Tak bisa terpungkiri, teknologi semakin hari semakin canggih dan berkembang pesat. Berdasarkan survei terbaru We Are Social 2024, pengguna media sosial di Indonesia menghabiskan rata-rata 3 jam 18 menit perhari untuk scrolling. Angka ini meningkat 15% daripada tahun sebelumnya, dengan mahasiswa sebagai kelompok pengguna tertinggi.
Bahkan hampir seluruh kalangan manusia banyak yang menganggap medsos sebagai alat terpenting dalam hidupnya. Ponsel pintar menjadi salah satu penyebab utama seseorang dalam melakukan aktivitasnya. Ponsel bukan hanya sekedar alat, melainkan bagian penting dari sebuah kehidupan. Kehadiran medsos dan berbagai platform digital mampu membawa kemudahan dalam mengakses informasi, berkomunikasi, bahkan mencari hiburan darinya.
Namun, di balik kemudahan itu, tersirat jebakan-jebakan yang pelan-pelan mencuri hal yang berharga dalam hidup kita. Muncul tantangan baru berupa kebiasaan scrolling yang seringkali menurunkan tingkat produktivitas dan konsentrasi seorang mahasiswa. Inilah godaan terbesar mahasiswa zaman sekarang: scroll tanpa henti. Ia tak ingat, ada waktu dan fokus yang terbuang karena hal yang tak penting.
Mahasiswa terkenal sebagai agen perubahan, sosok yang mampu berpikir kritis dan produktif dalam melakukan aktivitasnya. Seorang mahasiswa yang bijak bukan hanya produktif dalam menyelesaikan tugasnya, melainkan juga produktif dalam mengembangkan diri. Namun, bagaimana mungkin seorang mahasiswa bisa benar-benar produktif jika sebagian besar waktunya justru habis untuk hal-hal yang tidak memberi nilai tambah bagi diri sendiri maupun orang lain?
Algoritma Medsos
Inilah tantangan nyata yang generasi masa kini hadapi. Sering bergantung pada teknologi dan sulit menahan diri dari godaan ponsel (hiburan) menjadi penghambat utama dalam membangun fokus dan kedisiplinan diri.
Algoritma medsos yang sengaja terancang menarik perhatian penggunanya selama mungkin, mampu menarik mahasiswa enggan keluar dari dunia digital. Banyak platform digital yang mampu menyesuaikan konten dengan minat pengguna medsos. Konten medsos yang terus berganti mampu menarik perhatian otak manusia terbiasa mencari hal-hal baru secara terus-menerus.
Karena itu, mahasiswa menjadi sulit berkonsentrasi pada hal-hal yang memerlukan fokus dalam jangka panjang. Akibatnya, mahasiswa sering kali kehilangan fokus terhadap kegiatan utamanya, seperti belajar, membaca, atau menyelesaikan tugas. Banyak mahasiswa yang merasa kekurangan waktu, padahal tanpa tersadari sebagian besar waktunya tersita oleh aktivitas scroliing-nya di medsos.
Untuk itu, waktu dan fokus sangat berpengaruh dalam masa depan kita. Dua hal yang berharga dalam hidup kita, terutama bagi mahasiswa yang sedang berjuang membangun masa depannya. Waktu yang tergambarkan sebagai sebuah kanvas kosong yang luas, tempat di mana setiap orang bisa melukis hal yang ingin mereka lakukan. Sedangkan fokus bisa teribaratkan sebagai kuas yaitu penentu seberapa indah dan bermakna hasil dari lukisan itu.
Setiap orang memiliki waktu yang sama dalam menjalani harinya, tetapi hasil yang mereka capai tergantung pada bagaimana mereka mengatur waktu dan memusatkan fokusnya. Jika seseorang memiliki manajemen waktu yang baik dan mampu mengendalikan fokusnya, maka ia dapat menggunakan waktunya secara produktif untuk belajar, berkembang, dan mencapai tujuan hidupnya. Sebaliknya, tanpa manajemen waktu dan fokus yang jelas, waktu akan terbuang sia-sia, dan kesempatan berharga bisa hilang begitu saja.
Menghargai Waktu
Sebagai mahasiswa yang produktif, langkah pertama adalah menyadari dan memahami nilai sebuah waktu. Waktu itu ibarat pedang yang tajam dan bisa memotong secara cepat. Jika kita tidak menggunakannya dengan baik untuk kebaikan, maka waktu akan habis dan akan “memotong” kita, atau menyia-nyiakan peluang yang ada. Waktu tidak bisa kita perintahkan untuk kembali.
Lima belas menit yang terbuang untuk scroll medsos bisa tergunakan untuk membaca dua halaman buku, menulis ide di jurnal, atau berolahraga ringan. Produktivitas bukan soal akademik, melainkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, mampu berpikir secara kritis dan mengisi waktu tersebut dengan hal yang berarti.
Langkah berikutnya adalah mengatur pola hidup. Buat daftar kegiatan, tentukan skala prioritas, dan beri batasan waktu untuk bermain medsos. Gunakan alarm atau fitur pembatas layar. Hal kecil seperti ini bisa efektif melatih kedisiplin dan menumbuhkan kebiasaan fokus. Ingat, perubahan besar bukan mulai dari hal besar, tetapi mulai dari langkah kecil yang konsisten. Banyak orang yang cenderung menilai media sosial sebagai hal yang buruk.
Medsos tak selalu berdampak negatif bagi kehidupan, melainkan dengan menggunakannya secara positif dapat menunjang produktivitas seseorang. Bagi mahasiswa, medsos bisa menjadi wadah belajar, berbagi ilmu dan berkarya. Banyak mahasiswa yang dan mempromosikan karyanya lewat medsos. Mahasiswa seharusnya bisa menjadi penguasa teknologi, bukan terkuasai olehnya. Dengan cara ini, medsos tidak lagi menjadi penghambat, melainkan alat pendukung pencapaian tujuan akademik dan karier.
Kebiasaan terjun di dunia digital sering kali membuat kita lupa akan pentingnya dunia nyata. Mahasiswa perlu menyeimbangkan aktivitas digital dengan kegiatan nyata seperti berinteraksi secara langsung dengan manusia, ikut organisasi, membaca buku, atau berolahraga. Karena hal-hal tersebut dapat membantu menjaga kesehatan mental dan kejernihan pikiran. Keseimbangan menjadi kunci agar seseorang tetap produktif secara utuh terhadap diri mereka.
Menolak Distraksi
Produktivitas sejati memerlukan arah hidup yang jelas. Ketika seseorang tahu apa tujuan hidupnya, maka ia akan lebih mudah mengatur waktu, menjaga fokus, dan menolak gangguan (distraksi) dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadi, produktivitas tidak hanya soal kerja keras, tetapi juga soal kesadaran akan arah dan makna dari setiap usaha yang terlakukan. Ibarat sebuah kompas, ia membantu kita dalam menentukan arah mata angin agar tidak tersesat.
Hidup di era digital memang sulit. Notifikasi datang silih berganti tanpa adanya perintah dari diri sendiri, dunia digital selalu menawarkan hal hal baru yang belum kita ketahui. Namun justru di sinilah tantangannya: bisakah kita tetap fokus di tengah kebisingan informasi?
Penting bagi mahasiswa belajar bagaimana cara menjadi generasi yang memiliki kesadaran kritis dalam menggunakan teknologi dan medsos, bukan hanya sekadar menjadi konsumen pasif yang sekadar mengikuti tren atau menghabiskan waktu di dunia digital tanpa arah dan tujuan jelas. Padahal, seharusnya mereka bisa menjadi pengguna yang aktif dan bijak, yang mampu memanfaatkan teknologi untuk belajar, berkreasi, berinovatif dan mengembangkan potensi diri.
Pada akhirnya, produktivitas bukan tentang berapa banyak yang kita kerjakan, tapi tentang seberapa bermakna waktu yang kita jalani untuk hal positif. Sebelum jari-jemari kita kembali menggulir layar tanpa arah, berhentilah sejenak, pikirkan dan tanyakan: apakah hal ini membuatku tumbuh dalam hal kebaikan, atau justru membuatku tenggelam dalam jebakan media sosial? Karena dari satu keputusan kecil untuk berhenti scrolling, kita bisa memulai melangkah menjadi mahasiswa yang lebih bijak, fokus, dan siap menjemput masa depan.[]

