Ada satu hal yang baru benar-benar saya pahami ketika tumbuh dewasa: proses belajar tidak selalu terjadi di ruang kelas. Ia bisa hadir di dapur yang sempit, di meja makan yang sederhana, atau di percakapan singkat antara ibu dan anak setelah hari yang melelahkan. Dalam ruang-ruang itulah, ibu dan saya sebenarnya sedang menjalani proses yang sama belajar menjadi perempuan tangguh dan kuat.
Ibu tidak pernah menyebut diri sedang “belajar”. Ia menjalani hari-harinya dengan bekerja, mengurus keluarga, dan bertahan dalam keterbatasan tanpa banyak keluhan. Namun justru dari caranya menghadapi hidup, saya melihat bentuk pembelajaran yang paling nyata. Ibu belajar bertahan, dan tanpa ia sadari, saya ikut belajar bersamanya.
Ketika saya bersekolah dan sibuk dengan buku, tugas, serta cita-cita, ibu juga sedang menempuh pendidikannya sendiri. Bedanya, pelajaran ibu tidak tercatat dalam rapor. Ia belajar mengelola emosi ketika lelah, belajar menunda keinginan demi kebutuhan keluarga, dan belajar tetap tegar di tengah kondisi yang tidak selalu ramah pada perempuan. Pendidikan ibu berlangsung dalam senyap, tetapi dampaknya terasa nyata.
Tumbuh dalam Tuntutan
Sebagai anak perempuan, saya tumbuh dengan berbagai tuntutan. Saya ibu ajarkan untuk rajin, patuh, dan kuat, sering kali dalam satu tarikan napas. Di sisi lain, ibu adalah contoh nyata dari semua tuntutan itu. Ia tidak berbicara panjang lebar tentang emansipasi atau kesetaraan, tetapi hidupnya sendiri menjadi pelajaran tentang bagaimana perempuan sering kali tertuntut kuat tanpa mendapat cukup ruang untuk lelah.
Dalam proses belajar ini, saya menyadari bahwa kekuatan perempuan tidak selalu berarti keras atau tak tergoyahkan. Kekuatan ibu justru tampak dalam ketekunannya menjalani hari yang berulang, dalam kesediaannya belajar dari kesalahan, dan dalam caranya bangkit setiap kali keadaan tidak sesuai harapan. Dari situ saya belajar bahwa kuat bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan mampu berdiri kembali dengan cara yang lebih bijak.
Ada momen ketika saya merasa tertinggal atau ragu akan masa depan. Di saat seperti itu, ibu juga menghadapi kebingungannya sendiri. Bedanya, kebingungan ibu jarang mendapat ruang untuk ia ceritakan. Ia terbiasa menyimpan kegelisahan demi terlihat kuat di hadapan keluarga. Namun justru dari situ saya belajar bahwa perempuan sering kali belajar dalam sunyi, tanpa sorotan, tetapi tetap bertahan.
Pendidikan yang saya terima di sekolah membantu memahami dunia secara teoritis. Namun pendidikan yang saya pelajari dari ibu membantu memahami kehidupan. Keduanya berjalan berdampingan. Saya belajar membaca dan menulis, sementara ibu belajar membaca keadaan dan menulis ulang harapan-harapannya. Kami sama-sama belajar, meski jalannya berbeda.
Membentuk Cara Pandang
Dalam relasi ibu dan anak perempuan, sering kali terjadi pewarisan nilai tanpa kita sadari. Cara ibu menghadapi masalah perlahan membentuk cara saya memandang hidup. Saya belajar bahwa menjadi perempuan berarti siap menghadapi keterbatasan, tetapi tidak berhenti bermimpi. Saya juga belajar bahwa perempuan berhak tumbuh, meski lingkungan tidak selalu memberi dukungan yang sama.
Esai ini bukan tentang menempatkan ibu sebagai sosok sempurna. Ia juga pernah lelah, ragu, bahkan salah langkah. Namun justru dari ketidaksempurnaan itulah proses belajar menjadi nyata. Saya dan ibu tidak selalu sepakat, tidak selalu sejalan, tetapi kami sama-sama bergerak. Kami belajar bahwa kekuatan perempuan tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk oleh proses panjang yang kadang menyakitkan.
Ketika melangkah ke fase hidup yang baru, saya menyadari masih belajar dan ibu pun demikian. Kami belajar dengan cara kami masing-masing, saling menguatkan meski tidak selalu diucapkan. Dalam kebersamaan itulah, saya memahami bahwa menjadi perempuan kuat bukanlah tujuan akhir, melainkan proses yang terus berjalan.
Pada akhirnya, kisah ini adalah tentang dua perempuan tangguh dalam satu garis kehidupan. Ibu dan saya, dengan segala perbedaan peran dan generasi, sama-sama belajar menghadapi dunia. Belajar bertahan, belajar berharap, dan belajar menjadi kuat dengan cara kami sendiri.[]

