Defita Diah Ayu

Guru di Negeri Sendiri: Pengabdian Panjang, Kesejahteraan Tertinggal

Di Indonesia, guru kerap mendapat posisi terhormat secara simbolik. Mereka mendapat sebutan sebagai pilar pendidikan dan penjaga masa depan bangsa. Namun, penghormatan itu sering berhenti pada kata-kata. Setelah peringatan Hari Guru Nasional berlalu, banyak pendidik kembali menghadapi kenyataan hidup yang jauh dari sejahtera. Di berbagai daerah, terutama wilayah pinggiran, masih banyak pengajar honorer menerima upah…

Baca Lengkapnya

Ramadan yang Datang, Rasa yang Hilang

Setiap kali bulan suci Ramadan semakin dekat, suasana berubah menjadi lebih hangat. Masjid mulai ramai, ucapan “Marhaban ya Ramadhan” berseliweran di media sosial, dan hati banyak orang terasa berbunga-bunga. Ramadan selalu identik dengan kebersamaan, harapan baru, dan kesempatan memperbaiki diri. Bagi sebagian besar orang, datangnya adalah kabar bahagia yang ternantikan sepanjang tahun. Namun, di tengah…

Baca Lengkapnya

Kisah Aurélie Moeremans, Broken Strings, dan Relasi yang Salah Arah

Menjelang akhir 2025, nama Aurélie Moeremans ramai publik bicarakan setelah ia merilis buku Broken Strings (2025). Bukan karena gosip murahan atau sensasi kosong, melainkan karena keberaniannya membuka luka lama yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Buku itu bukan sekadar memoar selebritas, tapi catatan pahit tentang bagaimana relasi yang kita kira cinta justru menjelma menjadi rangkaian kekerasan…

Baca Lengkapnya
Kuliah sambil Kerja

Bangku Kuliah Dibiayai Rasa Bersalah 

Seseorang bisa hidup di kota rantauan, menjalani hari-hari sebagai mahasiswa dengan tas punggung berisi buku, laptop, dan kegelisahan yang tak pernah benar-benar bisa ia tinggalkan di kamar kos. Ia merantau bukan untuk bergaya, melain untuk bertahan pada satu harapan. “Pendidikan (kuliah) bisa menjadi jalan keluar dari lingkungan kesulitan yang selama ini membelit keluarganya”. Sejak ayahnya…

Baca Lengkapnya

Derajat Sama, Beban tak Pernah Setara

Sejak kecil, banyak perempuan sudah akrab dengan kalimat, “perempuan itu tempatnya di dapur”. Kalimat tersebut terulang-ulang seolah menjadi hukum alam. Ironisnya, ketika perempuan itu tumbuh dewasa, pertanyaan yang datang justru berubah “sudah kerja belum?”. Di sisnilah letak kontradiksi sosial yang sering luput kita sadari. Perempuan mendapat kewajiban masuk dapur, pun tertuntut bekerja. Sementara laki-laki, sejak…

Baca Lengkapnya