Banyak orang mengatakan bahwa ayah adalah cinta pertama bagi seorang anak perempuan. Bagi saya, itu bukan sekadar ungkapan, melainkan kebenaran yang hidup dalam pengalaman. Ayah adalah sosok pertama yang membuat saya merasa aman, tempat pertama untuk bersandar, dan orang yang selalu hadir tanpa perlu kita minta.
Dalam caranya yang sederhana, ayah menunjukkan bagaimana cinta seharusnya dia berikan tanpa tuntutan, tanpa syarat. Kehadirannya menjadi rumah, menjadi perlindungan, dan menjadi alasan mengapa dunia terasa lebih ramah.
Ayah juga adalah pahlawan dalam wujud yang paling nyata. Ia tidak selalu melakukan hal besar yang terlihat orang lain, tetapi keberadaannya saja sudah cukup menenangkan. Ada rutinitas kecil yang dulu terasa biasa seperti ayah duduk di teras rumah dengan secangkir kopi menemaninya, menutup hari dengan tenang.
Dan mungkin saat itu, tidak pernah membayangkan bahwa pemandangan sederhana tersebut suatu hari akan menghilang begitu saja. Tidak pernah terlintas sedikitpun bahwa sosok yang selama ini menjadi pusat rasa aman akan pergi untuk selamanya.
Mungkin jika ada yang rindu dengan ayahnya mereka akan pulang dan memeluknya, tetapi bagaimana jika peran pahlawan tersebut sudah meninggalkan putrinya? Jika rindu dengannya harus memeluk siapa? Karena raganya sudah jauh di sana sehingga tidak bisa untuk kita peluk kembali, meninggalkan dunia yang sunyi ini.
Pernah terbesit di otak saya untuk menanyakan apakah rindu kepada orang yang telah pergi itu akan menghilang seiring waktu? Dan ternyata jawabannya tidak. Satu kata yang simpel tapi untuk menjalaninya itu membutuhkan mental yang kuat. Banyak yang berkata bahwa rindu kepada orang yang telah pergi cukup tersampaikan lewat doa. Doa memang selalu kupanjatkan setiap waktu.
Namun rindu ini tidak sesederhana itu. Ia melekat, hadir tanpa kita minta, dan muncul dalam hal-hal kecil. Rindu itu bisa saja datang saat mendengar seorang anak memanggil ayahnya dengan suara ceria, atau ketika melihat ayah dan putrinya berjalan bergandengan tangan. Saat-saat itulah saya sadar bahwa rindu ini tidak bisa tersampaikan lewat kata, tidak pula lewat tulisan.
Rindu Sosoknya
Sebagai seorang anak perempuan, kehilangan ayah itu terasa seperti kehilangan arah kedepannya. Ada banyak hal yang ingin di ceritakan tentang keseharian saat sekolah, tentang kelelahan, ataupun sekedar kebahagiaan kecil yang rasanya ingin dibagi.
Namun semua itu kini hanya berhenti sebagai bayangan yang sering membuat melamun sendiri di kamar, dan membayangkan seandainya ayah masih bisa untuk di peluk. Dalam diam, air mata jatuh tanpa suara. Tidak selalu berupa tangisan keras, melainkan napas yang tertahan dan dada yang terasa sesak.
Kehilangan juga membawa dampak yang tidak selalu terlihat. Ia dapat membuat seseorang menjadi lebih pendiam, lebih berhati-hati, bahkan menyimpan ketakutan yang sebelumnya tidak pernah ada. Bagi anak yang kehilangan ayah di usia belia, dunia terasa menjadi lebih sepi. Ada rasa takut menghadapi masa depan, ada kerinduan akan perlindungannya yang dulu begitu nyata. Luka itu mungkin tidak selalu terbuka, tetapi ia akan terus ada dan terus hidup dalam ingatan.
Pelajaran Berharga di Balik Kehilangan
Namun seiring berjalannya waktu, mulai sadar bahwa kehilangan tidak hanya membawa duka. Dari peristiwa inilah dapat belajar untuk menghargai waktu. Dan memahami bahwa kebersamaan adalah sesuatu yang tidak boleh disia-siakan. Waktu bersama keluarga bukan sekadar pengisi hari, melainkan kesempatan untuk menciptakan kenangan yang suatu saat akan menjadi penguat ketika segalanya berubah.
Kehilangan juga mengajarkan tentang rasa syukur. Mulai belajar mensyukuri hal-hal kecil yang dulu mungkin terasa biasa. Dari rasa syukur itu tumbuh kesadaran untuk menjalani hidup dengan lebih sungguh-sungguh. melangkah dengan lebih hati-hati, berusaha mencapai hal-hal baik, dan menjadikan setiap pencapaian sebagai bentuk kebanggaan bagi sosok yang telah pergi.
Selain itu mungkin bisa menjadi dorongan untuk lebih percaya diri dalam mengungkapkan rasa sayang terhadap keluarga. Mungkin ungkapan sayang itu terlihat sepele tetapi kata tersebut dapat menumbuhkan energi postif dan ungkapan itu akan terus tertanam di dalam ingatan.
Pada akhirnya, kehilangan memang tidak pernah benar-benar sembuh. Luka itu mungkin akan menetap, tetapi bukan untuk menjatuhkan. Ia hadir sebagai pengingat bahwa cinta pernah ada dan pernah begitu dalam. Ayah mungkin telah pergi, tetapi nilai-nilai yang ia tanamkan tetap hidup akan terus diingat sampai kapanpun.
Jangan terlalu jatuh kedalam kesunyian, terlalu jatuh didalam luka itu. Harus segera bangkit dari keterpurukan, doakan, dan banggakan sosok yang pergi itu dengan pencapaian terbaik sebagai bentuk penghormatan paling tulus kepada sang cinta pertama. Selain melanjutkan hidup untuk membanggakan Ayah jangan lupakan sosok ibu yang masih mendorong kita di belakang yang juga harus kita banggakan.
Karena ibu pasti akan mendukung kita dengan sekuat tenaganya. Dan ibu jugalah yang sudah kuat untuk menggantikan peran Ayah. Ibu terus bekerja dari pagi hingga malam yang bertujuan supaya anaknya itu terpenuhi kebutuhannya walau sudah tidak ada ayah di dunia yang penuh tantangan ini.[]

