Pernahkah kita menebak jurusan seseorang hanya dari cara mereka berpakaian (fesyen)? Mahasiswa berdaster dan berkacamata tebal pasti anak sastra. Yang berkaos hitam polos dengan celana cargo tentulah dari teknik. Sementara mereka yang mengenakan kemeja rapi dan sepatu pantofel? Sudah pasti ekonomi atau hukum. Stereotipe semacam ini bukan hal asing di lingkungan kampus. Bahkan tanpa sadar, kita kerap melakukannya menilai identitas akademik seseorang dari penampilan luar mereka.
Fenomena ini menarik untuk dikaji karena menunjukkan bagaimana fesyen telah menjadi penanda sosial yang kuat dalam kehidupan kampus. Gaya berpakaian bukan lagi sekadar pilihan estetika pribadi, melainkan telah berevolusi menjadi semacam “seragam tak tertulis” yang mengkategorikan mahasiswa ke dalam kotak-kotak jurusan tertentu. Pertanyaannya kemudian, dari mana stereotipe ini berasal, dan mengapa kita begitu mudah mempercayainya?
Jawabannya mungkin terletak pada bagaimana setiap disiplin ilmu membentuk budaya tersendiri. Mahasiswa arsitektur, misalnya, terkenal dengan gaya berpakaian serba hitam dan minimalis. Bukan tanpa alasan warna netral teranggap mencerminkan estetika desain yang mereka pelajari. Tertambah lagi, kultur begadang mengerjakan maket membuat mereka memilih pakaian yang praktis dan tidak ribet. Begitu pula dengan mahasiswa seni rupa yang cenderung eksentrik dalam berpenampilan. Pakaian berwarna-warni, aksesoris unik, bahkan potongan rambut yang tidak biasa menjadi bagian dari ekspresi kreativitas yang mereka jalani sehari-hari.
Pragmatisme Fesyen
Di sisi lain, mahasiswa ilmu komunikasi atau hubungan internasional seringkali terlihat lebih “put together” rapi, trendi, dan mengikuti perkembangan mode terkini. Hal ini bukan kebetulan, jurusan- jurusan tersebut memang menuntut kemampuan presentasi dan penampilan yang baik sebagai bagian dari soft skill profesional. Penampilan menjadi investasi untuk membangun personal branding sejak dini. Sementara itu, mahasiswa MIPA atau teknik yang tenggelam dalam perhitungan dan logika cenderung pragmatis pakaian yang nyaman jauh lebih penting daripada yang modis.
“Pada akhirnya, yang menentukan kualitas seorang mahasiswa bukanlah apa yang mereka kenakan, melainkan apa yang mereka pikirkan, ciptakan, dan kontribusikan.”
Namun, benarkah stereotipe ini mencerminkan realitas? Ataukah ini hanya generalisasi yang menyederhanakan kompleksitas individu? Kenyataannya, tidak semua mahasiswa sastra mengenakan daster, dan tidak semua anak teknik alergi terhadap fesyen. Ada mahasiswa informatika yang berpenampilan stylish, ada pula mahasiswa komunikasi yang lebih suka berpakaian santai. Stereotipe fesyen di kampus, pada akhirnya, lebih banyak terbangun oleh persepsi kolektif daripada fakta empiris yang konsisten.
Hal lebih problematik adalah ketika stereotipe ini mulai membatasi kebebasan berekspresi. Seorang mahasiswa akuntansi yang ingin bereksperimen dengan gaya berpakaian kasual mungkin akan mendapat pandangan aneh dari teman-temannya. “Kok, nggak, kayak anak akuntansi,” begitu komentar yang kerap muncul. Sebaliknya, mahasiswa seni yang berpenampilan rapi dan formal bisa teranggap “kurang artistik” atau “terlalu mainstream.” Tekanan sosial semacam ini, meski tampak sepele, dapat memengaruhi bagaimana seseorang membangun identitas dirinya.
Lebih jauh lagi, stereotipe fesyen ini mencerminkan kecenderungan manusia untuk mengategorikan dan menyederhanakan informasi. Otak kita secara alamiah mencari pola dan membuat asumsi cepat untuk memudahkan pemrosesan informasi sosial. Melihat seseorang berpakaian tertentu, kita langsung menghubungkannya dengan kelompok atau identitas tertentu. Ini adalah mekanisme kognitif yang efisien, tapi juga rentan terhadap bias dan prasangka.
Peranti Ekpresif
Padahal, di tengah dinamika dunia modern yang menekankan kebebasan berekspresi, pakaian seharusnya menjadi medium yang membebaskan, bukan membatasi. Kampus sebagai ruang intelektual mestinya menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap perbedaan gaya dan preferensi personal. Bukankah keberagaman adalah bagian dari kekayaan dunia mahasiswa? Setiap gaya berpakaian membawa cerita tentang latar belakang, kepribadian, bahkan nilai yang dianut pemakainya. Maka, daripada menilai dari luarnya saja, lebih bijak jika kita mencoba memahami makna di balik pilihan tersebut.
Menariknya, media sosial kini juga ikut memperkuat dan sekaligus menantang stereotipe itu. Banyak mahasiswa yang memanfaatkan platform seperti TikTok atau Instagram untuk menunjukkan gaya unik mereka, terlepas dari jurusan. Tagar seperti #OOTDKampus atau #CampusLook menghilangkan batas-batas identitas antarjurusan. Fenomena ini membuktikan bahwa generasi muda mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri dan tidak sekadar menyesuaikan diri dengan label sosial yang sudah ada.
Di era yang semakin menghargai keberagaman dan individualitas, sudah seharusnya kita mulai mempertanyakan stereotipe yang telah mengakar ini. Gaya berpakaian adalah hak personal yang tidak semestinya dikaitkan dengan kapasitas intelektual atau pilihan akademik seseorang. Mahasiswa teknik yang fashionable bukan anomali, begitu pula mahasiswa komunikasi yang berpenampilan sederhana. Keduanya sama-sama valid dan tidak mengurangi kredibilitas mereka di bidang masing-masing.
Kampus seharusnya menjadi ruang yang membebaskan, bukan yang mengekang. Tempat di mana mahasiswa dapat mengeksplorasi identitas mereka tanpa takut dihakimi atau dikategorikan. Fesyen adalah salah satu medium ekspresi diri yang paling personal dan seharusnya tetap demikian. Biarkan mahasiswa matematika mengenakan outfit warna-warni jika mereka mau. Biarkan mahasiswa desain berpakaian serba simpel jika itu pilihan mereka.
Pada akhirnya, yang menentukan kualitas seorang mahasiswa bukanlah apa yang mereka kenakan, melainkan apa yang mereka pikirkan, ciptakan, dan kontribusikan. Stereotipe fashion di kampus mungkin akan terus ada selama manusia masih mencari cara mudah untuk membaca orang lain. Namun kita bisa memilih untuk tidak terjebak di dalamnya untuk melihat lebih dalam dari sekadar penampilan luar, dan menghargai setiap individu apa adanya. Karena sejatinya, pakaian hanyalah kain yang kita pilih setiap pagi, bukan definisi dari siapa kita yang sebenarnya.[]

