Fenomena Korean Pop (K-Pop) telah melampaui batas geografis. Serta telah menjadi salah satu subkultur paling dominan di kalangan generasi muda global, termasuk mahasiswa di Indonesia. Dari NCT hingga Aespa, idol K-Pop tidak hanya menawarkan musik, tetapi juga estetika, etos kerja, dan konten yang masif. Keterlibatan mahasiswa terhadap budaya ini seringkali menjadi perdebatan. Maksudnya, apakah ia merupakan hiburan yang menyegarkan atau justru distraksi yang merusak konsentrasi belajar?
Terdapat stigma yang mengaitkan fanatisme K-Pop dengan penundaan akademik (procrastination) dan penurunan nilai. Namun, realitasnya jauh lebih kompleks. Esai ini berargumen bahwa keterlibatan mahasiswa, khususnya calon guru Madrasah Ibtidaiyah, terhadap budaya K-Pop menghasilkan dampak ganda. Baik positif—terutama dalam aspek motivasi dan pengembangan soft skill—maupun negatif dalam bentuk distraksi, yang secara keseluruhan menuntut manajemen diri yang bijak untuk menjaga prestasi akademik.
Salah satu dampak positif yang sering terabaikan dari K-Pop adalah fungsinya sebagai sumber inspirasi motivasi kerja keras. Mahasiswa yang mengidolakan grup K-Pop seringkali menyaksikan dan mempelajari kisah di balik layar para idol. Mulai dari periode trainee yang keras dan disiplin, hingga jadwal promosi yang padat dan tanpa henti. Etos kerja tinggi ini, yang terkenal dengan istilah Korea yeolshimhi (bekerja keras), secara tidak langsung memicu penggemar untuk menerapkan semangat yang sama dalam konteks akademik.
Misalnya, seorang mahasiswa dapat mencontoh ketekunan idol dalam menguasai keterampilan baru sebagai pemicu untuk fokus dalam menguasai mata kuliah sulit. Rasa bangga terhadap idol juga sering mendapat terjemahan menjadi keinginan untuk berprestasi di bidang sendiri. Denga begitu, mereka merasa layak dan seimbang antara aktivitas hiburan dan kewajiban belajar.
Katalis Pengembangan Keterampilan
Selain motivasi, K-Pop juga menjadi katalisator bagi pengembangan berbagai keterampilan praktis. Fenomena ini secara inheren mendorong mahasiswa untuk mempelajari bahasa asing, terutama Bahasa Korea. Agar dapat memahami lirik lagu, variety show, atau siaran langsung (live) idola mereka tanpa menunggu terjemahan. Pembelajaran mandiri ini, meski awalnya terdorong oleh minat, dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan membuka peluang akademik di masa depan.
Lebih lanjut, keterlibatan aktif dalam komunitas penggemar (fandom) sering menuntut keterampilan digital. Banyak mahasiswa yang terlibat dalam pembuatan fanart, pengeditan video klip pendek, atau pengelolaan akun media sosial untuk kegiatan kolektif fandom. Keterampilan seperti desain grafis, literasi digital, dan kolaborasi tim, adalah soft skill yang sangat berharga. Pun dapat teraplikasikan langsung dalam dunia kerja, termasuk sebagai calon guru PGMI yang tertuntut melek teknologi.
Meskipun memiliki dampak positif yang nyata, dampak negatif K-Pop tidak bisa terabaikan, terutama risiko utama berupa distraksi dan penundaan akademik. Sifat konten K-Pop bersifat real-time dan terus-menerus (comeback, rilis album, variety show mingguan, hingga pemungutan suara/voting) dapat menyita waktu belajar.
Dua Mata Pedang
Tekanan sosial dalam fandom untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan kolektif (seperti streaming lagu untuk kenaikan peringkat) seringkali membuat mahasiswa mengorbankan jam tidur atau waktu fokus belajar. Jika tidak terkelola dengan baik, pola ini dapat memicu siklus penundaan (procrastination) yang parah. Dengan begitu, pada akhirnya berdampak langsung pada kualitas tugas dan hasil ujian.
K-Pop adalah pedang bermata dua bagi mahasiswa. Di satu sisi, ia berfungsi sebagai sumber inspirasi etos kerja yang kuat dan pendorong pengembangan bahasa asing serta keterampilan digital yang relevan. Di sisi lain, konten yang masif dan bersifat adiktif berpotensi besar menjadi sumber distraksi yang serius, mengganggu fokus belajar, dan memicu penundaan akademik. Bagi mahasiswa PGMI, kuncinya terletak pada literasi media dan kontrol diri yang tinggi.
K-Pop dapat terintegrasikan secara sehat, misalnya dengan menjadikannya sebagai reward atau jeda singkat setelah sesi belajar yang produktif, bukan sebagai prioritas utama. Dengan mempraktikkan manajemen waktu yang bijaksana, mahasiswa dapat memetik manfaat inspiratif dari budaya pop ini tanpa mengorbankan tujuan utama mereka: kesuksesan akademik dan persiapan menjadi pendidik yang kompeten.[]

