Fenomena Menunggu Jam Genap untuk Aktivitas

Sumber Gambar: istockphoto.com

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai fenomena terkait kebiasaan tentang waktu. Banyak orang memulai aktivitas bukan karena mereka siap tapi ingin waktu menunjukkan angka genap. Misalnya ada seseorang yang ingin mengerjakan tugas pukul 18.53, ia memilih untuk menunggu hingga pukul 19.00 dengan alasan mengikuti jam genap atau agar pas saja. Demikian juga dengan kegiatan lain seperti janjian bersama teman, membersihkan rumah, berangkat sekolah bahkan ketika mengirim pesan penting.

Fenomena ini kerap kita temukan, bukan hanya pada orang, tapi dalam kebiasaan sosial juga. Hal ini menimbulkan pertanyaan di kepala, “Mengapa semua aktivitas harus menunggu jam genap?”. Di sini kita akan tahu tentang alasan di balik kebiasaan seseorang harus menunggu jam genap dulu sebelum memulai aktivitas.

Kebiasaan menunggu jam genap terkait dengan rasa keteraturan yang manusia inginkan. Pada dasarnya, manusia cenderung lebih menyukai struktur yang rapi, jelas, dan mudah mereka ingat. Angka genap teranggap sesuai kriteria tersebut. Ketika seseorang memulai sesuatu aktivitas pukul 20.00, secara mental ia merasa memulai dari awal yang pas. Berbeda ketika seseorang memulai pukul 19.43 yang tampak tidak ideal dan tidak bulat.

Hal ini berkaitan dengan kebutuhan psikologis untuk membuat aktivitas terasa terorganisasi atau terstruktur. Memulai pada jam genap menciptakan pikiran bahwa kita telah merencanakan sesuatu dengan sistematis, meskipun pada kenyataannya kadang keputusan tersebut muncul secara tidak sadar atau spontan.

Penundaan Efisiensi Waktu

Di sisi lain, fenomena ini juga berkaitan dengan seseorang yang ingin menunda aktivitasnya. Ketika seseorang berkata “Nanti agar jam 10.00 pas dulu”. Tanpa kita sadari hal ini bukanlah tentang efisiensi waktu melainkan bentuk penundaan yang tersamarkan. Menunggu jam genap seolah-olah memberikan celah seseorang untuk bernegoisasi pada diri, seolah ia masih mempunyai kesempatan untuk bersantai sebelum melakukan aktivitas. Tak heran jika ada seseorang yang bersikap seperti itu malah berpotensi untuk tidak jadi melakukan sesuatu, karena dia telanjur mager dan asik dengan kesantaiannya sebelum jam genap.

Baca Lainya  Tren Joget di TikTok dan Dilema Eksistensi Muslimah Modern

Kebiasaan menunggu jam genap juga dapat terpengaruh sosial dan budaya. Sejak kecil kita sudah terbiasa menjalani aktivitas dalam satuan waktu yang teratur. Jadwal pelajaran, seminar, hingga siaran televisi, dan transportasi. Semua tersusun berdasarkan kelipatan lima, sepuluh atau tiga puluh menit. Pola ini semakin lama samkin kita tidak menyadari bahwa waktu yang ideal atau pas adalah waktu yang terstruktur dan teratur.

Di lingkungan kerja, lembaga pendidikan, jadwal ujian, jadwal pertemuan hampir semua di mulai pada menit 00 atau 30. Sebab fenomena tersebut tak heran jika kebiasaan sosial ini terbawa hingga ke aktivitas pribadi, bahkan ke hal yang sederhana dan perilaku sehari-hari seperti mandi, mengerjakan tugas, dam berangkat ketika pergi.

Dampak kebiasaan ini pada produktivitas dapat berdampak positif dan berdampak negatif. Dampak positifnya ialah memulai aktivitas pada waktu yang terencana dan waktu yang mudah teringat membuat kita merasa lebih disiplin dan semangat untuk memulainya. Terdapat orang yang justru lebih produktif ketika mengetahui bahwa ia memulai sesuai tepat pada waktu tertentu. Kebiasaan ini bisa menjadikan sebuah rutinitas seseorang untuk memulai aktivitas di jam genap.

Hambatan Aktivitas

Dampak negatifnya adalah kebiasaan ini membuat kita terjebak di waktu penundaan. Ketika seseorang menunda aktivitas karena ingin menunggu jam genap terlebih dahulu, produktivitas dapat menurun. Penundaan kecil ini dapat menimbulkan penundaan lainnya. Ketika waktu yang ternanti terlewat, kita pasti menunggu jam genap berikutnya, dan seterusnya. Hingga pada akhirnya, kebiasaan menunggu jam genap menjadi sumber penundaan dan kemalasan yang selama ini tidak kita sadari.

Dengan demikian, fenomena menunggu dulu pada jam genap adalah hal yang kompleks. Ia tidak hanya tentang waktu saja, melainkan tentang kebutuhan psikologis akan keteraturan, kebiasaan sosial, dan kebiasaan seseorang untuk menunda. Jika fenomena ini terlaksanakan dengan bijak, ia dapat kita manfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan sebuah produktivitas dan sifat disiplin. Berbanding terbalik jika tidak kita pahami dengan bijak hal ini justru dapat menunda dan menghambat aktivitas serta efektivitas diri.

Baca Lainya  Pelecehan, Pakaian, dan (Kesalahan) Korban

Pada akhirnya, kita perlu belajar bahwa menilai waktu itu bukan hanya pada angka yang tertulis di jam, namun komitmen terhadap diri tentang apa yang ingin dicapai. Memulai sesuatu tidak harus pada jam genap, yang terpenting adalah kita bisa fokus dan memulai aktivitas yang akan kita lakukan. Produktivtas bukan ditentukan dengan angka genap melainkan oleh tindakan nyata yang kita lakukan. Dengan menumbuhkan kesadaran terkait hal ini, kita dapat mengubah waktu bukan sekedar alat penanda, melainkan penggerak untuk menuju perubahan diri yang lebih baik dalam bijak menggunakan waktu.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *