Dewasa ini media sosial terasa seperti medan perang yang tak kunjung usai. Ketika satu isu mulai mencuat ke permukaan, terbelah dua kubu memenuhi kolom komentar yang saling menghujam satu sama lain. Tidak ada ruang antara, tidak ada keinginan untuk sekadar menimbang kacamata yang berbeda. Di sana terjadi dikotomi yang memenatkan “teman” atau “musuh”.
Kita acap kali menuding karakter dari individu yang buruk atau rendahnya tingkat literasi sebagai pemicu dari kegaduhan yang terjadi. Tetapi, ada penjelasan lebih dalam dan bersifat biologis di balik tabir fenomena ini. Media sosial kini beralih menjadi “renovasi paksa” terhadap arsitektur otak kita. Tanpa kita sadari, teknologi digital kini mulai memutus kabel-kabel empati yang seyogyanya menjadi jembatan antarmanusia.
Arsitektur Basah bukan Semen Kering
Sebelum membedel ke-chaos-an yang terjadi di linimasa, kita perlu belajar satu fakta mendasar bahwa otak manusia bukanlah semen yang mengeras, melainkan otak adalah arsitektur basah yang terus menerus berubah bentuk sesuai dengan informasi yang kita konsumsi. Dalam bahasa sains ini kita sebut neuroplastisin.
Artinya, otak kita bersifat sangat adaptif. Sehingga jika kita terus melatih sebuah potesi, jalur saraf akan mendukung potensi tersebut semakin menguat, menebal, dan menjadi “jalan tol” informasi yang efisien. Namun, otak juga memiliki prosedur pembersihan yang disebut synaptic pruning dimana saraf yang jarang digunakan akan dianggap sebagai beban, yang kemudian diputus koneksinya untuk dipindahkan ke tempat lain.
Di sinilah konflik sosial mulai. Media sosial tidak hanya berdiri sebagai platform komunikasi, tetapi ia adalah arsitek yang tiap hari memahat otak kita dalam struktur berfikir. Ia mengatur saraf mana yang tetap menyala, dan yang terbiarkan mati.
Algoritma: Penjara Pikiran yang Kita Bagun Sendiri
Dalam ranah benar dan salah, kita sering kali memiliki otoritas penuh dari sesuatu yang kita tonton atau baca. Padahal, kita sedang berada dalam penjara algoritma yang memiliki tujuan utama yaitu menjaga atensi kita agar tidak berpaling dari layar. Mekanisme yang dilakukan adalah dengan memberikan asupan kita mengenai informasi yang sejalan dengan keyakinan kita. Ini kemudian yang memunculkan fenomena echo chamber atau ruang gema.
Algoritma akan menunjukan hal-hal yang sejalan dengan sudut pandang kita. Perlahan tapi pasti, kita akan merasa bahwa satu dunia sepakat. Dalam neurosains, kondisi ini memunculkan Hukum Hebb “Neurons that fire together, wire together”. Sel saraf yang seragam akan membentuk simpul yang kuat. Jalur saraf untuk mendukung opini kita menjadi super cepat.
Namun, efisiensi ini memiliki harga yang mahal. Karena kita hampir tidak pernah terpapar pada kacamata yang berbeda. Jalur saraf yang berfungsi untuk memahami kerumitan dan perbedaan perspektif menjadi “lumut” karena jarang terlewati yang akhirnya jalur tersebut dipangkas oleh otak dan menyebabkan pola pikir yang terisolasi. Sejatinya, kita tidak sedang belajar menjadi bijak, tetapi menjadi profesor dalam ahli membenarkan diri sendiri di dalam kotak yang sempit.
Atrofi Empati: Mengapa Kita menjadi Ganas di Medsos?
Dampak paling ngeri dari echo chamber ini adalah atrofi empati. Dalam istilah medis, atrofi berarti penyusutan fungsi akibat jarang tergunakan. Empati bukan sekadar perasaan haru, tetapi sebuah kerja kognitif yang berat untuk membayangkan kondisi mental orang lain. Seperti yang neurosaintis David Eagleman ungkapkan bahwa otak adalah struktur yang ‘livewired’. Ia terus memetakan ulang sesuai dengan sirkuitnya.
Ketika kabel-kabel empati ini mulai rapuh, mekanisme berpikir kita mengalami regresi. Kita berhenti menggunakan Prefrontal Cortex bagian otak yang mengurus logika dan pertimbangan moral saat melihat perbedaan pendapat. Sebaliknya, kita beralih menggunakan amigdala, bagian otak purba yang bertanggung jawab atas insting bertahan hidup (fight-or-flight).
Inilah sebab mengapa polarisasi digital begitu terlihat ganas. Dalam mata kita, orang yang memiliki kacamata yang berbeda kita anggap salah dan memiliki “ancaman fisik” yang harus kita lenyapkan. Biasanya respon kita menjadi sangat primitif yaitu menyerang balik secara brutal, membunuh karakter, bahkan melakukan cancle culture. Kita kehilangan kemampuan untuk melihat manusia di balik layar, yang terlihat hanyalah musuh yang harus kita kalahkan.
Mengambil Kembali Kedaulatan Mental
Sifat arsitektur basah yang ada di otak kita setidaknya memberikan harapan. Karena ia bisa berubah menjadi lebih buruk, atau lebih baik. Otak terus melakukan neurogenesis atau pembentukan sel saraf baru asal kita memberikan tantangan yang tepat. Kita masih bisa berupaya dengan melakukan re-orientasi kognitif. Namun juga memerlukan kesadaran untuk mengekspos diri pada ketidaknyamanan intelektual.
Langkah pertama untuk “menyambung kembali” kabel empati yang putus adalah dengan melakukan Resistensi Kognitif. Kita harus secara sadar menghancurkan dinding echo chamber kita sendiri. Menantang diri untuk membaca opini yang berseberangan dengan keyakinan kita bukan berarti kita harus setuju, melainkan untuk melatih otot saraf agar tidak kaku. Rasa tidak nyaman yang muncul saat berhadapan dengan perbedaan adalah tanda bahwa “plastisin” otak kita sedang dipaksa untuk lentur kembali.
Berdiskusi secara riil di dunia nyata, dan melatih kesabaran dalam proses menerima informasi yang berbeda adalah “pupuk” terbaik bagi otak. Pada akhirnya, masalah polarisasi digital bukan hanya urusan politik atau siapa paling benar. Ini adalah masalah kesehatan saraf kolektif kita sebagai bangsa. Kita adalah arsitek sekaligus penghuni dari bangunan di dalam kepala kita sendiri. Jika kita membiarkan algoritma dan kebencian, terdukung oleh echo chamber ini, menjadi mandor tunggal yang menentukan bentuk otak kita, maka kita akan tumbuh menjadi masyarakat yang rapuh dan mudah dikendalikan.
Dunia hari ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang merasa paling benar. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang memiliki kabel empati yang tersambung dengan baik. Selama arsitektur otak kita masih basah, kita selalu memiliki kesempatan untuk membangun diri yang lebih terbuka, lebih bijaksana, dan tentu saja, lebih manusiawi.[]

