Di Indonesia, guru kerap mendapat posisi terhormat secara simbolik. Mereka mendapat sebutan sebagai pilar pendidikan dan penjaga masa depan bangsa. Namun, penghormatan itu sering berhenti pada kata-kata. Setelah peringatan Hari Guru Nasional berlalu, banyak pendidik kembali menghadapi kenyataan hidup yang jauh dari sejahtera.
Di berbagai daerah, terutama wilayah pinggiran, masih banyak pengajar honorer menerima upah sangat rendah, bahkan harus menunggu lama untuk dibayar. Kondisi ini bukan kasus langka, melainkan potret yang terus berulang. Ironisnya, situasi tersebut seolah teranggap wajar, seakan pengabdian memang harus kita bayar dengan pengorbanan tanpa batas.
Sebuah video viral tentang guru lanjut usia yang direkam muridnya menjadi pengingat yang kuat. Penampilan sang pengajar yang sederhana memicu empati publik. Ribuan komentar bermunculan, bukan untuk mengejek, melainkan mempertanyakan sistem yang membiarkan seorang pendidik menua dalam keterbatasan. Reaksi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menghormati mereka. Masalahnya bukan hilangnya empati sosial, melainkan kebijakan yang belum berpihak.
Jika menengok ke negara lain, posisi guru sangat berbeda. Di Finlandia, Jepang, dan Korea Selatan, profesi pengajar terpandang prestisius. Calon pendidik terseleksi ketat, terlatih serius, dan terjamin kesejahteraannya. Negara memandang pengajar sebagai investasi jangka panjang, bukan beban anggaran. Di Finlandia, misalnya, guru mendapat kepercayaan besar dalam mengelola pembelajaran tanpa terbebani administrasi berlebihan. Hasilnya, kualitas pendidikan mereka terakui dunia.
Sebaliknya, di Indonesia, guru masih terjebak dalam romantisasi pengabdian. Istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” terdengar mulia, tetapi tanpa tersadari menormalisasi ketimpangan. Pengajar seolah tertuntut ikhlas meski hak-haknya belum terpenuhi. Pengorbanan teranggap bagian dari profesi, bukan akibat sistem yang belum adil.
Dedikasi tak Pasti
Ketergantungan pada tenaga honorer memperjelas masalah ini. Banyak sekolah berjalan karena dedikasi guru honorer dengan status kerja tidak pasti. Mereka mengajar, menilai, dan membimbing siswa seperti pengajar tetap, tetapi tanpa kepastian gaji, jenjang karier, maupun jaminan hari tua. Tak sedikit yang harus mencari pekerjaan tambahan demi bertahan hidup.
Kondisi tersebut tentu berdampak pada kualitas pendidikan. Sulit berharap guru bisa sepenuhnya fokus dan kreatif jika terus mendapat bayangan persoalan ekonomi. Energi yang seharusnya mereka gunakan untuk mengembangkan metode belajar justru habis untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Ironisnya, Indonesia memiliki anggaran pendidikan yang besar. Namun dana itu kerap terserap oleh birokrasi, program seremonial, atau kebijakan yang kurang tepat sasaran. Akibatnya, guru kembali menjadi pihak yang terminta beradaptasi, berkorban, dan bersabar.
Video guru tua yang viral seharusnya menjadi alarm serius. Ia menunjukkan bahwa puluhan tahun pengabdian tidak selalu berujung pada kehidupan layak. Jika masyarakat bisa tersentuh dan marah, seharusnya negara lebih dulu merasa bertanggung jawab.
Penghormatan sejati terhadap guru tidak cukup lewat slogan atau unggahan media sosial. Ia harus hadir dalam kebijakan nyata; gaji yang manusiawi, pembayaran tepat waktu, status kerja yang jelas, serta jaminan masa tua. Guru tidak meminta agar mendapat pemuliaan setahun sekali, mereka hanya ingin mendapat perlakuan adil setiap hari. Sebab di balik ruang kelas di seluruh negeri, masih banyak pengajar yang setia mencerdaskan bangsa, meski negaranya sendiri belum sepenuhnya berdiri di pihak mereka.[]

