Bayangan kadang jadi tempat yang nyaman untuk tempat kita bersembunyi dari tekanan yang ada, tapi bayangan itu menyembunyikan cahaya dalam diri. Sama seperti perempuan Indonesia di masa lalu, mereka terkurung di balik bayangan yang hanya melihat bahwa kaum hawa itu sebagai pelindung api rumah tangga. Mereka tidak ada hak menentukan nasib sendiri, tidak bisa mengejar impian, dan bahkan suaranya tak terdengar.
Selama bertahun-tahun keyakinan yang tradisional membuat perempuan kesulitan mengejar hal yang mereka impikan. Namun, seiring berjalannya waktu, kaum hawa telah menjalani perjalanan yang penuh tantangan dan perjuangan agar bisa melepas bayangan itu menuju cahaya yang abadi.
Hambatan yang perempuan lalui dulu sangatlah berat, karena membuat mereka sulit keluar dari peran yang menjadi pakem. Banyak sekali tempat tempat di Indonesia menggunakan aturan tradisional yang membatasi para kaum hawa. Mereka mendapat larangan untuk bersekolah karena teranggap hal itu tidak penting. Tugas utama mereka ya hanya selayaknya seorang istri, seperti memasak, mengurus anak, mencuci pakaian, dan mengurus laki-laki. Bahkan di bidang politik pun mereka tak ada hak untuk memilih.
Terganjal Batasan
Para perempuan benar-benar tak bisa ikut menentukan arah pembangunan negara. Di bidang ekonomi saja, hanya untuk bekerja pun mereka sangat terbatasi. Mereka hanya bisa berjualan di pasar atau menjadi pekerja rumah tangga. Kaum hawa sangat sulit memiliki harta sendiri, mereka harus bergantung dengan laki-laki, tak ada kebebasan dalam membuat keputusan.
Pada akhirnya, perjuangan menuju cahaya ini termulai dari banyak tokoh perempuan yang sangat berani. Salah satunya adalah R.A. Kartini yang berjuang untuk hak pendidikan kaum hawa. Ia mengharuskan adanya kesetaraan gender dan melawan diskriminasi. R.A. Kartini kemudian menulis buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini berisikan kumpulan surat yang mengungkap pemikirannya tentang perjuangan emansipasi perempuan, pentingnya pendidikan bagi kaum hawa, kritik terhadap adat dan tradisi yang membatasi, serta harapan akan kemajuan bangsa Indonesia.
Akhirnya banyak sekolah berdiri untuk perempuan, dan mereka pun bisa melanjutkan apa yang seharusnya mereka kejar. Setelah kemerdekaan, mereka mulai ikut berpartisipasi di ruang publik. Munculah kesempatan kerja yang semakin luas bagi kaum hawa. Mereka mulai menjadi guru, perawat, dan pekerja kantor. Itulah langkah pertama mereka mendapat pengalaman kerja sendiri dan pendapatan sendiri. di pedesaan juga banyak dari mereka mulai membuka usaha tenun tradisional, walaupun ada pengawasan dari laki-laki, setidaknya mereka memiliki uang sendiri untuk kebutuhan kecil.
Gerakan Ekonomi
Di masa ini, kemandirian perempuan sudah sangat meningkat. Banyak kaum hawa yang kini sukses dengan sendirinya. Di pedesaan banyak kelompok mereka yang mengelola usaha tenun dengan skala besar. Mereka bisa beli bahan sendiri, menghasilkan sendiri dan bahkan produknya terjual di kota kota besar. Tak kalah hebatnya di perkotaan pun banyak para kaum hawa yang membuka usaha seperti warung makan, mereka juga bisa bekerja sebagai dokter, insinyur, pengacara, guru, bahkan penjabat tinggi di pemerintahan. Dan akhirnya perempuan bisa membuktikan bahwa mereka tidak kalah dari laki-laki karena mampu menyaingi mereka.
Kemandirian perempuan juga tumbuh pada emosionalnya, mereka semakin berani menolak hal yang menurutnya tak adil, seperti adanya pernikahan dini yang membuat mereka ketinggalan pendidikan ataupun kekerasan dalam rumah tangga. Selain itu udah banyak lembaga yang memberikan bimbingan dan perlindungan bagi korban kekerasan. Perempuan semakin aktif berpendapat di media sosial, agenda rapat, dan forum diskusi.
Mereka memberikan banyak masukan tentang masalah pendidikan, kesehatan, pembangunan daerah, dan masih banyak lagi. Para perempuan juga mengikuti kuliah atau ikut pelatihan keahlian untuk meningkatkan pengetahuan mereka. Hal itu bisa membuat keputusan yang lebih cerdas untuk diri sendiri dan keluarga, bukan cuma ikut aturan orang lain.
Lingkungan Sejahtera
Kemandirian perempuan memberikan dampak yang luar biasa untuk masyarakat. Saat perempuan mandiri dalam bidang ekonomi, mereka seringkali membantu tetangga yang membuat lingkungan makin sejahtera. Di keluarga, perempuan yang pintar dan kuat akan menjadi contoh bagi anak-anak tertutama anak perempuannya menjadi lebih berani mengejar impiannya. Di ruang publik, mereka bisa berpendapat dan mengambil keputusan yang adil. Bahkan dalam bidang budaya, banyak sekali perempuan yang menjaga dan mengembangkan kerajinan tradisional yang hampir hilang. Hal tersebut mereka jaga agar bisa ternikmati oleh generasi yang akan datang.
Perjalanan perempuan dari gelapnya bayangan menuju cahaya yang terang benderang bukanlah jalan yang mudah. Banyak rintangan, tangisan, dan perjuangan yang harus terlewati selama bertahun-tahun. Berkat tokoh perempuan seperti R.A. Kartini yang telah membawa pengaruh besar bagi seluruh perempuan di Indonesia. Yang awalnya mereka hanya bisa berada di rumah saja, sekarang bisa menjadi orang yang sangat berpengaruh.
Para peempuan telah membuktikan bahwa kemandirian perempuan itu hak asasi mereka. Ketika mereka bisa mandiri, mereka akan bisa berbuat baik kepada diri mereka sendiri, keluarga dan jadi lebih sejahtera. Merekapun bisa mendidik anak-anaknya dengan baik sampai anak-anaknya tumbuh dewasa dan punya masa depan yang cerah.
Mari kita menjadi bagian dari perjalanan ini. Sebagai seorang perempuan, harus saling mendukung dalam mengejar impian. Dengarkan mereka dan jaga agar mereka punya kesempatan yang sama. Seperti halnya cahaya, menyinari semua sudut yang ada. Kemandirian perempuan akan terus menyinari masa depan Indonesia, yang lebih adil, makmur, dan penuh harapan bagi semua orang. Asalkan, kita semua mau bekerja sama. Berbahagialah untuk para perempuan Indonesia.[]

