng telur. Perlakukan memasak sebagai keterampilan biasa yang bisa dimiliki siapa saja, bukan sebagai prestasi eksklusif milik jenis kelamin tertentu. Ketika seorang anak laki-laki diajari memasak sejak kecil tanpa rasa malu, dan seorang anak perempuan tidak dihakimi jika ia lebih suka hal lain, di situlah kesetaraan sungguh dimulai, bukan di atas panggung, tapi di dapur rumah kita sendiri.

Kepada para perempuan yang tidak bisa memasak: kamu tidak kurang. Kamu tidak gagal. Kamu hanya belum atau memilih untuk tidak belajar suatu keterampilan dan itu sepenuhnya hakmu. Kepada siapa pun yang masih gemar menghakimi: mungkin sudah saatnya energi itu dialihkan ke cermin, bukan ke dapur orang lain.

Baca Lainya  Berkebaya di Hari Kartini

Dapur seharusnya menjadi ruang berbagi, bukan ruang penghakiman. Dan kesetaraan sejati bukan soal siapa yang berdiri di depan kompor tapi soal siapa yang bebas memilih untuk ada di sana.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *