Perkembangan teknologi digital membuat arus informasi mengalir tanpa batas. Remaja sebagai pengguna aktif media sosial menjadi kelompok yang paling rentan terpapar berbagai narasi, termasuk konten bernuansa intoleransi dan ekstremisme. Tanpa pemahaman keagamaan yang seimbang, informasi tersebut dapat membentuk pola pikir sempit dan mendorong sikap radikal. Oleh karena itu, butuh pendekatan yang tidak hanya menanamkan nilai keagamaan secara tekstual, tetapi juga kontekstual dan membumi. Salah satu pendekatan yang relevan adalah moderasi beragama yang terpadukan dengan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.
Moderasi beragama merupakan cara pandang yang menekankan keseimbangan, toleransi, dialog, dan penolakan terhadap kekerasan dalam beragama. Konsep ini tidak mengurangi esensi ajaran agama, melainkan mengarahkan pemeluknya agar tidak terjebak pada sikap ekstrem maupun pemahaman yang kaku. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, moderasi beragama menjadi fondasi penting untuk menjaga harmoni sosial dan mencegah konflik berbasis agama. Bagi remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri, moderasi beragama berperan sebagai penuntun agar mereka tidak mudah menerima klaim kebenaran tunggal yang sering kelompok radikal manfaatkan.
Kelompok radikal kerap menjadikan media sosial sebagai sarana penyebaran ideologi dengan kemasan narasi keagamaan yang manipulatif. Remaja yang belum memiliki fondasi nilai yang kuat cenderung mudah terpengaruh, terutama ketika ajakan tersebut terkaitkan dengan semangat perubahan cepat dan janji keselamatan. Di sinilah pentingnya membangun pemahaman keagamaan yang proporsional, kritis, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. Moderasi beragama membantu remaja memahami bahwa agama sejatinya hadir untuk menciptakan kedamaian, bukan pembenaran atas kekerasan dan kebencian.
Integrasi Kesadaran
Integrasi moderasi beragama dengan pendidikan dan kesadaran lingkungan menjadi pendekatan yang menarik dan relevan. Ajaran agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama dan alam. Ketika remaja memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual, mereka terdorong melakukan tindakan positif yang berdampak luas. Kepedulian terhadap lingkungan menumbuhkan empati, rasa tanggung jawab sosial, serta kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi bagi kehidupan bersama.
Aktivitas berbasis lingkungan juga melatih remaja untuk melihat persoalan secara holistik. Kesadaran bahwa kerusakan alam dapat memicu bencana, kemiskinan, dan konflik sosial membuat mereka memahami bahwa tindakan ekstrem seperti kekerasan dan intoleransi justru memperparah keadaan. Remaja yang aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan cenderung memiliki orientasi hidup yang lebih positif dan visioner, sehingga tidak mudah tergoda oleh ajakan radikal yang menjanjikan perubahan instan tetapi merusak tatanan sosial.
Pembelajaran Tematik
Dalam dunia pendidikan, integrasi nilai moderasi beragama dan kepedulian lingkungan dapat dilakukan melalui pembelajaran tematik. Sekolah dapat mengaitkan materi keagamaan dengan praktik nyata, seperti menjaga kebersihan, mengelola sampah, atau melakukan penghijauan. Proyek pendidikan berbasis lingkungan tidak hanya meningkatkan kesadaran ekologis, tetapi juga membentuk karakter remaja yang toleran, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama.
Peran keluarga dan masyarakat juga sangat penting. Orang tua dapat memberikan teladan hidup sederhana, tidak berlebihan, serta peduli terhadap lingkungan sekitar. Keteladanan ini membentuk karakter anak secara perlahan namun mendalam. Di tingkat masyarakat, kegiatan gotong royong, penanaman pohon, dan aksi sosial menjadi ruang pembelajaran moderasi yang nyata. Budaya gotong royong yang telah lama hidup di Indonesia sejatinya mencerminkan nilai moderasi, kebersamaan, dan kerja sama lintas perbedaan.
Dengan demikian, moderasi beragama berbasis kepedulian lingkungan merupakan pendekatan yang komprehensif dalam menangkal radikalisme pada remaja di era digital. Moderasi beragama memberikan landasan nilai yang menolak kekerasan dan mengedepankan dialog, sementara pendidikan lingkungan menumbuhkan empati dan tanggung jawab sosial. Ketika keduanya dipadukan, remaja akan tumbuh menjadi generasi yang kritis, humanis, dan peduli terhadap keberlanjutan kehidupan. Mereka memahami bahwa beragama harus melahirkan kemaslahatan, bukan kerusakan, serta menjadikan perdamaian dan kelestarian bumi sebagai bagian dari praktik keimanan.[]

