Membedah Kata “Nyambung” dalam Perspektif Gender

Sumber Gambar: almataa.ac.id

Tulisan ini lahir dari sebuah keresahan kecil yang muncul justru di tengah suasana liburan akhir bulan lalu. Momen tersebut terjadi dalam beberapa perbincangan santai bersama sejumlah rekan perempuan di Surakarta. Penulis berulang kali memancing perdebatan dalam banyak sudut pandang relasional cinta, hingga kemudian lahir anggapan dari sudut pandang perempuan. Bahwa kemampuan nyambung atau tidaknya seorang laki-laki saat berbincang merupakan cerminan kecerdasan intelektual. Dengan begitu, mereka kerap teranggap lebih layak tertempatkan di atas kecerdasan emosional.

Kata kunci tulisan ini yaitu diksi nyambung atau kemampuan membangun percakapan relasional cinta yang lebih hidup dalam satu waktu dan situasi. Nyambung juga terpahami sebagai urusan kesamaan dalam cara berpikir, keluwesan berbahasa, dan kecepatan merespons topik pembahasan.

Titik inilah yang melatarbelakangi tulisan ini, mencoba menimbang ulang suatu pertanyaaan besar. Benarkah nyambung dalam relasional cinta, semata-mata lahir dari kecerdasan intelektual terlebih dahulu? Atau justru berakar lebih dalam pada kecerdasan emosional yang kerap luput kita perhitungkan?

Kecerdasan Emosional

Keresahan ini muncul karena adanya anggapan perempuan sering menyederhanakan sesuatu yang jauh lebih kompleks. Penulis melihat adanya kecenderungan perempuan untuk mengabaikan peran kecerdasan emosional dalam melahirkan rasa nyambung itu sendiri. Padahal, dalam banyak pengalaman relasional, kemampuan mengelola emosi, menempatkan diri, dan memperlakukan lawan bicara dengan kesadaran sering kali justru menjadi prasyarat utama agar percakapan bisa mengalir dan terasa hidup. 

Sederhananya, jika ingin sedikit terus terang, perdebatan tentang cinta sering tersederhanakan menjadi urusan rasa versus logika. Namun, jika menelisik lebih dalam, persoalan ini terjadi karena adanya perbedaan epistemologi relasional cara laki-laki dan perempuan memahami, menilai, dan memaknai kualitas pasangannya.

Bagi banyak perempuan, nyambung berarti mampu berpikir setara, menyusun argumen, memahami konteks, serta merespons secara logis dan relevan. Kecerdasan emosional laki-laki memang terakui penting, tetapi sering ternggap bukan variabel utama, melainkan turunan dari kecerdasan intelektual yang matang. 

Baca Lainya  Memandang (Raga) Perempuan

Di satu sisi, perempuan menempatkan kecerdasan intelektual laki-laki sebagai fondasi utama relasi. Namun laki-laki cenderung melihat kecerdasan emosional sebagai prasyarat paling mendasar bagi cinta yang hidup dan berkelanjutan sebelum berbicara intelektual.

Sudut Pandang

Komunikasi yang nyambung memang berakar pada kemampuan pemrosesan informasi dalam memahami maksud lawan bicara, memberikan umpan balik, dan membaca konteks sosial. Ketika kita melihat sudut pandang ini, beberapa perempuan memandang bahwa jika kecerdasan intelektual seorang laki-laki cukup kuat, maka persoalan emosional mereka akan terkelola dengan sendirinya. 

Kecerdasan emosional teranggap bisa tiap orang latih, kompromikan, atau sesuaikan seiring waktu. Dengan kata lain, perempuan lebih memandang cinta sebagai kemitraan rasional yang terbentuk dari dua individu yang bisa berdiskusi, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah bersama. 

Namun laki-laki melihat persoalan ini dari arah sebaliknya. Bagi mereka, nyambung bukanlah semata hasil kecerdasan intelektual, melainkan ekspresi dari kecerdasan emosional yang matang. Seseorang bisa sangat pintar secara akademik, tetapi jika gagal mengelola ego, tidak peka terhadap perasaan pasangan, tidak asyik ketika berdialog, atau tidak mampu menempatkan diri dalam situasi emosional tertentu. Maka percakapan secerdas apa pun akan terasa garing, kaku, atau mungkin jauh dari kata mengasyikkan. Justru bagi laki-laki, emosi adalah infrastruktur relasi. Intelektual tanpa fondasi emosional hanya menghasilkan perdebatan, bukan dialog kekhasan cinta itu sendiri. 

Perdebatan ini sesungguhnya menyentuh pertanyaan filosofis klasik, apakah kesadaran rasional mendahului relasi emosional, atau justru sebaliknya? Pada momen diskursus tersebut, penulis memberikan opini bahwa perempuan cenderung berpijak pada suatu asumsi yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk rasional yang kemudian berelasi secara emosional. Maka, intelektual menjadi pintu masuknya. 

Sebaliknya, laki-laki melihat manusia sebagai makhluk relasional yang terlebih dahulu merasakan, baru kemudian berpikir. Maka, emosional menjadi prasyaratnya. Artinya kecerdasan emosional harus menjadi awal sebelum menginjak ranah kecerdasan intelektual. 

Baca Lainya  Membangun Desa Inklusif Berperspektif Gender: Pengabdian Masyarakat UIN Raden Mas Said Surakarta untuk Perempuan dan Anak

Relasi Sosial

Menariknya, dalam banyak studi psikologi perkembangan, kemampuan kognitif dan emosional memang saling berkaitan, tetapi kecerdasan emosional sering kali menjadi penentu efektivitas kecerdasan intelektual dalam relasi sosial. Artinya, intelektual yang tinggi tidak otomatis menghasilkan relasi yang sehat, tetapi kecerdasan emosional yang baik cenderung memfasilitasi pertumbuhan aspek intelektual dalam hubungan.

Oleh sebab itu, kecerdasan intelektual memang penting, bahkan sangat penting. Namun, tanpa kecerdasan emosional, ia kehilangan fungsi relasionalnya. Emosionallah yang menyelaraskan kontrol diri, penempatan posisi, dan kesadaran akan cara memperlakukan pasangan. Ketika fondasi ini kuat, percakapan akan mengalir, konflik dapat ternegosiasikan, dan intelektual akan berkembang secara alami (mengikuti).

Sebaliknya, mengabaikan dimensi emosional demi mengejar kesetaraan intelektual tentu berisiko. Tidak lain seperti menciptakan relasi yang tampak cerdas, tetapi miskin kehangatan (garing). Oleh sebab itu, ketika keduanya saling memahami kerangka ini, cinta akan menjadi ruang integrasi antara pemikiran dan perasaan.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *