Semangat Membahagiakan Umat, Tekad Melawan sampai Menang

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Cirebon – Angin di halaman Episode Kopi pada malam Sukarelawanan lebih terasa karena lengangnya peserta 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Namun celah di tengah barisan peserta tidak meredupkan dari para relawan yang hidupnya beririsan dengan bencana, dan dari semangat warga yang bergulat dengan luka lingkungan yang tak membuat mereka pasrah.

Tanggal 5 Desember 2025 menjadi malam ketika peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan tersambut bukan hanya oleh aktivis perempuan, melainkan juga oleh mereka yang setiap hari bergulat dengan kekerasan lain: kekerasan struktural, kekerasan ekologis, dan kekerasan yang datang dari abainya kebijakan.

Di depan peserta, tiga sosok duduk berjajar. Paling kanan, Burhan, pegiat Wanadri, sebagai moderator. Di tengah, Soni Kurniawan, relawan Rumah Zakat dengan gaya bicara selalu merujuk pada aturan dari pucuk. Sebalah kiri, Asep YangEsa, ketua RT di kelurahan Argasunya yang nada dan gestur bicaranya mencerminkan orator membara.

Jejak Langkah Relawan Rumah Zakat

Soni memulai malam itu dengan tenang. Tak ada heroisme yang menggelembung. Ia hanya menceritakan bagaimana ia bergerak ketika bencana datang. Bagaimana ia menghadapinya bukan sebagai penolong yang gagah, melainkan sebagai manusia yang mencoba menenangkan sesama manusia ketika panik datang mendera. “Rumah Zakat selalu berusaha ada,” ucap Soni. “Dari peninjauan awal, tim SAR, sampai trauma healing. Kadang kita bahkan harus lebih dulu menenangkan diri sendiri sebelum menenangkan warga.”

Burhan, dengan ketelitian khas pegiat alam, mempertanyakan lebih jauh. Di mana posisi Rumah Zakat saat bencana? Bagaimana mereka bergerak? Siapa yang memandu di lapangan? Soni menjawab dengan satu kalimat yang kemudian ia ulang dua kali agar pesan itu tak tersesat di tengah riuh malam. “Pokoknya di mana ada bencana, di sana ada Rumah Zakat.”

Kalimat itu terkesan bukan slogan. Lebih seperti pengingat, bahwa relawan tak pernah benar-benar beristirahat. Banjir, longsor, gempa, atau bahkan bencana kecil yang tak televisi beritakan sekalipun. Karena bencana selalu membutuhkan tangan-tangan sukarela. Dan di balik itu semua ada struktur, ada ketua, ada pelatihan dari BPBD sampai BNPB yang membentuk mereka bukan hanya sebagai pekerja lapangan, tapi juga penjaga psikologis warga.

Baca Lainya  Berdaya di Balik Lensa

Asep YangEsa dan Luka Argasunya

Jika Soni datang membawa kisah bencana alam, Asep datang membawa cerita bencana yang manusia buat. Bencana yang baunya menusuk sebelum mata mengetahui bentuknya: sampah, bau gas, debu tipis yang mengendap di perumahan, dan keheningan birokrasi yang lebih menyakitkan alih-alih gunung sampah itu sendiri. Asep membuka kisahnya dengan menjelaskan filosofi Argasunya. Kampung tempat ia menjadi ketua RT 04. “Arga itu gunung, sunya itu sunyi,” ujarnya. “Gunung sepi. Dari dulu tak ada jejak perlawanan di sana.”

Senyap itu berubah menjadi kutukan. Warga tak banyak tahu bahwa mereka hidup di wilayah yang membawa masalah besar. Sunyi membuat banyak penderitaan berjalan tanpa saksi. Asep, yang awalnya lebih dekat dengan kesenian, akhirnya berbelok ke jalan perlawanan lingkungan. Ia merasa tak ada gunanya mengurus panggung ketika kampung sendiri terus tertindih tumpukan persoalan yang tak kunjung terbereskan. “Maka saya menarik garis tegas dengan pemerintah Kota Cirebon,” katanya. “Berteman atau baku hantam.”

Kata-katanya tak lahir dari kemarahan spontan. Itu kemarahan yang sudah terpendam puluhan tahun, hingga puncaknya saat riset mahasiswa mendapat penolakan DLH, saat akses data tentang air, tanah, udara di Argasunya tersembunyikan, dan ketika pengaduan warga hanya teranggap sebagai angin lalu.

Pertanyaan dan Pandangan tentang Lingkungan

Di titik ini percakapan mengalir lebih dalam membahas soal Bencana. Burhan kembali memantik bagaimana relawan dan aktivis lingkungan lokal memandang sebuah bencana. Dari situ pula merangsang peserta yang segelintir orang untuk memasukkan atensinya atas permasalahan lingkungan.

Soni memandang bencana sebagai kadarullah, istilah Islam yang artinya ketentuan Tuhan. Tetapi yang ia maksud bukan berarti manusia boleh menyerah. Ia mengajak semua orang untuk melakukan hal kecil yang tak remeh, menanam pohon. “Setidaknya satu pohon di rumah,” katanya. “Itu usaha paling kecil.”

Baca Lainya  Ketua PWNU Jateng Terpilih Berdialog dengan Kepengurusan Demisioner

Asep menanggapi dengan nada berbeda. Ia keberatan ketika masyarakat Indonesia selalu terbebani sebagai penjaga paru-paru dunia dengan cara menanam pohon. Perbincangan dunia soal lingkungan baginya berkesan bahwa Indonesia hanya tukang kebun dunia. Hal ini pernah ia lontarkan kepada salah satu organisasi lingkungan terbesar di Indonesia, ketika menjadi relawan bencana di Jawa Tengah beberapa tahun lalu. “Kita disuruh menjaga sepertiga paru-paru dunia, tapi siapa yang jaga paru-paru kita sendiri?” tanyanya.

Percakapan seolah memecah dua pandangan: satu melihat bencana sebagai ketentuan ilahi yang menuntut ikhtiar, satu lagi melihatnya sebagai akibat ketidakadilan global dan lokal. Namun keduanya sepakat pada satu hal,  manusia tak boleh pasrah.

Realitas Ketimpangan Sosial

Bondit, rapper sekaligus guru, membuka sesi tanya jawab. Ia menyoroti ketimpangan sosial yang tak pernah benar-benar selesai. Kepada Soni ia bertanya, bagaimana zakat bekerja di tengah kondisi itu?” Lalu ia ia lanjutkan kepada Asep, “Bagaimana seni bisa bersuara di zaman yang penuh kebisuan?” 

Soni menjawab lugas. Ia membedakan pajak dan zakat. Bahwa zakat bukan instrumen utama negara, sehingga tak mungkin langsung mengatasi ketimpangan secara cepat. Banyak orang-orang lebih menganggap kewajiban terhadap pajak sementara, zakat menjadi pelengkap untuk pengeluaran saja. sehingga zakat ini tidak dengan mudah mengatasi ketimpangan sosial di Indonesia.

Asep menjawab pertanyaan bagian seni dengan analogi yang membuat peserta diam sejenak. Karena ia berujar selayaknya semangat regresif yang mengurai progresif dunia ini. Tentang modernisasi, teknologi, dan gerusannya kepada esensi seni. “Dunia itu sekarang ibarat gajah marah,” ujarnya. “Sedangkan seni itu pohon pisang. Kalau gajah itu lari, pohon pisang pasti ke tabrak. Tapi pohon pisang itu tetap harus ada, tetap harus tumbuh. Kayak Reog. Ada penonton atau tidak, dia tetap tampil.”

Farhat mengangkat persoalan TPA Kopi Luhur. Kepada Asep ia bertanya, Apa yang paling mendesak? Apalagi curah hujan sedang tinggi, tanah labil, dan ancaman longsor berada di depan mata. Kepada Rumah Zakat ia juga bertanya secara struktural, badan apa yang menaungi rumah zakat dalam menangani bencana. Mengingat relawan mesti terbekali skil profesional. Asep menjawab dengan begitu tegas, “Kita nggak punya akses riset. Air, tanah, udara. semua disembunyikan pemerintah. Itu masalahnya”. 

Baca Lainya  Nannie Hadi Tjahjanto Ketua Kowani Terpilih 2024-2029

Bahwa, selama ini DLH tidak pernah mengeluarkan hasil riset ketika riset mahasiswa mereka tolak dan sangkal. Persoalan ini menjadi paradoks yang selalu keluar dari pemerintah Kota Cirebon. Sejumlah upaya demonstrasi dengan penguatan bukti sampel oleh mahasiswa teranggap angin lalu oleh DLH Kota Cirebon.

Usaha Membahagiakan Umat

Doni mengajukan pertanyaan terakhir tentang tulisan “TPA Kopi Luhur: The Secret of Gate” yang oleh seorang pengamat politik di kota Cirebon tuliskan. Sontak, Asep menjawab tanpa tedeng aling-aling. “Branding orang itu munafik,” katanya. “Ngaku paling kiri, tapi sekarang kiri-nya dipakai buat mencebok DLH.”

Malam di halaman Episode Kopi mereda perlahan. Lampu-lampu kuning bergetar pelan, menyisakan keheningan yang tak benar-benar sunyi, keheningan yang membawa pulang cerita tentang bencana, perlawanan, dan keberanian warga yang terus terjepit keadaan.

Saat sesi ditutup, Soni lebih dulu angkat suara. Lelahnya relawan lapangan terasa menetes lewat kalimat sederhana yang ia ulang seperti doa, “Tetap melakukan yang terbaik. Semangat bahagiakan umat. Allahuakbar.” Kemudian Asep menyusul, menggeser sedikit peci merahnya, menatap peserta dengan keyakinan yang keras oleh pengalaman, “Lawan sampai menang.”

Dua kalimat itu, meski lahir dari jalan yang berbeda, menaut di tengah malam sebagai penanda bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian paling kecil. Dari warga yang menolak diam, dari relawan yang tak henti bergerak, dari percakapan yang tak dibiarkan menguap begitu saja. Dan malam itu, hari ke-sebelas pada 16 HAKTP membuktikan satu hal, bahwa suara-suara kecil pun bisa menjadi nyala, selama ada yang mau terus menjaganya.[]

Penulis: Raihan Athaya Mustafa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *