Bahasa Tangan Manusia

Sumber Gambar: news.detik.com

Beberapa daerah di wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Sumatra, beberapa pekan kemarin mengalami bencana banjir. Air datang tak terkira, menghanyutkan harta benda dan menenggelamkan areal pemukiman, menyisakan lumpur, sampai-sampai mengangkut kayu-kayu gelondongan yang menunjukkan wajah deforestasi–yang selama ini penguasa tutup-tutupi.  

Saat orang-orang sedang berusaha bertahan hidup di tengah segala keterbatasan, sudah pasti pihak pemerintah hadir, memberikan perlindungan & memulihkan keadaan selekas mungkin. Solusi jangka pendek untuk mengatasi problema di daerah bencana, mula-mula, tentu adalah memberikan bantuan pangan. Logistik sudah pasti mereka perlukan di kala akses ekonomi dan mobilitas sama sekali terputus. Entah karena masih tergenang air atau jembatan yang ambrol. 

Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution, beberapa waktu lalu mengunjungi korban terdampak. Kehadiran Bobby, sebagai salah satu pemangku kebijakan, tentu saja terelu-elukan dan mampu menguatkan masyarakat terdampak. Dukungan moral dan bantuan logistik dari pejabat niscaya mencerminkan rasa prihatin pemerintah.

Kuasa Amoral

Tidak ada yang menyalahkan apalagi menyangsikan bantuan dari pihak berwenang, tentu saja. Namun, prosesi pemberian oleh menantu presiden Joko Widodo ini pada korban terdampak jauh dari kata etis. Ya, etis!  Melalui helikopter, Bobby Nasution membagi-bagikan bantuan pangan seperti beras dan mi instan.  Mantan Wali Kota Medan ini mengenakan kaus lengan pendek dan topi dengan moncong ke arah belakang menurunkan kardus-kardus mi instan ke tanah. 

Dibantu dengan salah seorang anggota TNI, yang berusaha menghalau dengan tangan barangkali supaya para penerima di bawah sana tidak terlalu dekat dan tertimpa kardus bantuan, Bobby terus saja menjatuhkannya dari kabin helikopter, yang jaraknya hanya beberapa meter dari permukaan tanah. Lagak ini bisa terlihat dengan jelas di dalam laporan @narasinewsroom pada Rabu, 3 Desember 2025. 

Baca Lainya  Daya Juang Perempuan dalam Skala Sosial Budaya

Proses pemberian bantuan di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara ini terang saja menuai kontroversi publik. Pasalnya, laki-laki dengan nama lengkap Muhammad Bobby Afif Nasution ini tampak seperti enggan menyapa warganya sendiri. Memandang bahwa kebutuhan korban terdampak hanya perkara logistik semata. Setelah bantuan selesai tersalurkan, seolah tak ada apa-apa yang mesti pemerintah lakukan lagi. Selesai sudah! 

Yang lebih bikin kesal, baik oleh masyarakat penerima bantuan maupun orang-orang yang melihat langkah penyaluran bantuan dengan model dropping ini, adalah kondisi bantuan yang berantakan. Sampai-sampai warga harus memunguti beras yang berserakan – yang seperti tak ada harganya, dengan baju yang mereka kenakan. 

Dengan kondisi ini, yang justru terjadi adalah rusaknya bahan bantuan. Sangat mungkin karung-karung beras jadi sobek dan kardus-kardus mi instan remuk. Sedangkan orang-orang yang menunggu di bawah, menanti bantuan terjun, hanya mendapat remah-remah. 

Kuasa Tangan Angkuh

Hal ini secara lebih jauh dapat pula mencerminkan bahwa pemerintah adalah sesuatu yang-tak-tergapai oleh masyarakat akar rumput, sesuatu yang jauh dan tak menapak. Sesuatu yang mungkin baru akan turun mendekat saat orang-orang menjerit dan meminta selamat. 

Sudah tentu tangan-tangan dari pihak berwajib hadir, merangkul setiap korban dengan cara nan hangat dan bijaksana. Pemberian bantuan serta kehadiran fisik dan kemauan untuk mendengar segala yang berlangsung di daerah bencana pastinya meningkatkan semangat hidup para korban. Sayangnya, dengan tangan-tangan nan angkuh dan tak tahu malu, pemberian bantuan sangat mungkin jauh dari efisien dan menyisakan rasa kecewa & nirempati. 

YB Mangunwijaya, seorang pastor sekaligus aktivis sosial, dalam bukunya berjudul Ragawidya: Religiositas Hal-hal Sehari-hari (Kanisius, 1988) menyebut “tangan manusia adalah bagian tubuh yang paling dinamis, merupakan perpanjangan otak dan perasaan sebagai alat yang mengabdi namun juga sebagai juru bicaranya.” 

Baca Lainya  Harapan dan Kenyataan: Perjalanan Anak Perempuan Pertama

Berangkat dari gagasan sederhana Romo Mangun—sapaan akrab YB Mangunwijaya ini, kita sadar bahwa tangan manusia, secara fisik bisa mencerminkan bagaimana sikap dan perasaan seseorang, menjadi perpanjangan dari visi dan posisi personal. Bahasa tangan manusia sungguh kaya. Bahasa tangan ini bisa mengejawantahkan laku dan adab. 

Tatkala duka cita melanda, bukankah hanya dengan uluran tangan & bantuan moral yang tulus, segala sedih bisa sirna dan kekuatan untuk kembali melanjutkan hidup muncul terkembang dari dalam dada?[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *