Di zaman sekarang menjadi remaja rasanya mudah terbawa arus zaman. Informasi datang dari mana saja misalnya TikTok, Instagram, YouTube, sampai pesan WhatsaApp yang isinya kadang lebih menakutkan dari berita aslinya. Belum lagi, banyak konten yang membicarakan agama tapi bahasanya meledak-ledak, seakan hanya mereka yang paling paham kebenaran. Dari sinilah radikalisme dan ekstremisme bisa masuk pelan-pelan tanpa tersadari. Maka dari itu, moderasi beragama penting menjadi “tameng” sebelum remaja terjebak cara pikir yang sempit dan keras.
Moderasi beragama intinya sederhana, bagaimana kita bisa beragama dengan sikap tenang, tidak berlebihan, dan tetap menghargai orang lain. Nah, nilai-nilai dasar moderasi agama ada lima, yaitu: tawasut, tawazun, iktidal, tasamuh, dan al-insaniyyah. Kelima nilai itu menjadi pedoman supaya remaja tidak mudah ikut-ikutan hal-hal ekstrem, seolah-olah keren atau merasa paling benar.
Pertama, tawasut atau berada di tengah, adil, dan seimbang. Menurut saya, nilai ini sangat penting bagi remaja, karena masa-masa remaja masih mencari jati diri. Kadang mereka semangat beragama tinggi, tapi tidak terbarengi pemahaman cukup luas, sehingga mudah menganggap kelompok lain salah dan sesat. Padahal kenyataannya, banyak hal yang tidak bisa kita nilai hanya dari satu sisi.
Sikap tawasut menggajarkan agar tatkala kita belajar agama itu pelan-pelan, pakai akal, dan jangan mudah termakan ceramah singkat yang isinya hanya menyalahkan pihak lain tanpa mengetahui kebenarannya. Apalagi sekarang banyak potongan video dakwah yang seenaknya membuat maknanya melenceng.
Sikap Seimbang
Kedua, tawazun alias keseimbangan atau bersikap seimbang dalam berkhidmah kepada Allah Swt. Nilai ini cocok untuk kondisi remaja sekarang yang kadang merasa benar terus tapi tidak ingin mendengerkan pendapat orang lain. Tawazun mengajari kita supaya seimbang antara agama, akal, dan kenyataan hidup.
Contohnya ada remaja yang rajin ibadah, tiba-tiba nge-judge temannya yang masih belajar agama pelan-pelan. Atau ada yang merasa makin suci jika menjauhi semua kegiatan sosial. Padahal, agama itu seimbang dengan ibadah bagus dan baik, hubungan dengan manusia juga bagus dan baik. Remaja yang mengerti tawazun biasanya lebih kalem dan tidak gampang termakan berita ekstrem yang isinya provokasi.
Ketiga, iktidal atau sikap adil dan lurus. Banyak gerakan radikal mengambil hati remaja lewat konten emosional. Misalnya video peperangan, ujaran “saudara kita teraniaya”, atau potongan ceramah yang mendorong untuk ingin membalas perlakuan itu.
Tanpa sikap adil, remaja bisa mudah tersulut emosi dan percaya bahwa kekerasan itu solusi. Padahal tidak begitu, sebab iktidal mengajarkan supaya kita mengecek dulu informasi, lihat gambaran sebenarnya, dan tidak asal menyalahkan agama atau kelompok tertentu. Sikap adil ini bikin remaja lebih rasional dan tidak mudah terkibul konten provokatif
Toleransi Kemanusiaan
Prinsip, keempat, yaitu tasamuh alias toleransi. Ini sering banyak orang salah pahami sehingga berpikir bahwa toleransi itu harus ikut ibadah agama lain atau menyamakan semuanya, padahal tidak begitu. Tasamuh artinya menghargai keberadaan orang lain tanpa harus melepas identitas agama kita sendiri.
Jika remaja sudah memiliki sikap tasamuh, mereka tidak bakal mudah termakan konten yang bilang “agama tertentu musuh kita” atau “jangan berteman sama mereka”. Sikap intoleran seperti itu justru menjadi pintu masuk radikalisme.
Terakhir, kelima, al-insaniyyah atau nilai kemanusiaan. Di sini poinnya adalah bahwa manusia itu mempunyai nilai yang harus mereka jaga dari siapapun. Remaja biasanya mempunyai kepekaan tinggi terhadap isu kemanusiaan. Sayangnya terkadang rasa simpati itu tersalahartikan oleh kelompok ekstrem yang membuat memancing amarah.
Contohnya video orang yang tertindas lalu tersuruh membalas dengan cara apa pun. Jika meminjam pemahaman al-insaniyyah, remaja tahu bahwa kekerasan bukan sebuah cara menyelesaikan masalah, dan kemanusiaan itu jauh lebih besar daripada sekedar identitas kelompok.
Jika semua nilai tadi terkumpul, moderasi beragama sebenarnya jadi penyejuk buat remaja yang hidup di tengah dunia yang serba cepat dan penuh perdebatan. Moderasi itu bukan melemahkan iman tapi membuat pemahaman agama lebih dewasa. Dan, jujur saja, remaja yang punya karakter moderat biasanya lebih damai, terbuka, dan tidak mudah ikut-ikutan tren keagamaan yang aneh-aneh.
Membangun Paradigma
Menghadapi radikalisme memang tidak cukup dengan larangan atau hukuman. Yang perlu adalah membangun cara pikir yang sehat sejak awal. Sekolah, kampus, keluarga, dan lingkungan mempunyai peran besar untuk memberi ruang diskusi tentang agama yang lebih luas dan tidak menghakimi. Remaja harus dibiasakan untuk bertanya, berdiskusi, bahkan berbeda pendapat tanpa takut disalahkan. Dari situ mereka belajar membedakan mana ajaran yang murni mana yang di salahartikan unuk kepentingan tertentu.
Pada akhirnya moderasi beragama itu seperti tembok yang tidak kelihatan tapi sangat penting. Remaja yang memahami tawasut, tawazun, iktidal, tasamuh, dan al-insaniyyah akan punya rem dalam diri kita saat melihat konten bersifat keagamaan. Mereka lebih tahan terhadap provokasi, tidak mudah dipengaruhi ajaran ekstrem dan tetap bisa beragama dengan tenang di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Jadi membentengi remaja dari radikalisme bukan cuma soal mencegah, tapi juga membekali mereka dengan cara pandang yang lebih ramah dan terbuka. Jika nilai-nilai moderasi ini benar-benar hidup pada diri remaja, maka radikalisme dan ekstremisme tidak akan punya tempat tumbuh. Yang ada justru generasi yang beragama dengan cerdas, dewasa, dan tetap menghargai sesama.[]

