Saya mengakui, tulisan ini akan terbaca seolah sebagai pengakuan dosa. Atau bisa saja, pengkhianatan atas ego saya sendiri. Saya pernah di situasi di mana laki-laki adalah produk unggul versi Tuhan. Menyepelekan perempuan, terkhusus bagi yang suka vokal perihal patriarki, kesetaraan gender dan kepemimpinan. Hal itu terjadi, bukan semata-mata saya anti perempuan, akan tetapi karena sebagian yang saya temui hanya pandai bermain retorika tanpa benar-benar hadir di medan kerja.
Saya pernah aktif dalam sekolah ataupun diskusi seputar isu perempuan berkali-kali. Siklus normatif yang selalu saja saya temui adalah orang yang berteriak paling keras belum tentu paling siap memikul risiko. Yang paling protes soal menuntut ruang, justru gugup ketika terpasang dalam ruang tersebut. Saya sempat sinis, heran, dan bertanya-tanya, kalau begini realitanya, buat apa menuntut kesetaraan?
Patriarki sebagian terbentuk oleh perempuan itu sendiri, itu dulu juga yang saya percaya. Di beberapa keluarga, seorang ibu misalnya, bisa menjadi guru pertama yang melahirkan aturan bahwa anak laki-laki bebas bermain sejauh apapun, sementara anak perempuan harus pulang sebelum gelap. Bahwa laki-laki tampil gagah jika keras kepala, sementara perempuan dicap tidak tahu diri atau anak durhaka jikalau terlalu vokal. Dan, apa yang terjadi apabila saya mengkritik itu? Pada akhirnya saya juga akan teranggap sebagai anak durhaka karena “Ibu kamu juga perempuan, lho.” Seolah mengkritik suatu sistem, sama dengan mengkhianati ibu kandung sendiri.
Pertemuan yang Mengubah Pandangan Saya
Sampai di suatu ketika, saya bertemu dengan seorang perempuan di salah satu organisasi saya. Dia tidak glamor, tidak hobi ceramah tentang feminisme, tidak pula sibuk mengutip teori muluk-muluk perihal gender. Biasa saja, tapi bagi saya pemikirannya yang tidak biasa. Pemikirannya masih segar, terbuka dan saya melihat sosok yang sepertinya berani mengambil beban.
Sejak itu, kami melalui banyak hal bersama; kerja lapangan, diskusi panjang, konflik internal dan keputusan yang memusingkan. Hal-hal tersebut yang hari demi hari membuat tumpukan prasangka buruk saya mulai runtuh. Hingga tibalah masa pemilihan ketua organisasi.
Secara kapabilitas, saya dan beberapa teman lelaki jelas punya peluang besar. Saya tahu betul kapasitas saya. Namun, entah kenapa, logika berpikir saya tertuju pada dia. Pada awalnya, jujur saja ada niat “ngetes”: apakah dia akan sama aja dengan perempuan-perempuan yang dahulu membuat saya skeptis? Saya ajukan tawaran untuk menjadi calon ketua. Tidak butuh waktu berminggu-minggu, dia menjawab; “Iya. Aku Siap.” Sederhana, tapi langsung menghantam hati saya yang paling dalam. Seketika, seluruh stereotipe saya runtuh.
Ketua Tidak Sekadar Simbol
Sejak hari itu, saya bersumpah atas diri saya sendiri untuk membantu secara penuh baik suka maupun duka. Benar saja, jabatan ketua bukanlah arena yang indah. Hampir setiap pekan ada air mata di bilik ruang sekretariat. Vitamin C yang ia tenggak entah berapa banyak masuk ke tubuhnya. Kritik, tekanan dan caci maki datang dari segala penjuru, tanpa jeda.
Namun, dia tidak lari ataupun memainkan kartu gender untuk minta pengertian. Dia berdiri, jatuh, nangis, berdiri lagi. Bagi saya, itu bukan hanya tanda kapasitas seorang perempuan. Itu merupakan bukti bahwa kualitas tidak punya jenis kelamin.
Sekarang, setiap kali ada yang menyepelekan perempuan, saya justru teringat paras ketua saya, dengan matanya yang sembab karena lelah tapi tetap hadir di rapat-rapat berikutnya. Saya bangga dipimpin oleh ketua perempuan. Dan lebih daripada itu, saya bangga pernah keliru. Karena dari kekeliruan itu, saya belajar memahami bahwa di dunia ini tidak butuh laki laki yang merasa selalu benar, akan tetapi manusia yang mau membuka pikiran.[]

