Bangku Kuliah Dibiayai Rasa Bersalah 

Kuliah sambil Kerja Sumber Gambar: freepik.com

Seseorang bisa hidup di kota rantauan, menjalani hari-hari sebagai mahasiswa dengan tas punggung berisi buku, laptop, dan kegelisahan yang tak pernah benar-benar bisa ia tinggalkan di kamar kos. Ia merantau bukan untuk bergaya, melain untuk bertahan pada satu harapan. “Pendidikan (kuliah) bisa menjadi jalan keluar dari lingkungan kesulitan yang selama ini membelit keluarganya”.

Sejak ayahnya meninggal, rumah tak lagi hanya soal tempat pulang, tetapi juga soal angka-angka yang terus menghantui. Yakni biaya pendidikan, kos, listrik, kebutuhan dapur, dan cicilan yang tak pernah menunggu waktu yang tepat. Ibunya berusaha kuat, meski keluhan-keluhan kecil tentang uang kerap terdengar di ujung telepon. Keluhan yang ibunya sampaikan tanpa maksud menyakiti, tetapi selalu berhasil membuat dadanya sesak.

Ia sudah berusaha. Lowongan kerja ia cari hampir setiap hari, mulai dari media sosial hingga grup-grup daring yang menjanjikan kesempatan. Lamaran demi lamaran ia kirim, pesan-pesan sopan ia tulis dengan harapan terjaga agar tak terlalu tinggi. Namun, jawaban yang datang hampir selalu sama, “belum rezeki, belum cocok” atau bahkan tak ada balasan sama sekali.

Arti Keputusan

Di sela jadwal kuliah, ia sering bertanya pada diri sendiri, “Apakah keputusannya kuliah justru menjadi beban?”. Setiap uang kiriman terasa seperti utang moral yang tak tahu kapan bisa ia bayar lunas. Ia merasa bersalah bukan karena malas berusaha, tetapi karena belum mampu memberi. Di usia yang seharusnya bisa membantu keluarga, ia justru masih bergantung. 

Menjadi yatim membuatnya belajar lebih cepat tentang kehilangan dan tanggung jawab. Tak ada lagi figur ayah yang bisa menjadi sandaran saat keadaan mendesak. Kini, ia dan ibunya sama-sama berjuang dari tempat yang berbeda. Sang ibu di rumah, menekan keluh agar anaknya tak goyah. Sementara ia dicperantauan, menahan air mata agar ibunya tak semakin lelah. 

Baca Lainya  Tren Gaya Kerudung Mahasiswa UIN

Namun, di tengah rasa bersalah dan kegagalan yang berulang, ia tetap bertahan. Ia percaya kuliah bukan sebuah pelarian, melainkan investasi yang memang membutuhkan waktu. Ia mungkin belum bisa membantu hari ini, tetapi ia sedang menyiapkan diri agar suatu saat tak lagi menjadi beban siapa pun. Karena bagi seorang yatim sepertinya, bertahan saja sudah merupakan bentuk perjuangan. 

Perjuangan itu sering kali tidak terlihat oleh siapa pun. Di kampus, ia hanyalah satu dari sekian banyak mahasiswa yang datang ke kelas, mencatat materi, dan pulang tanpa banyak cerita. Tak ada yang tahu bahwa pikirannya kerap terpecah antara tugas kuliah dan bayangan dapur rumah yang mungkin sedang kekurangan bahan makanan. Tak ada yang menyadari bahwa setiap keterlambatan membayar UKT bukan soal lalai, melainkan soal memilih prioritas hidup.

Konstruksi Pengorbanan

Malam hari menjadi waktu paling sunyi sekaligus paling bising. Sunyi karena kamar kos hanya terisi suara kipas angin, bising karena pikirannya penuh rasa cemas. Ia menghitung kembali sisa uang di dompet, memperkirakan cukup tidaknya utuk bertahan hingga akhir bulan. 

Di sisi lain, ia juga bergulat dengan rasa takut akan masa depan. Takut jika semua pengorbanan ini berakhir sia-sia. Takut jika gelar yang ia kejar tak mampu mengubah keadaan keluarga. Namun ketakutan itu tak pernah benar-benar menghentikannya. Ia tetap datang ke kelas, tetap belajar, dan tetap melamar pekerjaan meski berkali-kali tertolak.

Ia sadar bahwa keadaan ekonomi keluarga yang kacau tidak sepenuhnya berpangkal pada dirinya. Tetapi empati sering kali berubah menjadi  rasa bersalah. Setiap keluhan ibu tentang uang terdengar seperti pengingat bahwa waktu terus berjalan, sementara ia belum juga mampu berbuat banyak bagi keluarga.

Baca Lainya  Anggun Hijab: Memancarkan Keindahan Kalbu

Meski demikian, seorang mahasiswa perantauan memilih bertahan pada keyakinan kecil bahwa semua proses yang ia jalani tidak akan berakhir sia-sia. Lelah, air mata, dan rasa bersalah yang hari ini ia pendam diyakininya akan menjadi bekal untuk berdiri kuat di kemudian hari.  Ia percaya, suatu saat ia akan pulang bukan hanya membawa ijazah, tetapi juga kemampuan untuk benar-benar meringankan beban rumah yang selama ini terpaksa ia tinggalkan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *