Menjadi mahasiswa sering teranggap sebagai masa paling bebas dan menyenangkan dalam hidup. Namun, di balik kesibukan kuliah, rapat organisasi, dan aktivitas media sosial, banyak mahasiswa yang senyap-senyap merasa lelah, cemas, kesepian, bahkan kehilangan arah. Tuntutan akademik dan sosial sering kali membuat mereka lupa bagaimana caranya menghargai dan mencintai diri sendiri.
Di era sekarang, self love atau mencintai diri sendiri tengah banyak terbincangkan di berbagai aplikasi media sosial. Self love merupakan hal penting yang dapat kita terapkan dalam diri, terutama pada mahasiswa untuk menjaga kesehatan mental dan mengoptimalkan potensi diri.
Self love merupakan tindakan positif berupa penerimaan dan penghargaan terhadap diri sendiri. Namun, tidak semua keinginan bisa terpenuhi. Tujuan dari self love bukan hanya untuk membahagiakan diri sendiri, tapi juga untuk bersikap toleran terhadap orang lain. Self love sendiri memiliki manfaat bagi kesehatan fisik dan mental, antara lain pengembangan kebiasaan hidup sehat, dan pencapaian kepuasan hidup (Putri et al., 2024).
Mencintai diri sendiri atau self love muncul sebagai respons atas isu yang belakangan ini sedang ramai terbahas di media sosial. Medsos sering menjadi ruang yang menampilkan standar “mahasiswa ideal” yang aktif, produktif, dan bahagia. Padahal berbeda dengan kehidupan asli mahasiswa. Beberapa mahasiswa banyak yang kehilangan motivasi belajar karena merasa tertinggal dari teman temannya. Dengan demikian, self love sangat berkaitan dengan kesehatan mental karena melibatkan perilaku mencintai dan memperlakukan diri sendiri dengan baik. Penerapan cinta dalam diri dapat menjaga kesehatan mental, karena memudahkan untuk berpikir positif.
Dampak Emosional
Kondisi mental yang tidak baik dapat menimbulkan berbagai gangguan, baik secara emosional maupun yang mengganggu fungsi fisik lainnya. Akibatnya, muncul rasa cemas, insecure, bahkan kelelahan emosional yang sering tidak tersadari. Dalam penerapan self love, ada beberapa hal yang harus kita waspadai, sebab dampak negatif dapat berimbas pada diri sendiri.
Self love berlebihan seringkali menimbulkan seseorang mempunyai sifat egois, ia mengutamakan pendapat diri sendiri saja tanpa melihat pendapat orang lain. Serta akan timbul sifat narsisme, ingin menjadi pusat perhatian dalam diri. Selain itu dapat menjadikan seseorang merasa denial akan diri sendiri dalam menjaga kesehatan tubuh seperti berat badan naik drastis, karena telalu banyak memanjakan diri.
Selain memperkuat kesehatan mental, self love juga berpengaruh dalam hubungan sosial. Seseorang yang mampu mencintai diri dengan tulus akan lebih mudah membangun hubungan yang baik dengan seseorang. Tentu karena sudah berdamai dengan keadaan serta menghidari dan menjauhi apa yang membuat dia terluka, tidak lagi bergantung pada validasi orang lain. Dia tahu kapan harus berkata “tidak”, mengetahui batasan diri, serta tetap menghormati orang lain tanpa kehilangan jati diri.
Di tengah tekanan sosial dan ekspektasi tinggi, menerapkan sikap self love membantu kita untuk menerima diri apa adanya, menumbuhkan rasa percaya diri yang sempat hilang ataupun belum ada. Serta memperkuat ketahanan mental dalam menghadapi stres, kecemasan, dan depresi. Kebiasan kecil seperti merawat diri menggunakan skincare, tidur yang cukup, membeli makanan atau minuman favorit, dan melakukan aktivitas menyenangkan, juga berkontribusi pada kesehatan fisik dan mental.
Self love bukan sekedar tren atau gaya hidup yang sering muncul dalam kata kata motivasi di media sosial. Melainkan proses berdamai dengan kegagalan, kehilangan, dan ketidaksempurnaan diri. Banyak mahasiswa merasa gagal hanya karena nilai menurun, tidak seaktif teman temannya di organisasi, dan merasa minder saat membandingkan diri bersama orang lain. Entah itu kondisi fisik, prestasi, maupun hal lainnya. padahal setiap orang memiliki ritme dan kapasitas yang berbeda. Mencintai diri berarti memberi ruang untuk beristirahat, memaafkan diri atas kesalahan, dan terus berproses tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain. Sebab kehidupan kampus tidak hanya tentang prestasi, tetapi juga keberanian memahami diri sendiri.
Apresiasi Diri
Penerapan self love dapat termulai dari menghargai diri sendiri dan memberikan self reward atas setiap proses yang telah terjalani. Cukup dengan menikmati hal-hal kecil yang kita sukai atau mengapresiasi diri atas usaha yang sudah terusahakan. Juga tentunya mulai membiasakan pola hidup yang sehat dengan makan sayur dan buah buahan, tidur yang cukup, olahraga ketika waktu senggang, terbuka dengan orang lain, dan yang paling penting adalah bijak dalam bermedia sosial demi menjaga kesehatan mental. Dengan begitu, kita dapat belajar untuk lebih menyayangi diri sendiri dan menyadari bahwa setiap apa yang sudah kita lakukan layak mendapat apresiasi.
Menerapkan self love memang tidak mudah di tengah banyak tuntutan dan kesibukan di kampus. Terkadang beberapa kali muncul rasa bersalah ketika memilih istirahat daripada terus belajar, seolah beristirahat adalah bentuk kemalasan dan membuang waktu. Kita sering kali merasa harus selalu sibuk agar dianggap produktif, sesuai dengan standar hidup yang ada di media sosial. padahal terlalu memaksakan diri justru membuat pikiran lelah dan kehilangan arah.
Di tengah tekanan akademik dan tuntutan sosial yang tak ada habisnya, meluangkan waktu untuk berhenti sejenak bukanlah kelemahan. Melainkan bentuk keberanian untuk menjaga diri agar tetap waras. Orang yang mencintai diri tahu kapan harus melangkah cepat dan kapan harus berhenti menyadari bahwa istirahat tidak membuatnya tertinggal. Melainkan membantunya kembali kuat dan fokus terhadap tujuan yang ingin dicapai.
Mencintai diri sendiri bukan berarti menyerah pada keadaan, tetapi justru belajar menempatkan diri secara bijak di dunia serba canggih. Di era perbandingan media sosial maupun kehidupan sehari-hari, keberanian untuk tenang dan tidak terburu-buru menjadi bentuk bahwa kehidupan itu dijalani bukan untuk berlomba melihat siapa yang menang atau kalah.
Pada akhirnya, self love bukan sekedar tren yang datang dan hilang begitu saja. Melainkan cara penting untuk bertahan dan tumbuh di dunia kampus. Mahasiswa yang menerapkan self love lebih mampu menghadapi tuntutan akademik dan tetap termotivasi untuk berkembang. Kebahagiaan tidak selalu datang dari pengakuan orang lain, tetapi tumbuh dari diri kita sendiri. Dengan begitu, memahami dan menerapkan self love tak hanya belajar bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi kuat, sehat, dan utuh.[]

