Melihat Tanpa Mata: Kisah Dua Siswi SLB Pangeran Cakrabuana di Hari ke-9 16 HAKTP

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Hari ke-9 peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) menghadirkan suasana yang berbeda di halaman Episode Kopi pada Rabu, 3 Desember 2025. Tempat yang telah menjadi ruang percakapan sejak awal rangkaian kegiatan itu kembali terisi peserta yang ingin menyimak kisah-kisah yang bermakna. Dua siswi dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pangeran Cakrabuana, Khaerinnishiva Azzita syahban dan Jessica Syala Zaskia hadir, pun guru sekaligus pendamping mereka di sekolah.

Layaknya sebuah talkshow kecil yang hangat, Bondit memandu pertemuan itu dengan gaya santai, melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali kita tahan dalam kepala ketika bertemu penyandang tunanetra. Namun hari itu, pertanyaan-pertanyaan yang mungkin teranggap tabu justru menjadi jembatan untuk membuka ruang pemahaman yang lebih manusiawi. Azzita dan Cika, dua perempuan muda yang hadir bukan sebagai penyintas kegelapan, tetapi penyintas kehidupan, menanggapi semuanya dengan tawa, ketenangan, dan keberanian.

Perjalanan Hidup dalam Kegelapan

Jessica, yang akrab tersapa Cika, adalah gadis 12 tahun yang kehilangan penglihatannya sejak lahir. Prematuritas membuatnya tumbuh tanpa pernah tahu bagaimana bentuk pintu, rupa cahaya, atau bagaimana warna-warni yang sebagian dari kita terasa biasa saja. Cika menceritakan masa kecilnya dengan suar riang, meski di balik itu tersimpan banyak memori pahit yang tak terbayang. Ia pernah mendapat olok-olok di depan rumah saat ibunya pergi. “Sedih… sakit banget,” ucapnya, mencoba menertawakan ingatan yang sebetulnya jauh dari lucu.

Di rumah, Cika lebih sering bermain dengan kucing daripada manusia. Teman-teman sebaya di lingkungannya tak selalu memahami cara mendekatinya, hingga ia terbiasa berteman melalui layar ponsel. Ironis sekaligus indah: ia yang tak pernah melihat cahaya, justru menemukan pertemanan melalui suara yang keluar dari speaker kecil.

Baca Lainya  Dari Dapur ke Ruang Komunal: Eco Enzyme di Hari ke-14 HAKTP

Sementara itu, kisah Azzita justru berjalan dari arah sebaliknya. Lahir dengan penglihatan normal, ia tumbuh dengan kemampuan melihat meski terbatas. Guru TK-nya menyadari bahwa kemampuan membaca dan menulisnya terhambat. Pemeriksaan dokter membuktikan bahwa ia mengalami low vision, penglihatan yang buram dan kacamata tidak dapat membantunya. Kemudian suatu pagi, ia bangun dari tidur dan mendapati dunia sepenuhnya gelap. Cahaya lampu dan matahari yang biasanya masih terlihat samar, ketika di usia ke 12 tahu itu lenyap total.

“Aku nangis seharian,” ungkapnya. Tidak sekolah setahun, tidak ingin keluar rumah, dan merasa dunia mengecil menjadi kamar sempit yang penuh ketidakpastian. Ia kehilangan bukan hanya penglihatan, tetapi juga arah hidup.

Ketika akhirnya masuk SLB, ia berharap menemukan ruang yang menenangkan. Namun kenyataan tidak semulus yang ia kira. Di sekolah barunya, ia juga mengalami kekerasan: mendapak pukulan saat sedang salat Zuhur oleh teman yang tantrum. Trauma itu membuatnya sempat kembali enggan berangkat sekolah. Di balik cerita itu, kita menangkap satu garis yang sama: keduanya tumbuh dalam kesunyian yang panjang. Keduanya mesti menghadapi dunia yang tidak selalu ramah, tapi juga tidak selalu memahami.

Teknologi, Dukungan, dan Proses Menerima Diri

Di tengah keterbatasan fisik, teknologi menjadi sekutu besar. Cika dan Azzita menunjukkan bagaimana gawai pintar bukan hanya alat komunikasi, tetapi sekaligus jembatan kemandirian. Meeka menggunakan fitur pembaca layar, TalBack, keyboard Braille, hingga pendeskripsi foto, uang, buku, dan video. Dengan itu semua, mereka bisa membalas pesan, membaca buku pelajaran, dan memahami gambar yang dikirim orang.

“Ada aplikasi yang baca foto. Ada yang baca uang juga,” ujar Azzita dengan bangga, seolah ingin memastikan semua orang tahu bahwa tunanetra bukan berarti terputus dari dunia modern.

Baca Lainya  Dr. Syaifuddin: Moderasi Beragama adalah Soal Nilai Berkeadilan

Namun kemandirian teknologi tidak serta-merta berarti kemandirian emosional. Proses menerima diri memakan waktu lama dan melelahkan. Cika masih sering merasa terpinggirkan dan sedih karena komentar orang, bahkan sampai saat ini. Sementara Azzita membutuhkan tiga tahun penuh untuk benar-benar berdamai dengan keadaan sejak kehilangan penyerap visual.

Puncak perubahan bagi Azzita terjadi ketika ia bertemu Pak Abduh, guru tunanetra yang kuliah dan mengajar layaknya orang dengan penglihatan penuh. Sosok itu mengubah cara pandangnya terhadap masa depan.  “Tunanetra bisa kuliah, bisa kerja, bisa pergi sendiri,” kata Azzita menirukan ucapan gurunya. Dari situ, ia mulai membangun ulang percaya diri yang lama hilang.

SLB pun menjadi ruang belajar yang penuh dinamika. Murid-murid dengan berbagai jenis hambatan. Seperti tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, autisme mereka hidup bersama dalam lingkungan yang sama. Sempat ada aksi agresif teman yang memukul Azzita dulu. Tepatnya ketika Azzita salat lalu dipukul oleh seorang anak laki-laki. Namun kata Bondit, bukan bullying yang disengaja melainkan tantrum yang menjadi bagian dari kondisi mentalnya. Penjelasan itu menjadi penting, untuk memahami bahwa kekerasan dalam konteks disabilitas kadang memiliki akar yang berbeda dari yang kita bayangkan.

Bakat, Harapan, dan Mimpi yang Terus Menyala

Dari balik kisah-kisah kelam dan proses menerima diri yang berat, keduanya membawa cahaya lain yang tak kalah besar, ialah harapan. Cika bermimpi menjadi guru vokal dan guru mengaji. Suaranya merdu dan ia sering bernyanyi, meski belajar teknik vokal secara otodidak. Minimnya guru vokal di SLB membuatnya harus mengandalkan video-video daring. Bondit, gurunya, bahkan sempat menuliskan lagu tentang tunanetra khusus untuknya. Di panggung kecil itu, ia menyanyikan lagu yang mengisahkan keinginannya melihat wajah ibunya walau sedetik. Momen itu menjadi salah satu bagian paling emosional dalam talk show.

Sementara Azzita menemukan dirinya dalam dunia yang tak ia sangka sebelumnya, catur dan menulis. Ia adalah atlet catur tingkat provinsi, bermain dengan papan khusus tunanetra yang memungkinkan pion tidak jatuh. Ia juga tengah menulis novel tentang masa kecil dan perjalanannya kehilangan penglihatan. Setiap pekan, ia menyetor satu bab kepada Bondit.  “Menarik sekali,” kata gurunya, “karena Azzita menulis dengan detail yang tidak semua orang ingat.”

Baca Lainya  Opening Kampanye #16HAKTP Paham Perempuan: Bedah Buku dan Malam Puisi

Keduanya menunjukkan bahwa mimpi tidak pernah kalah oleh kegelapan. Bahkan ketika banyak pintu dunia umum tertutup bagi penyandang disabilitas, mereka tetap mencari celah untuk masuk. Dari halaman Episode Kopi hari itu, hadirin diajak pembacaan puisi Azzita dan persembahan lagu dari Cika. Dari sana pulalah kita diajak merefleksikan, kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: seorang gadis yang tetap ingin bernyanyi meski tak pernah melihat panggung, atau remaja yang tetap ingin kuliah meski hidupnya pernah runtuh dalam semalam.

Di akhir acara, Bondit menutup percakapan dengan satu kalimat yang memadatkan seluruh makna malam itu: kita tidak sedang melihat dua anak tunanetra dari SLB Pangeran Cakrabuana, tetapi dua manusia yang memilih untuk tetap hidup sepenuhnya, meski tanpa cahaya. Dan dari mereka, kita belajar bahwa melihat tidak selalu tentang mata, tetapi tentang hati yang terus terbuka pada kemungkinan.[]

Penulis: Raihan Athaya Mustafa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *