Broken Strings: saat Senar Hidup tak Lagi Sempurna, tapi Tetap Bersuara

Sumber Gambar: nusantarainfo.com

Ada luka yang tak berdarah, tapi sakitnya lebih awet daripada bekas sayatan di kulit. Luka itu sembunyi di ingatan, tumbuh lewat rasa takut yang terpendam, dan sering kali tertutup oleh diam yang orang lain kira sebagai ketegaran. Lewat memoar Broken Strings (2025), Aurelie Moeremans mencoba bicara. Bukan dengan teriakan, tapi dengan suara yang lirih, jujur, dan sangat menyesakkan.

Buku ini bukan sekadar “curhat” artis atau upaya cari panggung. Ini adalah pengakuan. Aurelie mengajak kita melihat masa remajanya yang kelam saat dia terjebak dalam hubungan yang manipulatif dan sangat tidak sehat di usia yang masih sangat hijau. Menariknya, Aurelie tidak menulis buku ini dengan nada penuh dendam atau kemarahan yang meluap-luap. Dia justru bercerita dengan tenang, seolah dia sudah berdamai dengan kepingan diri yang sempat hancur itu.

Judul Broken Strings sendiri terasa sangat simbolik. “Strings” dapat termaknai sebagai senar seperti pada alat musik yang seharusnya menghasilkan harmoni, tetapi justru patah sebelum sempat memainkan lagu yang utuh. Masa muda yang idealnya penuh eksplorasi, rasa aman, dan kebebasan, berubah menjadi ruang sempit penuh kontrol, ketakutan, dan kebingungan.

Belenggu Emosional

Aurelie menggambarkan bagaimana sebuah hubungan yang awalnya tampak penuh perhatian perlahan menjelma menjadi belenggu emosional. Proses ini tergambarkan secara halus, tanpa sensasionalisme, justru itulah yang membuatnya terasa begitu nyata.

Mengapa buku ini terasa berbeda? Karena Aurelie tak memposisikan diri sebagai “korban yang paling menderita”. Dia menulis sebagai manusia biasa yang pernah rapuh, pernah salah mengartikan obsesi sebagai cinta, dan perlahan belajar mencari suaranya kembali. Kita terajak melihat bagaimana grooming dan manipulasi bekerja: pelan, rapi, dan membuat korbannya merasa bersalah atas kesalahan yang bukan milik mereka.

Baca Lainya  Menghidupkan Fikih Keluarga

Gaya bahasanya pun sangat sederhana, mirip seperti kita sedang membaca buku harian yang selama ini terkunci rapat. Tidak ada upaya untuk terlihat puitis atau menggunakan istilah psikologi yang berat. Justru kesederhanaan itulah yang bikin kita terutama para perempuan merasa seperti menemukan potongan diri kita sendiri di sana.

Memahami Bahaya Grooming

Lebih dari sekadar kisah personal, Broken Strings memiliki nilai edukatif yang kuat. Buku ini secara tidak langsung mengajak pembaca memahami bahaya grooming, relasi kuasa yang timpang, dan romantisasi hubungan posesif. Tanpa menggurui, Aurelie menunjukkan bagaimana batas antara perhatian dan kontrol bisa menjadi kabur, terutama bagi remaja yang sedang mencari validasi dan rasa terima.

Menariknya, porsi besar dalam buku ini bukan hanya tentang luka, tetapi juga tentang pemulihan. Aurelie menuliskan perjalanan berdamainya dengan masa lalu bukan dalam arti melupakan, tetapi menerima. Ia menunjukkan bahwa penyembuhan bukanlah garis lurus; ada hari-hari ketika luka terasa telah sembuh, lalu tiba-tiba nyeri itu kembali. Namun, dengan kesadaran dan dukungan, perlahan ia belajar mengambil kembali kendali atas hidupnya.

Di bagian akhir, ada kutipan yang rasanya seperti pelukan buat para penyintas:

“Tidak ada garis akhir, tidak ada janji terakhir. Hanya ini: jika kamu masih di dalamnya, kamu tidak tak terlihat. Jika kamu sudah melewatinya, kamu tidak rusak. Bagaimanapun juga, keberlangsunganmu luar biasa.”

Aurelie menolak label bahwa orang yang pernah mengalami trauma adalah “barang rusak”. Baginya, bertahan hidup saja sudah sebuah pencapaian yang luar biasa.

Broken Strings mungkin adalah buku yang sangat subjektif, tapi itulah kekuatannya. Ini bukan dokumen hukum, ini adalah ruang aman bagi sebuah cerita yang sudah terlalu lama dipendam. Buku ini wajib dibaca bagi siapa pun yang sedang belajar memahami luka, menumbuhkan empati, atau sekadar butuh teman untuk bilang: “Aku pernah di sana, dan aku berhasil lewat.”[]

Baca Lainya  Tuhan Izinkan Aku Berdosa: Perjalanan Spiritual Perempuan 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *