Sebagai salah satu karya penting dalam khazanah sastra Indonesia kontemporer, Nadira (2017) menampilkan eksplorasi trauma pribadi dan dinamika keluarga dalam karya Leila S. Chudori. Penulis yang juga terkenal sebagai (mantan, ed) jurnalis majalah Tempo ini memiliki latar belakang jurnalistik kuat. Karena itu, cerita dan tokoh yang dia tulis terasa jujur dan penuh pengamatan.
Novel ini merupakan versi terbaru dari karya sebelumnya yang berjudul 9 dari Nadira (2009), yang awalnya terdiri dari sembilan cerita saling terhubung tentang kehidupan jurnalis perempuan bernama Nadira Suwandi. Dalam bentuk novel, cerita tersebut teratur ulang sehingga membentuk gambaran lebih utuh mengenai kehidupan keluarga Nadira.
Trauma Perempuan dan Ruang Emosional
Membaca Nadira terasa seperti masuk ke lorong sunyi yang penuh gema. Gema itu bukan hanya soal kematian seorang ibu, tetapi juga tentang retak kecil dalam keluarga yang sebelumnya terlihat baik-baik saja. Cerita dalam novel ini terdiri dari beberapa pengalaman yang perlahan menggambarkan kisah tentang kehilangan.
Pusat cerita dalam novel ini berawal dari tragedi bunuh diri Kemala Yunus pada tahun 1991. Peristiwa itu tidak hanya mengubah kehidupan keluarga Suwandi, tapi juga menunjukkan pengalaman traumatis yang perempuan alami dalam keluarga intelektual Indonesia.
Nadira, sebagai anak yang paling bawah, mengalami gangguan psikologis yang sangat dalam setelah menemukan tubuh ibunya sudah tidak bernyawa. Trauma itu mempengaruhi perilakunya secara drastis. Ia merasa lebih tenang dan nyaman tidur di bawah meja kerjanya alih-alih tidur di tempat tidur. Gambaran ini menunjukkan bagaimana kehilangan tiba-tiba dapat menciptakan rasa kekosongan dalam perasaan.
Dalam perspektif feminis, pengalaman Nadira dapat kita pahami melalui Teori Relasional-Kultural yang oleh Jean Baker Miller kembangkan dan lebih lanjut oleh Judith V. Jordan. Teori ini menyatakan bahwa identitas perempuan terbentuk karena hubungan emosional yang memiliki makna.
Ketika hubungan itu berakhir dengan cara yang traumatis, seseorang bisa mengalami krisis identitas. Kedekatan Nadira dengan ibunya tidak menjamin pemahaman yang lengkap tentang perasaan sang ibu. Setelah Kemala meninggal, Nadira terus terusik oleh pertanyaan “mengapa” yang tidak pernah memiliki jawaban.
Simbol kolong meja yang teranggap sebagai tempat berlindung bagi Nadira bisa kita artikan sebagai metafora untuk ruang isolasi emosional. Ia mengundurkan diri dari kehidupan sosial namun tetap mempertahankan hubungan simbolik yang tersisa dengan ibunya.
Trauma Keluarga dan Dinamika Relasi
Selain menceritakan pengalaman pribadi yang traumatis, Nadira juga menjelaskan bagaimana perasaan sakit secara emosional bisa terwariskan dalam hubungan dengan keluarga. Hubungan Nadira dengan para saudara-saudaranya menunjukkan pola trauma yang berlangsung dari generasi ke generasi, yakni pengalaman emosional yang diwariskan secara tidak langsung dari orang tua ke anak, lalu ke cucu, dan seterusnya.
Nina, kakak tertua Nadira, sering menunjukkan perasaan cemburunya terhadap bakat menulis adiknya. Hubungan mereka sejak kecil dipenuhi ketegangan. Sementara itu, Arya memutuskan untuk mengasingkan dirinya dan menyukai kebebasan.
Sosok ayah, Bramantyo Suwandi, juga mengalami perubahan besar setelah kematian istrinya. Sebagai jurnalis yang dulu sangat bersemangat, ia kini menjadi lebih tertutup secara emosional. Dalam situasi tersebut, Nadira justru berusaha memberikan dukungan emosional kepada ayahnya. Hal tersebut menunjukkan bagaimana perempuan sering ditempatkan sebagai penjaga kesehatan emosional keluarga.
Politik Keluarga dan Latar Sosial
Nadira tidak hanya membahas tentang psikologi keluarga, tetapi juga menunjukkan dampak kondisi sosial dan politik terhadap kehidupan di rumah tangga. Keluarga Suwandi dekat dengan tradisi politik Masyumi, sebuah partai Islam modern yang pernah memainkan peran penting dalam sejarah politik Indonesia.
Tradisi itu membentuk nilai-nilai tertentu di dalam keluarga, terutama soal cara berperilaku dan ketertiban. Namun di sisi lain, latar belakang Kemala Yunus berasal dari dunia bisnis yang lebih berfokus pada prinsip-prinsip praktis. Perbedaan latar ini menimbulkan ketegangan yang lemah lembut dalam keluarga.
Salah satu kekuatan utama Nadira terletak pada teknik naratifnya yang bersifat fragmenter. Cerita ini terdiri dari pengalaman yang berbeda-beda, namun perlahan-lahan membentuk gambaran mengenai kehidupan keluarga. Pembaca mengikuti perjalanan Nadira mengingat kembali masa lalu dalam upaya memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Namun misteri terbesar masih belum tuntas terpecahkan: mengapa Kemala Yunus memutuskan untuk berakhir hidupnya. Leila tidak memberikan jawaban pasti. Yang tersisa hanyalah simbol kecil, seperti permintaan bunga seruni, yang menjadi metafora mengenai kehidupan dan kematian.
Akhirnya, Nadira bukan hanya tentang kematian seorang ibu, tetapi juga tentang cara manusia menghadapi dan memahami kehilangan. Novel ini menceritakan tentang depresi yang tidak selalu terlihat oleh orang lain dan tentang keluarga yang memiliki cerita yang tidak selalu mudah.
Mungkin, dalam tingkat tertentu, kita semuanya pernah menjadi Nadira: berjalan dalam kegelapan batin, mencoba menyusun potongan kenangan untuk menemukan maknanya. Kedewasaan terbesar bukanlah menemukan semua jawaban, tetapi menerima bahwa tidak semua luka memiliki penjelasan.[]
Identitas Buku Judul : Nadira Penulis : Leila S. Chudori Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Terbit : 2017 Halaman : 321 halaman ISBN : 9786024242725

