Birrul Aulād: Tanggung Jawab Orang Tua dalam Menumbuhkan Generasi Beradab

Sumber Gambar: freepik.com

Dalam khazanah Islam, kewajiban berbuat baik (birr) tidak hanya mengalir dari anak kepada orang tua (birrul wâlidain), tetapi juga dari orang tua kepada anak (birrul aulād). Sayangnya, wacana tentang birrul aulād sering kali kalah populer daripada birrul wâlidain. Padahal, Islam meletakkan tanggung jawab besar di pundak orang tua untuk menghadirkan kebaikan, keadilan, dan kasih sayang dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak.

Anak bukan sekadar amanah biologis, tetapi titipan ilahi yang kelak akan minta pertanggungjawaban. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa orang tua adalah pemimpin pertama dan utama bagi anak-anaknya. Maka, birrul aulād bukan pilihan, melainkan kewajiban moral dan spiritual.

Al-Qur’an mengingatkan orang tua agar tidak abai terhadap masa depan anak-anaknya. “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga keselamatan akidah, akhlak, dan masa depan spiritual anak. Birrul aulād berarti menghadirkan pengasuhan yang melindungi anak dari kebodohan, kekerasan, dan ketelantaran nilai.

Dalam tradisi NU, pengasuhan anak selalu terpahami sebagai tashfiyatun nafs (penyucian jiwa) dan tarbiyah bil qudwah (pendidikan dengan keteladanan). Anak tidak hanya mendapat ajaran kebaikan, tetapi disuguhi contoh hidup yang baik.

Pendidikan Terbaik sebagai Hak Anak

Pendidikan adalah hak anak dan kewajiban orang tua. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada pendidikan yang baik.” (HR. Tirmidzi). Pendidikan yang baik bukan semata sekolah mahal atau nilai akademik tinggi, tetapi pendidikan yang menumbuhkan iman, akhlak, nalar kritis, dan empati sosial. Dalam konteks hari ini, orang tua mendapat tuntutan tidak hanya menyekolahkan anak, tetapi juga memastikan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan menumbuhkan karakter.

Baca Lainya  Santri: Hidup dari Kesederhanaan menuju Keteladanan

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa hati anak adalah permata yang bersih. Jika terbiasa dengan kebaikan, ia akan tumbuh dalam kebaikan; jika terbiarkan tanpa arahan, ia akan terseret pada keburukan. Inilah makna birrul aulād: kesungguhan orang tua menyiapkan jalan terbaik bagi tumbuh kembang anak.

Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar. Keteladanan orang tua adalah kurikulum hidup yang paling efektif. Allah Swt. menegaskan pentingnya keteladanan melalui sosok Nabi Muhammad ﷺ: “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Rasulullah ﷺ adalah contoh sempurna bagaimana menjadi orang tua yang lembut, adil, dan penuh kasih. Beliau tidak segan mencium cucunya, Hasan dan Husain, bahkan di hadapan para sahabat. Ketika ada sahabat yang heran melihat beliau mencium anak, Rasulullah bersabda: “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari).

Dalam tradisi pesantren NU, kasih sayang dan keteladanan selalu berjalan seiring dengan kedisiplinan. Anak mendapat bimbingan dengan cinta, bukan dengan kekerasan; diarahkan dengan hikmah, bukan dengan ancaman.

Mendengar Anak, Menghormati Martabat

Birrul aulād juga berarti menghargai suara dan pendapat anak. Anak bukan objek, melainkan subjek yang memiliki perasaan dan pikiran. Rasulullah ﷺ memberi teladan luar biasa dalam hal ini. Dalam Perjanjian Hudaibiyah, beliau menerima masukan dari Ummu Salamah ketika para sahabat merasa berat menerima keputusan Nabi. Nasihat Ummu Salamah menjadi solusi yang menenangkan situasi.

Teladan ini menunjukkan bahwa mendengarkan pendapat termasuk dari anak adalah bagian dari kebijaksanaan. Dalam keluarga, orang tua yang mau mendengar anak akan menumbuhkan rasa percaya diri, aman, dan keterbukaan. Ini selaras dengan prinsip musyawarah yang menjadi nilai penting dalam Islam dan tradisi NU.

Baca Lainya  Media Sosial dan Kaburnya Kebenaran Pemilu 2024

Lingkungan adalah guru yang tak terlihat. Rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah gurunya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan betapa besar pengaruh lingkungan keluarga. Birrul aulād berarti menciptakan rumah yang ramah, penuh adab, doa, dan dialog. Rumah yang aman dari kekerasan verbal maupun fisik, serta kaya dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.

Biaya Pendidikan Halal: Fondasi Keberkahan

Islam sangat menekankan kehalalan rezeki. Makanan, pakaian, dan biaya pendidikan yang halal akan berpengaruh langsung pada jiwa dan akhlak anak. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih pantas baginya.” (HR. Tirmidzi).

Memberikan biaya pendidikan dari sumber yang halal adalah bagian dari birrul aulād. Bukan soal besar kecilnya nominal, tetapi keberkahannya. Dalam tradisi NU, rezeki halal teryakini sebagai pintu kemudahan ilmu dan kebaikan akhlak.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *