Maria Ulfah Anshor: Kepedulian pada Perempuan dan Anak

Maria Ulfah Anshor Sumber Gambar: beritasatu.com

Maria Ulfah Anshor, perempuan berdarah Indramayu Jawa Barat lahir pada 15 Oktober 1960. Beliau terlahir dari keluarga yang agamis nan sederhana, beliau merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Semasa kecilnya sangat kental dengan dunia keagamaan sebab sang ayah merupakan penggerak kegiatan musala serta Madrasah Yapin Kertasemaya.

Selain itu, sang ibunda juga penggerak perempuan di desa dengan berkegiatan mengaji dari majelis taklim satu ke majelis taklim yang lain. Secara tidak langsung kegiatan orang tuanya menjadikan inspirasinya untuk memperjuangkan persoalan sosial di era sekarang ini. 

Menempuh Pendidikan di SDN Kertasemaya serta Madrasah Diniyyah di Desa Tulungagung. Beliau melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyyah Negeri serta mondok di Pondok Pesantren Dar At-Tauhid Arjawinangun, Cirebon. Setelah itu, melanjutkan Pendidikan Madrasah Aliyah di Pesantren Al-Muayyad Surakarta. Semenjak bermukim di Surakarta beliau aktif dalam kegiatan organisasi yaitu IPPNU cabang Solo. Setelah lulus dari Al-Muayyad beliau melanjutkan studinya di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

Kiat Disiplin

Ketika menjadi mahasiswa gairah beliau dengan organisasi begitu ambisius lalu terjun di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan pernah terjun di jajaran pengurus besar PMII. Semasa kuliah waktu antara organisasi, kuliah, dan asrama membuatnya harus disiplin membagi tugas masing-masing agar tidak berantakan. Setelah menyelesaikan S1, beliau pernah mengajar di SMA dan MA Al-Muhlisin di Parung Bogor. Dalam pernikahannya terkaruniai dua anak, berjenis kelamin perempuan dan laki-laki dan sudah memiliki cucu laki-laki. 

Beliau mengawali karier sebagai dosen di IIQ sampai tahun 2018. Setelah itu, mendapat amanah untuk mengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta dan sekarang menjabat sebagai Kepala Program Studi S3 Fakultas Islam Nusantara.

Baca Lainya  Memaknai Iduladha, Merawat Lingkungan

Beliau juga bergerak aktif di berbagai organisasi di antaranya: IPPNU Cabang Solo, PMII, PP Fatayat NU sebagai Litbang (1990-1995), Ketua IV Bidang Ekonomi dan Litbang (1995-2000), Ketua Umum PP Fatayat NU (2000-2005), Anggota DPR-RI Pengganti Antar Waktu (PAW) (2007-2009) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Staff Khusus Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia untuk Pemberdayaan Perempuan dan Anak (2004-2005), Ketua Presidium Kaukus Perempuan Parlemen Indonesi (KPP-RI) 2009, Ketua Komisi Perlindungn Anak Indonesia (2010-2012), Ketua Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) (2012-2017), dan Komisi Komisioner Komnas Perempuan (2020-2024). 

Pancaran Integritas

Deretan perjalan yang beliay tempuh merupakan hasil dari ambisiuitas yang tinggi. Berawal dari berorganisasi sejak sekolah hingga karirnya melejit di Kota Metropolitan. Rasa tanggung jawab, kejujuran dan percaya diri mampu menumbuhkan kualitas yang cerdas. Belajar membagi waktu untuk menyeimbangkan segala kegiatan yang terjalaninya. Selain itu, integritasnya yang memancar sehingga mendapat kepercayaan menjadi pemimpin yang bijaksana. 

Keteguhan dan kesabaran beliau ini memberikan pembelajaran bagi saya. Berbagai tantangan yang beliau alami tidak menyurutkan semangatnya untuk berdakwah. Memasuki umur yang tidak muda lagi bukanlah menutup kemungkinan berhenti berkarir. Beliau justru terus menggali pengalaman lebih dalam bahwasannya hidup belajar tanpa henti. Sekaligus mengajak generasi muda untuk membangun pengalaman setinggi-tingginya. 

Keterlibatannya dalam komunitas KUPI (Kongres Ulama Perempuan) sejak Pra KUPI hingga paska KUPI. Di tambah pula terjun dalam Lembaga KPAI (Komnas Perlindungan Anak). Beliau juga berperan aktif dalam organisasi Fahmina, Alimat, dan Rahima. Sebelumnya beliau juga berperan aktif pada lembaga konsorsium yang bersangkutan dengan Lembaga keagamaan, ormas keagamaan dan organisasi perempuan yang dinaungi oleh Komnas Perempuan. Keteguhan beliau menulusuri permasalahan hak-hak perempuan dan anak untuk menyejahterakan kembali martabat perempuan dan anak. 

Baca Lainya  Dinda Hauw: Melangkah dengan Hati, Berkarya dengan Jiwa

Pasalnya, perempuan dan anak sering tidak mendapatkan kenyamanan dalam lingkungannya. Terlintas dari berita sekarang yang semakin miris. Perempuan sering dituntut untuk bisa segalanya bahkan setelah mereka menikah sering merelakan mimpinya. anak-anak juga masih kurang mendapatkan kesejahteraan hidup. Oleh karena itu, beliau aktif bergulat dengan bidang permasalahan hak-hak perempuan dan anak.

Tulisan dan Karya 

Melalui penelitian lapangan yang beliau lampaui mampu melihat langsung realitas sebenarnya. Muncul lah karya ilmiah yang guna memberikan pengetahuan pada perempuan dan anak di luar sana untuk menyejahterakan haknya. 

Beliau pun aktif dalam menulis melalui karya ilmiah. Berkat karya ilmiahnya yang berjudul “Fikih Aborsi untuk Pemberdayaan Hak dan Kesehatann Reproduksi” mendapatkan penghargaan Saparinah Sadli Award pada tahun 2004. Selain itu, beliau pernah memenangkan sebagai Women of the Year dari ANTV pada kategori gender dan sosial pada tahun 2005.

Karya-karya top beliau diantaranya; “Memutus Rantai Ketidakadilan Global Care Dalam Pengasuhan Anak Tenaga Kerja Perempuan Indonesia: Studi Pengasuhan anak TKI Perempuan pada Pesantren Indramayu”. Yayasan Pustaka Obor Indonesia: Jakarta (2017). “Status of Girls under International Covenants: a Study of Advocacy of Child-Marriage”. Di dalam Jurnal perempuan No. 20 Vo. 2 (2015). “Pengasuhan Anak dalam Perspektif Gender”. LKAJ dan Gramedia (2004). 

Beliau bukan hanya sebagai tokoh besar melainkan seorang istri sekaligus orang tua. Besar tanggung jawab yang diemban bertujuan membangkitkan masa depan bangsa sekaligus keluarganya. Hal tersebut menunjukkan bahwasannya perempuan tidak perlu takut untuk bermimpi besar. Perempuan dengan karir tidak akan menghilangkan identitasnya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *