Cirebon – Hujan turun perlahan membasuh pelataran halaman Episode Kopi pada hari ke-14 peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP). Malam 8 Desember 2025 itu, udara terasa lebih lembap dari biasanya. Genangan air tipis di depan gerbang Episode Kopi memantulkan cahaya lampu kedai yang temaram. Sementara aroma tanah basah bercampur dengan bau kopi yang masih setia mengepul dari sudut halaman.
Di tengah suasana yang cenderung lengang, sebuah agenda kecil tapi bermakna tetap berjalan. Belajar bersama tentang eco enzyme, sebuah praktik sederhana yang menyentuh isu lingkungan sekaligus ekonomi domestik. Tidak banyak kursi yang terisi. Beberapa wajah hadir dengan rambut sedikit basah dan atap baja ringan yang masih meneteskan sisa hujan.
Namun justru di ruang yang tidak ramai itu, percakapan terasa lebih intim, lebih perlahan, dan lebih mendalam. Eco enzyme malam itu tidak sekadar terkenalkan sebagai cairan hasil fermentasi, melainkan sebagai cara pandang baru terhadap sampah, kerja-kerja domestik, dan ruang komunal yang memungkinkan pengetahuan tumbuh bersama.
Yayasan Wangsakerta: dari Lingkungan ke Organisir Masyarakat
Kehadiran Riyanti dan Faiz Naufal dari Yayasan Wangsakerta menjadi titik penting dalam agenda malam itu. Yayasan ini terkenal konsisten dalam kerja-kerja lingkungan berbasis masyarakat, terutama dalam upaya mengedukasi warga untuk mengelola sampah dari sumbernya. Mulai dari dapur, rumah tangga, hingga ruang-ruang sehari-hari. Alih-alih membawa jargon besar tentang krisis iklim, Wangsakerta memilih pendekatan yang membumi dengan berbicara dari apa yang paling dekat dengan kehidupan orang banyak.
Diskusi berjalan dengan pertanyaan sederhana tetapi reflektif. Jenis sampah apa yang paling banyak dapur rumah hasilkan. Plastik, sisa makanan, kulit buah, atau sisa sayuran. Dari pertanyaan itu, peserta terajak menyadari bahwa sebagian besar sampah rumah tangga sebenarnya bersifat organik. Sesuatu yang selama ini teranggap tidak berguna dan berakhir di tempat pembuangan akhir atau sengaja membakarnya begitu saja.
Yayasan Wangsakerta menempatkan persoalan sampah bukan semata isu teknis, melainkan persoalan relasi sosial. Sampah yang masyarakat buang sembarangan akan kembali sebagai masalah bagi orang lain. Pencemaran air, udara, dan lingkungan sekitar kerap bermula dari persoalan yang teranggap sepele di tingkat rumah tangga. Di kota seperti Cirebon, di mana aktivitas domestik dan perdagangan kecil berlangsung padat, sampah organik dari kulit pisang, mangga, jeruk, hingga sisa sayuran pedagang menjadi persoalan yang terus berulang.
Melalui eco enzyme, Wangsakerta memperkenalkan alternatif. Bagaimana sisa konsumsi harian dapat berakhir di rumah sendiri tanpa harus dikirim jauh ke TPA. Sebuah upaya kecil, tapi sarat dengan nilai tanggung jawab kolektif. Dalam suasana hujan yang membatasi mobilitas, pendekatan ini terasa semakin relevan. Bahwa perubahan tidak selalu menunggu ruang besar, melainkan bisa mulai dari meja dapur.
Eco Enzyme: Fermentasi, Kesabaran, dan Pengetahuan Sehari-hari
Eco enzyme yakni cairan hasil fermentasi limbah organik, khususnya kulit buah dan sayuran, yang tercampur dengan molase atau gula alami serta air. Prosesnya sederhana, bahannya murah, dan siapa saja bisa melakukannya. Tiga bahan utama, yaitu kulit buah, molase, dan air, menjadi penanda bahwa pengetahuan tidak selalu harus rumit untuk berdampak.
“Di dapur tuh pasti ada sampah dari bawang, kulit bawang, sisa sayuran. Kalau keluarganya suka buah, pasti ada kulit pisang, mangga, jeruk. Itu yang paling sering kita hasilkan.” ujar Riyanti sebagai pemantik. “Nah, kalau molase itu limbah dari gula. Kalau nggak ada molase, bisa pakai gula merah atau gula aren, yang penting jangan gula pasir.” lanjut Riyanti
Dalam praktiknya, eco enzyme memiliki rumus perbandingan yang cukup terkenal, yakni 1 : 3 : 10. Satu bagian molase, tiga bagian bahan organik, dan sepuluh bagian air. Peserta mendapat ajakan memahami bahwa ketelitian menjadi kunci. Bahan harus bersih, kulit buah tidak boleh busuk, dan wadah sebaiknya berbahan plastik dengan mulut lebar agar aman selama proses fermentasi.
Nilai Kesabaran
Proses ini membutuhkan waktu. Minimal tiga bulan, dengan perawatan sederhana berupa membuka tutup wadah secara berkala untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi. Di sinilah eco enzyme mengajarkan nilai yang jarang dibicarakan dalam diskursus ekonomi, yakni kesabaran. Tidak ada hasil instan. Cairan ini melalui fase alkohol, berubah menjadi cuka, hingga akhirnya menjadi enzim.
Ciri eco enzyme yang berhasil pun terjelaskan secara rinci. Warna tidak terlalu hitam, aroma asam khas fermentasi dan bukan bau busuk, serta munculnya jamur putih sebagai tanda proses berjalan baik.“Semua alat dan bahannya harus bersih. Kalau ada yang kotor, eco enzyme-nya bisa gagal.” Tegas Riyanti untuk tetap seksama selama proses pembuatan eco enzyme.
Dari satu botol kecil, manfaatnya menjalar ke banyak aspek kehidupan. Mulai dari pembersih lantai, sabun cair, antiseptik alami, pestisida tanaman, hingga upaya menjernihkan air tercemar. “Eco enzyme ini bisa mengurangi pengeluaran. Kita nggak mesti terus-terusan beli sabun atau pupuk kimia.”
Dalam konteks tekanan ekonomi domestik, eco enzyme menjadi siasat yang masuk akal. Ia tidak sepenuhnya menggantikan produk pabrikan, tetapi mampu mengurangi ketergantungan dan pengeluaran. Sabun bisa dicampur eco enzyme, cairan pel bisa diperkaya tanpa menambah biaya, bahkan sisa ampasnya pun masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Tidak ada yang benar-benar terbuang.
Mahasiswa dan Ruang Komunal: Belajar, Bertanya, dan Bertahan
Diskusi malam itu tidak berhenti pada praktik teknis. Percakapan bergeser ke peran mahasiswa dan pentingnya ruang komunal seperti Episode Kopi. Kehadiran mahasiswa dalam forum kecil semacam ini menjadi penanda bahwa pengetahuan tidak melulu lahir dari ruang kelas. Justru di tempat-tempat informal, ide-ide sering menemukan konteks hidupnya.
Mahasiswa diposisikan bukan sebagai penonton perubahan, melainkan sebagai penghubung. Penghubung antara pengetahuan lingkungan, realitas ekonomi keluarga, dan kerja-kerja komunitas. Eco enzyme, dalam diskusi ini, bukan sekadar topik lingkungan, tetapi pintu masuk untuk membicarakan kerja domestik yang sering tak terlihat, beban ekonomi yang kerap ditanggung perempuan, serta pentingnya solidaritas berbasis praktik sehari-hari.
Ruang komunal seperti Episode Kopi memungkinkan semua itu bertemu. Ia menjadi tempat belajar tanpa hierarki kaku, tempat bertanya tanpa takut salah, dan tempat gagasan tumbuh dari pengalaman konkret. Hujan yang membatasi jumlah peserta justru memperkuat suasana diskusi. Lebih pelan, lebih intim, dan lebih jujur.
Di hari ke-14 HAKTP, eco enzyme hadir sebagai metafora. Dari sisa, dari yang dianggap tidak bernilai, sesuatu yang berguna dapat lahir. Begitu pula dengan ruang-ruang kecil perlawanan terhadap kekerasan struktural, baik terhadap perempuan, lingkungan, maupun kelompok rentan lainnya. Perlawanan itu tidak selalu berisik. Kadang ia hadir dalam botol plastik, kulit buah yang difermentasi, dan obrolan hangat di tengah hujan.
Malam itu ditutup tanpa seremoni besar. Hujan masih turun, kursi-kursi mulai dirapikan, dan botol eco enzyme yang baru dibuat disimpan untuk proses panjang tiga bulan ke depan. Namun pengetahuan telah berpindah tangan. Dari yayasan ke peserta, dari ruang komunal ke dapur-dapur rumah, dari diskusi ke praktik sehari-hari. Sebuah langkah kecil, tetapi berakar, seperti fermentasi yang pelan, senyap, dan bekerja dalam diam.[]
Penulis: Raihan Athaya Mustafa

