Mengubah Masalah menjadi Solusi

Sumber Gambar: greatmind.id

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari masalah. Mulai hal sederhana misalnya mengapa nasi cepat basi, bagaimana cara mengatasi ponsel yang tiba-tiba lemot. Atau hal yang lebih rumit seperti tentang keuangan, menyelesaikan masalah hubungan, atau merencanakan masa depan. Tanpa sadar, kita sering menggunakan pola berpikir ilmiah untuk menghadapi setiap tantangan tersebut.

Cara mengamati, menganalisis, bertanya hingga menarik kesimpulan juga bagian dari aktivitas manusia sehari-hari. Maka dari itu, esai ini bertujuan membahas bagaimana sarana berpikir ilmiah bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Lalu bagaimana pola tersebut membantu kita mengubah masalah menjadi solusi yang efektif. Dengan memahami mekanisme berpikir ilmiah, kita dapat berpikir secara jernih, objektif, dan sistematis.

Setiap proses ilmiah biasanya selalu mulai dari pengamatan (observasi)Dalam kehidupan sehari-hari, observasi menjadi sarana penting bagi kita untuk memahami suatu keadaan sebelum mengambil keputusan. Misalnya ketika merasakan badan tidak enak, kita akan memperhatikan gejala muncul, bagian mana yang sakit, apakah kepala pusing, pilek, batuk, atau lemas. Pengamatan ini menjadi dasar untuk menentukan apa yang harus kita lakukan selanjutnya.

Tanpa observasi yang baik keputusan yang kita ambil cenderung tidak tepat. Observasi juga terlihat dalam hal sederhana seperti memasak. Ketika menggoreng ikan kemudian gosong, kita akan memperhatikan apakah api kompornya terlalu besar. Atau minyak yang terlalu sedikit, atau terlalu lama membaliknya. Ketelitian inilah yang menjadikan pengamatan sebagai fondasi berpikir ilmiah. Tanpa sadar kita sedang mengamati pola, perubahan, dan respon yang terjadi di sekitar.

Sarana Berpikir

Sarana berpikir ilmiah selanjutnya terlihat saat munculnya rasa penasaran yang menimbulkan sebuah pertanyaa. Contohnya ketika sedang bermain gim tetapi tiba-tiba sinyal hilang atau lambat. Biasanya akan timbul pertanyaan kenapa sinyal hilang, apakah karena cuaca, atau banyak perangkat yang tersambung, dan sebagainya. Pertanyaan tersebut akan membuka jalan untuk mencari penyebab masalah yang terjadi dan mencari solusi. Yakni dengan memeriksa jumlah perangkat terhubung, atau mengatur ulang (restart) modem atau router. Proses bertanya inilah yang menuntun kita pada pemahaman.

Kemudian, berpikir ilmiah menuntut kemampuan kita untuk menentukan inti permasalahan. Banyak persoalan menjadi sulit terselesaikan bukan karena tidak ada solusi, tetapi karena akar masalahnya tidak tertemukan. Sebagai contoh seorang pelajar yang nilainya menurun mungkin merasa bahwa ia tidak pintar. Padahal bisa jadi penyebabnya karena dia malas belajar, salah metode belajar, atau kondisi mental nya sedang tidak stabil. Maka, solusi yang bisa ia ambil dengan cara memperbaiki metode belajar, membuat manajemen waktu belajar, membangun sistem dukungan agar tidak malas belajar, menjaga kondisi mental dan kebugaran. Dengan merumuskan masalah dengan benar bisa membuat solusi mudah ia temukan.

Baca Lainya  Perempuan dan Iduladha

Dalam metode ilmiah, data sangat penting dalam kehidupan sehari-hari untuk mengambil keputusan yang baik bukan hanya berasal dari asumsi. Contoh mudahnya adalah ketika kita akan membeli ponsel. Kita akan mencari tahu spesifikasi, membaca ulasan, membandingkan harga dan meminta pendapat orang lain. Semua itu merupakan proses pengumpulan data.

Contoh lain seperti memilih makanan untuk diet. Kita akan mencari informasi berapa kalori yang harus terkurangi, apa saja kandungan gizinya, dan efek pada tubuh. Solusi tepat dengan memperhatikan kalori, kandungan nutrisi dan reaksi tubuh, hindari diet ekstrem atau informasi yang tidak valid. Tanpa data keputusan cenderung subjektif dan berpotensi salah. Oleh karena itu, data menjadi sarana berpikir ilmiah yang mendorong objektivitas.

Membuat Hipotesis

Berikutnya, kita juga sering membuat hipotesis atau dugaan yang terbuat berdasarkan bukti awal di kehidupan sehari-hari. Misalnya jika AC tidak dingin, kita menduga bahwa mungkin filternya kotor, atau ada masalah pada mesinnya, maka kita bisa mengambil solusi untuk membersihkannya. Namun, jika setelah bersih tetap tidak dingin, kesimpulannya adalah hipotesis tadi salah. Hipotesis hanya membantu membatasi kemungkinan penyebab sehingga kita tidak mencoba semua hal secara acak tetapi memungkinkan bisa terjadi kesalahan juga dalam membuat hipotesis tersebut.

Hipotesis juga bisa terlihat dalam dinamika sosial, misalnya ketika pasangan kita tidak segera membalas pesan. Kita membuat hipotesis, mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, mungkin baterai ponselnya habis, atau mungkin sedang tidak ingin terganggu. Maka, dapat terselesaikan dengan pendekatan ilmiah dengan mengamati, menguji hipotesis dan berkomunikasi. Solusi yang muncul jadi lebih rasional, tidak terburu-buru, dan menghindari konflik yang sebenarnya tidak perlu. Proses menimbang inilah yang menunjukkan bahwa berpikir ilmiah hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam banyak situasi, kita juga sering melakukan eksperimen kecil untuk menemukan solusi. Ini merupakan bagian penting dari berpikir ilmiah, misalnya saat kita merasa kesulitan tidur, kita akan mencoba beberapa eksperimen kecil seperti mematikan lampu kamar, mengurangi penggunaan ponsel, mendengarkan musik relaksasi, atau mengatur suhu ruangan. Setiap tindakan inilah merupakan bentuk eksperimen kecil untuk melihat mana yang paling efektif memperbaiki kualitas tidur kita. Hal ini menunjukkan bahwa berpikir ilmiah sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, kita mencoba, gagal, lalu memperbaiki sampai menemukan solusi yang tepat.

Baca Lainya  Mendidik Generasi Emas: Perempuan sebagai Sekolah Pertama

Konsekuensi Tindakan

Salah satu sarana berpikir Ilmiah yang sangat penting adalah kemampuan melihat hubungan sebab-akibat. Dalam sains, hubungan ini menjadi dasar untuk menjelaskan mengapa sesuatu terjadi. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan ini membuat seseorang mampu memahami konsekuensi atas suatu tindakan tersebut. Contohnya, seorang mahasiswa yang suka begadang menyadari bahwa ia sering mengantuk ketika di kelas. Kemudian, ia menghubungkan dua hal tersebut tidur larut menyebabkan kurangnya konsentrasi saat pembelajaran berlangsung. Dengan begitu, ia akan memikirkan solusi untuk permasalahannya yaitu dengan tidur lebih awal.

Contoh lain yang terjadi misalnya saat ada tanaman berbunga yang layu, seseorang akan berpikir kenapa tanaman ini bisa layu, apa penyebab nya, apakah karena kurang terkena sinar matahari, atau kekurangan air, ataupun karena tanah nya yang kurang subur. Kemampuan menganalisis sebab-akibat tersebut menjadikan seseorang mampu memecahkan masalah dengan lebih cepat. 

Dalam hidup, kita selalu terhadapkan dengan pilihan seperti memilih universitas, jurusan, pekerjaan, makanan yang hendak tebeli, hingga menentukan orang yang bisa terpercaya. Sarana berpikir ilmiah membantu kita mengambil keputusan yang tidak emosional, melainkan terdasarkan pada data dan penalaran logis. Contoh paling simpel dalam kehidupan sehari-hari misal seseorang sedang memilih rute perjalanan yang akan ia tuju. Ia akan mempertimbangkan kondisi lalu lintas, jarak tempuh, berapa lama waktu tempuh, dan biaya transportasi.

Menentukan Pilihan

Semua informasi tersebut akan membantu nya menghasilkan keputusan yang terbaik, inilah bentuk penerapan “decision-making based on evidence”. Kemudian contoh lain yang terjadi saat kita sedang berbelanja, seseorang tidak hanya memilih produk karena iklan tetapi juga membaca komposisi, ulasan dan harganya. Keputusan yang logis akan mengurangi resiko kesalahan. Maka dari itu, mengapa sarana berpikir ilmiah penting karena bisa menyeimbangkan emosi dengan penalaran yang sehat.

Ada bagian penting dalam proses berpikir ilmiah yang sering terlupakan, yaitu refleksi diri. Para ilmuwan tidak hanya mengamati fenomena, tetapi juga meninjau ulang proses berpikirnya. Dalam dunia perkuliahan, refleksi membantu mahasiswa memahami cara belajar yang paling efektif, memperbaiki pengelolaan waktu, serta meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan dosen maupun teman-temannya. Sarana berpikir ilmiah bukan hanya menjadi alat untuk menyelesaikan tugas akademik, tetapi juga sebagai sarana pengembangan diri yang membuat mahasiswa lebih mandiri, kritis, dan siap menghadapi tantangan akademik maupun kehidupan sosial kampus.

Baca Lainya  Girls Lead the Class: Pendidikan itu Power

Setelah mengamati, bertanya, dan mencoba beberapa solusi alternatif, kita biasanya membuat kesimpulan berdasarkan hasil yang paling konsisten. Ini adalah bagian akhir dari proses ilmiah, kesimpulan seperti itu, bukan muncul secara acak, tetapi melalui bukti dan pola yang berulang-ulang seperti metode ilmiah yang para peneliti gunakan hanya saja dalam skala kehidupan sehari-hari.

Berpikir Ilmiah

Selain itu, berpikir ilmiah juga membutuhkan sikap ilmiah yaitu; kejujuran pada data, keterbukaan terhadap koreksi, kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, dan sikap kritis sebelum menerima informasi. Dalam kehidupan modern, terutama di era media sosial, sikap ilmiah menjadi benteng untuk menghindari hoaks, dan keputusan implusif. Dengan sikap kritis, kita tidak langsung percaya pada informasi tanpa mengecek sumbernya. Dengan sikap yang terbuka, kita menerima bahwa pendapat kita bisa salah, sikap ilmiah inilah yang membuat kita mampu mengubah masalah menjadi solusi secara efektif.

Pada akhirnya, berpikir ilmiah bukanlah sesuatu yang jauh, rumit, atau hanya menjadi milik para ilmuwan saja, karena setiap hari tanpa sadar kira sering menggunakan proses ilmiah tersebut. Sarana berpikir ilmiah membantu kita mengambil keputusan yang lebih tepat, baik dalam hal yang sederhana seperti mengatur waktu istirahat, hingga persoalan yang lebih kompleks lainnya. Berpikir ilmiah bukan sekedar teknik penelitian, melainkan kita bisa mengetahui bagaimana cara memahami realitas secara lebih jernih.

Melalui pengamatan, pertanyaan, perumusan masalah, pengumpulan data, hipotesis, eksperimen, hingga kesimpulan, kita dapat mengubah masalah menjadi solusi secara sistematis. Sarana seperti berpikir sebab-akibat, pengambilan keputusan berbasis data, verifikasi informasi, dan refleksi diri membuat kita membuat kita lebih banyak tahu cara kita melihat dunia. Dengan menerapkan sarana berpikir ilmiah, setiap tantangan dalam hidup dapat dihadapi dengan lebih tenang, rasional dan efektif.

Inilah yang menjadikan berpikir ilmiah bukan hanya milik ilmuwan, tapi milik setiap manusia yang ingin hidup lebih terarah dan penuh solusi. Berpikir ilmiah bukan tentang menjadi pintar, tetapi tentang berani memahami dunia secara lebih sadar. Dan itu adalah kemampuan yang dapat dipelajari, dilatih, dan digunakan oleh siapa saja, dan kapan saja.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *