Senyap di Balik Senyum dan Suara yang Tak Terdengar

Sumber Gambar: rri.co.id

Di tengah hiruk pikuk kehidupan, ada seorang perempuan yang hidup dengan senyum yang dia kenakan sebagai topeng. Sekilas, dia tampak seperti perempuan kuat, selalu tertawa, selalu membantu orang lain, selalu terlihat mampu menghadapi semuanya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik keceriaannya, ada suara senyap bergetar yang terus berbisik di dalam hatinya. Suara itu tidak pernah terdengar oleh siapa pun, karena dia hanya berani membicarakannya kepada diri sendiri. Kesunyian menjadi rumahnya, tempat dia menyembunyikan segala ketakutan dan air mata yang tidak boleh jatuh di hadapan dunia.

Dalam masyarakat kita, perempuan sering kali teranggap sebagai sosok yang harus selalu tegar. Dia terajarkan untuk tidak mudah mengeluh, tidak boleh menunjukkan kelemahan, dan harus mampu mengurus segalanya di keluarga, pekerjaan, hingga perasaan orang lain. Ketika bersedih, dia teranggap dramatis. Manakala lelah, ia terminta untuk tetap kuat. Ketika menangis, dia mendapat nasihat untuk berhenti dan tersenyum. Seolah-olah dunia memberikan pesan bahwa menjadi hancur itu tidak pantas bagi perempuan.

Di sinilah sunyi itu mulai tumbuh. Dia tidak lagi memiliki ruang untuk bersuara, karena setiap keluhan akan terbalas dengan penyangkalan. Mereka akhirnya belajar bahwa menyimpan segalanya sendiri adalah cara paling aman untuk tetap dipandang baik. Maka, ia memilih diam. Dia menyimpan semua rasa sakit di ruang terdalam hatinya, berharap seseorang akan mengerti tanpa ia harus menjelaskan. Namun, tidak ada yang benar-benar mengerti. Suaranya hanya menggema di dalam diri sendiri.

Mendengarkan Kesepian

Kesepian yang dia alami bukan karena tidak memiliki siapa-siapa, tetapi karena tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Setiap hari berbaur dengan orang lain di rumah, di kampus, tapi tetap merasa asing. Pandangan orang-orang yang seharusnya memberi kenyamanan justru membuatnya merasa semakin jauh dari diri sendiri. Di antara kerumunan manusia, dia menjadi perempuan yang paling sunyi.

Baca Lainya  Menciptakan Kesetaraan dari Akar

Media sosial menambah beban senyap itu. Dia melihat banyak kisah kebahagiaan yang terpamerkan di layar ponsel. Semua orang tampaknya hidup tanpa masalah, semua tampak bahagia dengan kehidupan mereka. Dia pun merasa ada yang salah dengan diri sendiri. Mengapa ia tidak bisa sebahagia mereka? Mengapa ia justru merasa tenggelam setiap kali tersenyum? Standar kebahagiaan yang semu itu memaksanya untuk terus berpura-pura. Sosoknya menampilkan potongan hidup yang terlihat indah, sementara bagian diri yang paling rapuh dia sembunyikan dalam-dalam.

Kadang, di malam hari, ketika dunia akhirnya berhenti berbicara, dia duduk sendirian di dalam kamar yang gelap. Di momen seperti itulah dia memberi ruang bagi diri untuk menangis, meski hanya sebentar. Tangisnya pecah tanpa suara, takut terdengar oleh tembok yang dingin. Dia berbicara dengan diri sendiri, mencoba menguatkan hatinya yang hampir runtuh. Lantas dia bertanya, “Sampai kapan aku harus bertahan seperti ini?” pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban.

Sunyi, bagi perempuan sepertinya adalah bentuk pertahanan. Dia memilih diam bukan karena ia tidak ingin terlihat, tapi karena takut jika dunia tahu betapa rapuh sebenarnya. Pun dia berpikir bahwa tidak ada yang mampu menampung kepedihan yang dia rasakan, jadi menyimpannya sendiri. Namun semakin lama, sunyi itu berubah menjadi beban berat yang menekan dadanya setiap hari. Dia terjebak dalam labirin pikirannya, dan dunia seperti tak memberi petunjuk untuk keluar.

Cahaya Harapan

Ada kalanya dia berharap seseorang datang mendekat, menatap matanya dengan sungguh-sungguh, dan bertanya: “Apa yang sebenarnya kamu rasakan?”. Dia ingin ada tangan yang menggenggam erat, memberi keyakinan bahwa ia tidak perlu kuat setiap saat. Serta dia rindu dipahami tanpa harus menjelaskan seluruh ceritanya dari awal. Dia ingin sepi yang menyiksa itu menemaninya. Namun kenyataan berkata lain. Orang-orang di sekitarnya hanya ingin melihat versi diri yang sempurna dan yang mereka inginkan, bukan yang sebenarnya.

Baca Lainya  Ria Ricis: Keragaman Bakat Kreator

Meski begitu, di sela-sela kesunyian, dia masih menyimpan sedikit cahaya. Harapan kecil itu terus membuatnya bangkit setiap pagi. Ia percaya bahwa suatu hari, ia akan menemukan ruang aman untuk bersuara. Ruang yang tidak menghakimi, ruang yang menerima seluruh dirinya, ruang yang memberi tempat bagi luka-luka yang ia bawa sendirian. Ia hanya ingin dilihat sebagai manusia: yang bisa lelah, yang bisa hancur, yang tidak selalu baik-baik saja.

Perempuan yang berbicara kepada diri sendiri bukanlah perempuan yang lemah. Justru sedang berjuang bertahan di dunia yang tidak memberi ruang untuk hatinya bersuara. Berjuang untuk tetap waras ketika pikirannya hampir meledak oleh semua hal yang ia pendam. Adalah pejuang yang tidak pernah dipuji. Dia adalah luka yang tidak pernah diobati. Serta suara yang tak pernah terdengar.

Namun, suara yang sunyi itu tetap suara. Dia berhak untuk keluar dari ruang gelap tempatnya bersembunyi. Berhak untuk terakui. Pun berhak untuk didengarkan tanpa syarat apa pun. Dunia perlu belajar bahwa perempuan pun bisa rapuh dan tidak apa-apa jika ia membutuhkan bahu untuk bersandar.

Karena pada akhirnya, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menjadi perempuan yang hidup di tengah kehidupan, tetapi merasa tidak benar-benar hidup. Tidak ada yang lebih melelahkan daripada berbicara kepada diri sendiri, berharap ada yang akhirnya mendengarkan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *