Hujan turun menjelang sore dan membawa hawa dingin yang merayap pelan di sepanjang Jalan KS Tubun, Pamitran, Kota Cirebon. Hari ke-13 peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan datang dengan suasana senyap, seperti jeda panjang yang sengaja alam beri untuk memberi ruang pada dua pembicara malam itu: Putri Sarinandhe dan Emik Street Lima Watt. Keduanya hadir dengan satu tujuan serupa, mengajak manusia berkarya.
Sore yang basah itu membuat acara mulai dengan jumlah peserta yang tidak terlalu ramai. Namun, tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada sorak sorai. Hanya aroma tanah sehabis hujan yang naik dari celah-celah bebatuan halaman Episode Kopi, bercampur dengan bau dupa yang Emik bakar. Malam itu seakan memberi panggung bagi cerita yang tumbuh perlahan seperti rumput yang bangkit setelah tersiram hujan.
Putri Sarinandhe dan Artefak Puisi
Putri Sarinandhe duduk dengan rebel. Usianya baru menyentuh angka empat puluh, tetapi ia mengaku sudah menjalani fase manula living. Putri datang membawa satu buku puisi yang ia sebut artefak masa lalu, lahir lima belas tahun silam. Buku berjudul Putri Berkicau Puisi Puisi itu ia tulis ketika berusia dua puluh lima tahun.
Banyak yang kini menyebut usia itu sebagai masa quarter life crisis, tetapi bagi Putri, buku itu bukan respons terhadap apa pun. Ia hanya ingin berkicau untuk dirinya sendiri, merawat gelisah, dan menurunkan tekanan yang berasal dari tumpang tindih identitas.
Putri bercerita tentang motivasinya malam itu. Ia ingin melerai bias gender yang terus hadir di keseharian. Menurutnya, perempuan terlahir dengan banyak lapisan. Peran yang tidak pernah berakhir. Peran yang terbentuk oleh tubuh, oleh tradisi, oleh keluarga, dan oleh masyarakat. Tetapi ia tidak ingin meninggalkan posisi laki-laki dalam dialog gender. Baginya, keadilan lahir dari keseimbangan yang tidak saling meniadakan. “Seringkali aku melihat kondisi itu merupakan perilaku primitif, jauh lebih mudah untuk mempersekusi,” ucapnya.
Memuisikan Perempuan
Dalam obrolannya, Putri menegaskan bahwa pembicaraan tentang perempuan selalu datang bersama dua tokoh: pelaku dan korban. Keduanya bisa saling bertukar posisi tanpa sadar. Korban tidak selalu tahu pribadinya korban. Pelaku tidak selalu sadar bahwa ia pelaku. Lingkaran ini, kata Putri, akan terus berjalan selama dinamika sosial masih menganggap tubuh perempuan sebagai objek yang sah untuk diatur.
Malam menurunkan suara. Salah satu peserta, seorang ibu dan fotografer, Nur Hasanah Sawil mulai membaca puisi. Kata-kata yang keluar untuk membalas puisi yang termaktub dalam halaman buku Putri, seperti mengembun di udara, perlahan pecah sebelum menyentuh hati Putri.
Ia membaca dengan tempo pelan, sesekali berhenti seperti sedang menunggu hujan di luar meredakan suaranya. Halaman Episode Kopi yang basah membuat suasana terasa seperti ruang arsip. Seolah puisi yang ia baca benar-benar artefak yang ia temukan kembali setelah terkubur belasan tahun, kini mendapat kesempatan baru untuk hidup.
Setelah sesi Putri selesai, peserta menghela napas bersama. Malam mulai mengering. Beberapa meja tertata ulang. Bau hujan yang semula pekat mulai bercampur dengan suara azan Isya. Pertanda bahwa sesi kedua akan mulai.
Emik Street Lima Watt dan Kerajinan Dalang Sungkrah
Emik ikut mengambil tempat. Seorang laki-laki yang terkenal sebagai Emik Street Lima Watt ini membawa energi yang berbeda. Penampilannya santai tetapi penuh rasa percaya diri. Nama begennya terinspirasi dari letak geografis tempat tinggalnya, wilayah pantura yang terkenal dengan jalan remang, Tegal Gubug dan Arjawinangun di Kabupaten Cirebon. Dari sanalah ia datang sambil membawa identitasnya sebagai perajin kerajinan sampah, atau yang ia sebut sebagai Dalang Sungkrah, dalang sampah yang menyulap barang buangan menjadi karya.
Di hadapan peserta yang berjumlah delapan orang, Emik menata alat, menaruh wadah bekas asbak kaleng, menyiapkan silikon dan katalis warna merah, dan memastikan lilin malam yang akan peserta gunakan terbagi merata.
Tidak ada gerak yang tergesa. Ia memulai dengan penjelasan yang pelan, seakan menyelaraskan ritme dengan tanah yang baru habis terguyur hujan. Dalam penjelasan awalnya, ia mengatakan mulai berkarya dari keresahan terhadap sampah rumah tangga yang tidak pernah selesai. Sampah yang tidak berumur panjang tetapi terus terkumpulkan, terus menumpuk, terus mengalir ke tempat pembuangan akhir tanpa ada upaya serius untuk dikurangi.
“Saya dari keresahan pribadi. Pasti semua orang berawal dari keresahan,” ujarnya. Ia melihat masalag sampah secara historis nan filosfis. “Dulu manusia tidak mengenal sampah. Mana ada dulu plastik dan sebagainya,” lanjut Emik. Kalimat itu keluar seperti pengingat. Bahwa sampah adalah ciptaan manusia. Dan karena itu, manusia juga seharusnya bertanggung jawab untuk mengurusnya.
Imaji-Imaji Emik
Peserta terbagi ke dalam dua kelompok. Lima orang terdiri dari panitia dan Putri yang tadi pembicara pertama. Tiga sisanya adalah pengunjung Episode Kopi yang datang secara dadakan dari Cirebon Utara yang ingin merasakan suasana kopi di kota.
Mereka Emik arahkan untuk membuat bentuk sesuka hati menggunakan lilin malam. Bentuk yang bukan sekadar bentuk, tetapi representasi kecil tentang apa yang ingin mereka tinggalkan dalam malam yang basah itu.
Sambil menunggu peserta menyelesaikan bentuknya, Emik mencampurkan bahan silikon dan katalis merah. Ia mengaduknya hingga merata dengan sabar. Setelah itu, bentuk-bentuk lilin peserta terkumpulkan, tertata dalam wadah kecil, dan tersiram dengan campuran silikon serta gipsum. Nanti setelah kering, wadah itu menjadi cetakan. Cetakan yang akan tergunakan untuk membentuk kerajinan dari lelehan plastik sampah.
Di sudut panggung yang tertata di Halaman Episode Kopi, Emik menyalakan korek di atas wadah bekas asbak kaleng. Plastik-plastik kering ia bakar satu per satu. Bau plastik terbakar yang tersamarkan bau dupa, tidak menusuk karena volume kecil. Emik menjelaskan bahwa plastik hanya terlelehkan, bukan seperti memasak, agar tidak menimbulkan asap pekat.
Ruang Penyembuhan
Di sudut panggung yang tertata di Halaman Episode Kopi, Emik menyalakan korek di atas wadah bekas asbak kaleng. Plastik-plastik kering ia bakar satu per satu. Bau plastik terbakar yang tersamarkan bau dupa, tidak menusuk karena volume kecil. Emik menjelaskan bahwa plastik hanya terlelehkan, bukan seperti memasak, agar tidak menimbulkan asap pekat.
Menunggu pembakaran, ide kreatif muncul untuk sembari mempersembahkan puisi. Lampu padam, suasana syahdu terbentang. Lelehan itu kemudian tertuang ke dalam cetakan atau master yang tadi mereka buat. Master itu membentuk ornamen kecil yang dapat menjadi gantungan kunci, aksesoris, atau dekorasi sederhana.
Proses malam itu berjalan seperti ritual kecil. Peserta saling membantu, saling meminjam malam, saling menanyakan bentuk, dan saling mengomentari apapun yang menggugah perbincangan. Tidak ada tekanan untuk menghasilkan karya yang sempurna. Emik menuturkan jargonnya sederhana tetapi kuat.
“Buanglah sampah pada pikiranmu,” Menurutnya sampah bukan sekadar hal yang kotor dan tidak bernilai. Sampah adalah potensi, adalah bahan baku, adalah ide. Sampah bahkan bisa menjadi ruang penyembuhan, selama seseorang ingin mendekatinya tanpa jijik dan tanpa prasangka.
Di hari ke-13, sehabis hujan, dua perempuan dengan latar berbeda memperlihatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus berteriak keras. Dari keberanian untuk mengakui krisis pada usia dua puluh lima. Bermula dari saha memilah sampah rumah tangga pada usia yang tidak lagi muda. Dari kesediaan hadir meski langit baru saja mengguyur kota.
Malam itu, perlawanan perempuan bukan hanya tentang melawan kekerasan. Tetapi tentang melawan lupa. Melawan kejumudan. Melawan kebiasaan menumpuk sampah, menumpuk bias, menumpuk ketidakadilan, tanpa upaya merapikannya.[]
Penulis: Raihan Athaya Mustafa

