Saat fajar mulai datang, bau harum bawang, kecap, lada, dan bumbu dapur lainnya seringkali membuat saya terbangun dari mimpi yang telah terajut indah. Masakan bapak yang selalu punya cita rasa sempurna walaupun dari bahan sederhana. Memori dari momen sederhana yang selalu saya rindukan. Katanya, laki-laki tak perlu resep, mereka hanya perlu bahan dan feeling yang kuat dalam hal memasak, tapi anehnya feeling mereka selalu tepat.
Dulu, sebelum menjadi anak rantau ketika masih sering di rumah, saya sering terbangun karena aroma harum mi goreng buatan bapak di pagi hari. Entah kenapa bapak sering buat menu itu, saya juga heran, mungkin karena simpel. Rasa bawang putih, lada, penyedap, garam, dan kecap yang terpadu sempurna, seolah mengatakan rasa kasih yang tiada tara.
Rasa mi goreng buatan bapak teringat jelas di kepala. Kadang saya mencoba untuk membuat mi goreng sendiri dengan resep yang sama tapi rasanya tidak pernah sama. Setiap bapak memasak selalu memanggil saya dan mengatakan dalam bahasa Jawa, “cek, cek, pie enak ra?” sambil memberikan sendok, dan menyuruh saya mencoba.
Kadang saya mengatakan, “pas, oke enak, Pak!”, “kurang garam, Pak!”, “bapak, kurang lada.” atau “kurang micin sedikit, Pak”. Memori singkat yang terlihat sepele bagi sebagian orang inilah yang sering membuat saya rindu rumah. Lewat kata “cek, cek, pie enak ra?” bapak menunjukkan cinta kasih yang hangat.
Kedekatan Emosional
Kalau kata (Munifah Bahfen, Sriyanti Rahmatunnisa, 2023) dalam penelitiannya yang berjudul “Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak Usia Dini di Wilayah Kelurahan Ciater”, mengatakan kedekatan emosional anak dengan ayah sering tumbuh dari hal-hal yang sederhana seperti bentuk kasih tanpa banyak kata.
Kadang saya suka berpikir, apakah semua bapak seperti ini? Memberi pertanyaan sederhana tapi terasa hangat, melakukan sesuatu sederhana tapi sebenarnya itu adalah sesuatu yang istimewa. Namun setelah saya berpikir ulang, melihat realita yang banyak terjadi. Ternyata saya adalah salah satu anak yang beruntung mempunyai peran bapak dalam kehidupan.
Tidak semua anak mendapat anugerah hangatnya peran bapak dalam hidupnya. Ada yang mengenal bapak mereka hanya sebatas nama yang meyatu di dalam kartu keluarga. Tanpa merasakan hangat kehadirannya, ada bapak yang sengaja mengabaikan tugasnya, ada juga bapak yang pergi lebih dulu dipanggil sang Kuasa. Betapa sunyi kehidupan yang mereka jalani, dan saya belum sanggup membayangkan jika suatu hari saya terpaksa merasakan sunyi yang sama.
Sosok Bapak
Dalam buku berjudul Ayah, ini Arahnya Ke Mana, Ya? (2024) karya Khoirul Trian mengungkapkan bahwa betapa putus asanya seorang anak ketika kehilangan sosok bapak dalam hidupnya. Betapa dia kehilangan arah yang terasakan saat dewasa, alih-alih mendapat arah, dia malah kehilangan si penujuk arah.
Untuk semua bapak yang memberi kehangatan, terimakasih telah hadir dan memberi arah kepada anak kalian yang terlahir tidak tanpa alasan. Untuk bapak yang mengabaikan tugasnya, hmmm entahlah saya tidak bisa memberi kata.
Saya sebenarnya ingin memberi tulisan ini kepada bapak saya sebagai hadiah Hari Ayah. Namun walaupun sudah lewat, saya harap bapak bisa merasakan setiap kata yang saya tulis terdapat cinta kasih yang tumbuh menjadi doa. Mi goreng buatan bapak akan selalu menjadi masakan favorit dalam dalam hidup saya.[]

