Di dunia perkuliahan, kata ”stres” sangat familiar di telinga mahasiswa bahkan sudah menjadi hal yang lumrah. Rasanya kata itu menjadi bayangan ketika dosen memberikan tugas, ujian, bahkan skripsi yang biasanya membutuhkan perhatian yang serius. Kata ini tidak hanya buat tubuh lelah tetapi juga pikiran ,terasa terkuras.
Di tengah banyaknya tugas yang menumpuk, ada sebuah tren unik. Banyak mahasiswa tidak memilih kafe menjadi tempat melepas penat, tetapi drama dari negara seberang alias drama Cina (dracin) menjadi pilihan tontonan. Di sini muncullah kebiasaan baru, dari tugas ke episode, yang membikin drama Cina jadi tempat pelarian stres.
Mengapa drama Cina jadi tempat pelarian mahasiswa? Dracin memberi rasa romantis yang membikin penontonnya senyum-senyum sendiri. Lalu terkadang memuat konflik menegangkan, bahkan fantasi sangat luar biasa yang kadang membuat lupa jiak ada deadline. Saat pikiran sudah merasa panas dan penat, drama Cina jadi solusi jitu mengurangi sedikit rasa penat menumpuk. Ambil makanan, duduk manis, lampu matikan terus hanyut ke dunianya. Walau hanya satu atau dua episode, rasanya sudah cukup mengembalikan energi.
Sebuah Self Reward
Banyak mahasiswa yang sengaja menghadiahi diri sendiri setelah menuntaskan tugas dengan satu episode drama ini. Trik ini bukan hanya untuk bermalas-malasan, tapi self-care yang simpel. Artinya sadar bahwa otak juga butuh istirahat. Bukan malas-malasan tapi butuh cara melepaskan penat agar tidak overload. Terkadang, menonton dracin menjadi lebih senang, bahkan rasa semangat kembali lagi. Drama Cina sendiri memiliki karakter yang semangat meraih mimpinya, tokoh sabar menghadapi kesulitan hidup, yang sesuai dengan kehidupan.
Menariknya dracin ini sering mengajarkan pelajaran tentang hidup. Lewat ceritanya, mahasiswa bisa belajar tentang perjuangan, kesetiaan, persahabatan, bahkan kasih sayang dan ketulusan yang menghangatkan hati. Bahkan ada cerita yang membahas dunia kerja dan bisnis yang dapat penonton ambil pelajaran untuk mengembangkan diri. Jadi menonton drama Cina itu tidak sia-sia. Bisa membuat tertawa tapi juga bisa membuat berpikir. Walau biasanya membuat baper tetapi bisa buat belajar juga. Itu sebabnya, walaupun hanya sebuah hiburan semata, tapi memiliki nuansa positif yang tidak dapat kita remehkan.
Sesuatu yang membuat drama Cina jadi favorit mahasiswa adalah feel-nya. Visual tokohnya cantik dan tampan, karakternya mengena, soundtrack-nya bagus, bahkan ceritanya sering bikin hati hangat. Dalam beberapa episode, kita bisa tertawa lepas dan emosi meledak, lalu di episode lain bisa menangis sejadi-jadinya. Semua adalah cara pikiran melepas beban, kadang menangisi drama lebih lega dan dapat melepaskan emosi daripada menahannya.
Selain jadi pelarian pribadi, drama Cina bisa jadi bahan komunikasi. Di situ muncul sebuah komunitas kecil, seperti teman satu indekos, grup pesan, sampai temam kelas yang selalu bertanya, “Eh, kamu sudah nonton episode 30 belum? Itu gong banget!” Dari yang awalnya drama Cina hanya sebagai hiburan semata malah menjadi perekat pertemanan. Seperti istilah yang muncul sekarang: healing bareng fandom.
Tentu saja semua harus seimbang. Drama Cina hanya sebagian hiburan saja. Jika nanti keturusan bisa jadi bumerang. Niatnya hanya nonton satu episode, malah keblabasan jadi maraton sampai lupa waktu. Tugas jadi terbengkalai, bangun tidur jadi terlambat. Di sinilah mahasiswa harus sadar tujuan awal adalah mengurangi stres bukan lari dari kenyataan. Karena sebesar apapun dukungan dari drama Cina, realita yang ada di kampus harus mahasiswa hadapi.
Kaitan Kesehatan Mental
Di sisi lain, kehadiran drama Cina memperlihatkan bahwa mahasiswa sekarang lebih mengutamakan kesehatan mentalnya. Generasi yang sebelumnya mungkin menganggap stres itu biasa dan harus mereka tahan. Namun, kini mahasiswa tahu bahwa pikiran atau otaknya butuh istirahat sejenak. Drama Cina jadi cara mudah untuk mengatakan pada diri sendiri bahwa “Aku lelah, tapi aku peduli pada diri sendiri!”.
Dari sisi psikologis, menonton drama Cina bisa menghilangkan efek negatif dalam diri, seperti mood menjadi lebih baik, hilangnya rasa sedih, dan berkurangnya rasa stres. Jadi, setelah menangis atau tertawa karena ceritanya, rasa hati jadi terasa lebih ringan. Ini bukan hal sepele, istirahat seperti ini bisa jadi tips agar tidak sampai mengalami burnout yang lebih parah.
Sejatinya, drama Cina adalah versi modern dari secangkir teh hangat yang kita minum sore hari. Bahkan di hari yang tenang, sederhana, tapi bisa buat pikiran dan tubuh rileks. Dari yang awalnya mengerjakan tugas sampai ke menonton episode, mahasiswa menjadi tahu bahwa jeda sejenak itu sangat penting. Manusia bukan robot, ada kalanya merasa lelah, ada waktunya butuh istirahat. Selama tahu kapan harus berhenti, drama Cina bisa jadi tempat pulang sementara yang aman.
Jadi, buat mahasiswa yang sering merasa dunia perkuliahan terlalu berat, tak apa mencari kenyamanan di dunia lain. Entah itu dunia kerajaan kuno, dunia bisnis, atau dunia cinta drama Cina. Karena kadang satu kalimat dari tokoh drama bisa lebih menenangkan daripada nasihat panjang “Tidak apa-apa terlambat, selama kamu tidak berhenti”.
Pada akhirnya dari tugas ke episode itu hanya cara kecil buat bertahan. Bukan berarti kabur, cuma butuh jeda sebentar. Kadang saat tekan tombol play, rasanya seperti mengatakan ke diri sendiri, “Aku capek tapi aku masih ingin peduli sama diri sendiri.” Tidak perlu kata-kata besar, cukup duduk, nonton, lalu biarkan hati ikut tenang. Karena hal sederhana seperti nonton drama pun bisa jadi penyelamat diam-diam, tak langsung bikin hidup selesai tapi setidaknya bikin langkah besok terasa lebih ringan.[]

