Tatkala senja dibanjur hujan, parkiran Episode Kopi tergenang sepi. Genangan kecil memantulkan cahaya lampu yang berpendar seperti bulir-bulir kenangan yang enggan pergi. Di sana hanya Bondit, Fahmi, serta Barista menemani dan menyuguhkan kopi kepada vokalis Sembilu, Opi. Khusus hari pamungkas ini aku menuliskan dari segala rasa yang ada dalam diri.
Hari itu, hari pamungkas 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, dan aku menuliskan ini dari segala rasa yang mendesak keluar dari dalam diri. Sejak pagi, perasaanku sebagai panitia bercampur antara lelah, cemas, dan semangat yang kami ikat erat agar tak tercerai oleh dinamika akhir acara. Panggung HAM, yang sudah sebulan terbayangkan, tiba-tiba terasa begitu rapuh. Bukan karena kurangnya persiapan, tetapi karena absennya sebagian panitia dalam lima hari terakhir. Kesibukan hidup memaksa masing-masing dari kami memikul beban yang tak terjadwal.
Malam sebelumnya, pasca talk show “Berdaya di Balik Lensa” masih bertempat di Episode Kopi, evaluasi yang amat realistis merangkai tanggung jawab yang lebih spesifik. Kami tidak lagi membuat gimik media, mencetak poster, atau memastikan proposal terkirim untuk sponsorship. Lebih teknis penampilan, Burhan yang memastikan diri tidak akan terlibat di malam puncak, menegaskan persiapan panggung, sound sistem, hingga penjemputan dan interaksi kepada bintang tamu agar berkesan etis.
Enam orang panitia tersisa memaksimalkan waktu, tenaga, dan secuil harapan. Maka ketika senja itu datang, panggung sudah berdiri tegak, pengeras suara menyala, dan operator duduk di belakang meja kontrol. Namun menjelang maghrib, hanya segelintir panitia yang menemani Opi. Bahkan napas angin terasa lebih ramai alih-alih manusia.
Berceloteh Soal Sembilu
Aku menyusup di sela obrolan Bondit dan Fahmi kepada Opi. Aku lontarkan sebuah pertanyaan tentang nama yang menjadi media karya musik Opi. Kiranya unik untuk mengetahui apa, kenapa, dan bagaimana Sembilu bisa bernyawa?
“Itu sebenarnya dari teman,” ujarnya sembari menengok ke arah Bondit yang sedang memastikan speaker tidak mendesis. “Dulu tuh kalau manggung, kan pakai name tag. Tapi kok rasanya seperti petugas apa gitu, kalau cuma ‘opi’.”
Ia tertawa kecil. Nama sederhana itu terasa terlalu datar untuk lagu-lagu yang tajam seperti irisan bambu. Dalam ceritanya, dulu ia sempat ingin menamakan diri “Benalu”. Namun rasanya aneh bila orang dipanggil naik panggung dengan nama itu. Sembilu akhirnya menjadi pilihan. Tajam, pendek, dan pas untuk lirik-lirik yang melukai keserakahan dunia.
Opi memulai musiknya pada 2013. Sebelum itu, ia adalah seorang penyiar Prambors. Hidup sempat membawanya kembali ke Palembang, kampung halaman yang membentuknya sebagai “wahabi lingkungan”, ketika Sumatra Selatan menjadi lahan yang tak lagi ramah pada manusia.
Ia menyaksikan sendiri hutan digunduli, daerah dijual atas nama pembangunan, dan virus merembes dari perut bumi hingga menghantam warga. Semua itu kemudian ia sulam ke dalam karya.
Hubungannya dengan Iksan Skuter menjadi rumah bagi profesionalisme kolektif. “Timku sebenarnya tim Mas Iksan juga. Aku ikut Iksan saja. Kolektif profesional, ya,” katanya sambil menepuk-nepuk handuk kecil di bahunya. Gesturnya berbicara seolah menyambung kalimatnya.
Selepas itu, ia merapikan pedal board, membersihkan gitar, dan sesekali menunduk seperti orang yang sedang berdamai dengan diri sendiri. Sementara aku memastikan peserta mulai berdatangan.
Lagi-lagi Cici Situmorang
Suasana di Episode Kopi semakin hangat tatkala pengunjung, khususnya kawan dari Inspiration House gemblengan Cici Situmorang berdatangan. Perempuan berambut bondol helai berkilau mengenakan kaos dan celana jeans malam itu tengah sibuk dengan ruang pesan WhatsApp-nya.
Akhirnya ia tertarik ketika aku menyinggung tema pers mahasiswa yang sedang dirintisnya. Energinya langsung menyala seperti korek yang baru digerakkan. Ia bercerita panjang tentang sesi diskusi saat Mertika dan AJI Bandung menggelar nonton bareng film jurnalisme warga. Ia menegaskan bahwa ruang-ruang seperti itu harus terus dibangun agar generasi muda tidak tenggelam dalam kesepian digital.
Panjang lebar api itu berkobar dalam obrolan, ia kemudian menegaskan kenapa ia mau hadir dan tampil di acara puncak ini. Menurutnya, tantangan anak muda masa kini yaitu kesehatan mental yang kemungkinan terus digerogoti oleh angkuhnya teknologi. Sehingga anak muda, khususnya gen-z kerap merasa sendiri. Untuk itu dirinya terus meneruskan info kegiatan-kegiatan kolektif dan positif, sepeti halnya 16 HAKTP ini.
“Aku biasa dapat curhatan dari banyak-banyak mahasiswaku. Malah sebagian aku ga kenal. Miris aku. Makanya aku suka ajak-ajak anak-anak ke acara begini, biar mereka ga ngerasa sendiri,” ujar Cici, sembari mengeluarkan secarik kertas teks puisi yang sudutnya lecek.
Azan Isya berkumandang, Ulya Mukarromah menghampiri dan memastikan Cici untuk tampil pertama. Atmosfer keseruan semakin terasa ketika banyak orang berjabat tangan, anatara teman lama, atau baru saja berkenalan.
Penampilan Hampir Tanpa Jeda
Kaos hitam yang seragam dengan panitia, dan kain bati terbebat di perut, membuat pendiri Paham Perempuan, Ulya Mukarromah mantap berdiri sebagai mc. Seruan doa untuk Sumatra dilayangkan, dan diserap amin kepercayaan masing-masing peserta dalam hati. Acara puncak ini jelas merefleksikan Hak Asasi Manusia yang selalu terberangus.
Bungong Jempa lagu Aceh membangunkan larik-larik puisi yang dibacakan Cici Situmorang. Suara dari pengeras suara lari mengejar bulu kudup para hadirin di depan panggung seolah menyuruh bangun. Lirih, merdu dan penuh penghayatan Cici Situmorang menyairkan.
Bondit yang sebelumnya aku sebut rapper dua anak, kini berkesan ia hanya benar-benar si penyanyi cepat. Peran sebagai ayah seketika menghilang dan akan menjelma kebanggaan anaknya pada waktu yang mendatang. Ia menyanyikan lagu yang dibuatnya ketika masa SMA, bertajuk Isun Wong Cirebon.
Yusi Selmi kemudian membacakan puisi tentang kekerasan. Perpaduan beskap cokelat, pakaian formal, dan gawai yang digenggamnya menciptakan ritme tersendiri. Setiap kalimat seperti mengetuk ruang batin hadirin.
Sorot panggung kemudian menyapa Kang Cheppy, musisi lokal legendaris dari OI Cirebon yang membawa anaknya, Hayya Damar. Ia membuka penampilan dengan sedikit guyonan dan memori lama. Hayya, yang terlihat masih belia, tampil dengan kebebasan polos. Suara mereka berpadu dalam duet yang sederhana namun menghangatkan.
Penonton enggan beranjak. Teriakan “lagi, lagi, lagi” menggema, memaksa waktu melambat. Namun malam tetap harus bergeser. Kang Cheppy mundur dengan rendah hati, memberikan panggung kepada bintang tamu yang ditunggu: Sembilu.
Sembilu: dari Hikayat Air hingga Pala Peler di Sumatra
Denting gitar Opi membuka suasana seperti lullaby bertema hutan. Lagu Hikayat Air mengalun pelan, tiga bait sederhana yang berulang tetapi memikat. Sorot mata para peserta tak berpindah, seolah lagu itu menahan mereka dalam satu titik.
Di sela-sela lagu, Opi memperkenalkan diri. Ia bercerita tentang ibunya yang seorang guru dan ayahnya yang seorang wartawan dengan akhir hidup yang mengenaskan. Cerita itu tidak ia sampaikan sebagai ratapan, tetapi sebagai penjelasan mengapa ia tak pernah bisa berhenti menulis rasa ke dalam lagu.
Ia mempersembahkan Nak, Ingat Pesan Bapak, lagu yang menyimpan pesan agar anak-anak ayahnya tidak pernah memosisikan diri sebagai Tuhan.
Sorak tepuk tangan pecah, menolak diam. Suara Opi, petikan gitar, dan gelombang penonton seolah bergandengan tangan menyampaikan realitas yang harus diketahui orang kota: perampasan tanah, janji politisi yang kosong, dan penguasa yang menguasai dengan cara menyingkirkan.
Kolaborasi dengan Kang Cheppy menjadi kejutan penutup. Mereka mengimprovisasi Yang Pernah Terlupakan milik Iwan Fals, lalu Ibu. Dua lagu yang langsung menancap pada relevansi 16 HAKTP tentang rumah, kehilangan, dan ketidakadilan.
Sebagai penutup, Sembilu memainkan lagu berjudul unik, Pala Peler. Penonton di bilangan Episode Kopi tertawa kecil, tetapi Opi segera menjelaskan. Pala Peler adalah akronim dari Perusak Alam Penghancur Lereng. Lagu itu bercerita tentang mereka yang mengatasnamakan lingkungan, namun meninggalkan kerusakan yang lebih parah setelahnya.
Malam menggantung setelah lagu terakhir selesai, tetapi gema yang tersisa tidak pergi.
Di halaman kecil Episode Kopi, seni, suara, dan perlawanan saling bertaut menjadi satu kisah bersama. Malam puncak 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan itu tidak hanya menjadi acara, melainkan ruang perjumpaan, ruang pulih, ruang tumbuh, dan ruang untuk saling menguatkan. Senja yang dibasuh hujan tidak membatalkan apa pun. Justru dari genangan sepi itu, suara-suara lahir, menembus batas kecil halaman, menuju dunia yang lebih besar dan lebih getir.[]
Penulis: Raihan Athaya Mustafa

