Mencari identitas diri merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan setiap individu. Namun, bagi perempuan, proses ini sering kali menghadapi banyak tantangan. Sejak kecil, mereka sudah harus berurusan dengan berbagai tuntutan, norma, dan harapan yang sulit terpahami. Beberapa mengatakan bahwa perempuan harus menunjukkan kelembutan. Sementara lain berpendapat mereka wajib cerdas, menarik, taat, dan tetap kuat secara bersamaan.
Banyak sekali suara yang mempengaruhi perkembangan mereka, sehingga terkadang perempuan tidak bisa membedakan apa yang sebenarnya berasal dari diri dan yang sekitar paksakan. Proses ini berlangsung bertahun-tahun untuk mengetahui siapa mereka sebenarnya.
Tekanan dari lingkungan yang membentuk cara Ppndang perempuan terhadap diri sendiri sejak usia muda. Perempuan kenal pada gagasan mengenai “peran ideal”. Mereka mendapat pelajaran bagaimana cara duduk, berbicara, berpakaian, bahkan bagaimana cara bermimpi. Banyak dari mereka tumbuh dengan pandangan bahwa kehidupan mereka harus memenuhi ekspektasi dari keluarga atau masyarakat.
Jika mereka terlalu bebas, teranggap tidak sopan. Manakala terlalu pendiam, teranggap tidak percaya diri. Jika mereka terlalu pintar, orang menyebutnya sebagai ancaman. Atau apabila terlihat sederhana, orang menganggapnya kurang berusaha. Berbagai penilaian ini mempersulit perempuan untuk menyadari siapa sebenarnya mereka tanpa pengaruh orang lain.
Penerimaan Sosial
Sebagian perempuan akhirnya mengubah diri mereka sesuai standar tersebut. Bukan karena keinginan pribadi, melainkan untuk mendapatkan penerimaan. Terkadang, penerimaan sosial lebih terasa penting ketimbang kejujuran kepada diri sendiri. Di sinilah tantangan identitas muncul: perempuan perlu memahami mana suara yang seharusnya mereka ikuti dan mana yang hanya akan menutupi jati diri.
Era media sosial, tantangan baru dalam menemukan identitas pun muncul. Media sosial menciptakan dunia yang penuh dengan perbandingan, cepat, dan tampak sempurna. Perempuan semakin sering berhadapan pada standar kecantikan yang tidak realistis, pencapaian yang selalu terlihat luar biasa, dan kehidupan glamor yang seolah mudah tercapai. Banyak perempuan mulai merasa mereka tidak cukup: tidak cukup cantik, tidak cukup sukses, tidak cukup bahagia, tidak cukup “sempurna” seperti yang terlihat di layar.
Namun, apa yang media sosial tunjukkan sering kali hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang—hasil edit yang rapi, pencahayaan cemerlang, dan sudut pengambilan gambar yang ideal. Semua kesedihan, keraguan, dan ketakutan tidak terlihat di sana. Sayangnya, perempuan sering kali terperangkap dalam perbandingan dengan realitas yang tidak nyata. Ketika mereka terlalu sibuk berusaha menjadi “versi yang orang sukai,” waktu untuk menemukan siapa mereka yang sebenarnya menjadi terabaikan.
Jembatan Keberanian
Untuk menemukan jati diri, perempuan memerlukan keberanian. Keberanian untuk bertanya, “Apakah aku merasa bahagia dengan ini?”. Keberanian untuk mengatakan “tidak” pada hal-hal yang merugikan diri. Serta keberanian untuk tetap berdiri meskipun tidak semua orang terima. Banyak perempuan tumbuh dengan rasa ketakutan: takut mengecewakan orang tua, takut ternilai negatif, takut gagal, dan takut menjadi berbeda.
Namun, hal terpenting dari sebuah identitas adalah memberi izin pada diri untuk menjadi apa adanya. Perempuan yang berani mengenali diri mereka akan memahami bahwa kegagalan bukanlah akhir, penolakan bukanlah keruntuhan, dan kritik tidak harus menghentikan langkah mereka. Keberanian inilah yang menjadi pondasi kuat dalam membangun identitas yang sehat dan stabil.
Lingkungan juga memiliki pengaruh besar dalam perjalanan ini. Tidak semua wanita mendapatkan keberuntungan memiliki dukungan dari keluarga atau teman. Beberapa di antaranya tumbuh di lingkungan yang bersikap menghakimi, merendahkan, atau membatasi perkembangan diri mereka. Bahkan, banyak wanita yang baru benar-benar menemukan siapa diri mereka setelah keluar dari lingkungan yang merugikan.
Sebaliknya, lingkungan yang positif, yang penuh dengan rasa saling menghargai, dorongan, dan ruang untuk ekspresi, dapat memudahkan wanita dalam mengenali potensi mereka dengan lebih baik. Teman yang mendukung, keluarga yang percaya, atau guru yang memahami bisa menjadi momen penting dalam proses pembentukan identitas diri.
Identitas sebagai Proses
Satu hal penting yang harus teringat adalah bahwa identitas bukanlah sesuatu yang statis. Perempuan dapat berubah, berkembang, dan menemukan aspek baru dari diri mereka seiring waktu. Apa yang pernah mereka sukai mungkin akan berbeda saat mereka tumbuh dewasa. Ketakutan yang dulunya ada bisa menjadi sumber kekuatan saat ini. Proses menemukan identitas diri tidak bertujuan untuk mencari jawaban final, tetapi lebih pada belajar memahami diri secara bertahap.
Perempuan yang bisa menerima perubahan ini akan tumbuh menjadi individu yang fleksibel, dewasa, dan memiliki pemahaman tentang diri sendiri. Mereka tidak akan menghakimi diri terlalu keras saat menghadapi kegagalan, dan tidak akan merasa perlu untuk memenuhi standar yang tidak lagi relevan.
Akhirnya, perempuan yang berhasil menemukan identitas diri bukanlah perempuan yang sempurna, melainkan mereka yang jujur terhadap diri mereka. Mereka paham apa yang diinginkan, mengerti batasan diri, tahu apa yang diperjuangkan, dan tahu cara mencintai diri dengan cara yang tepat. Mereka tidak lagi memerlukan validasi berlebihan dari orang lain, karena kekuatan sudah ditemukan dalam diri mereka sendiri.
Wanita seperti ini mampu menginspirasi orang-orang di sekitarnya, bukan karena mereka mengikuti standar yang ditetapkan dunia, melainkan karena keberanian untuk menjadi diri mereka sendiri. Ketegasan, kelembutan, rasa empati, dan akal sehat yang dimiliki menjadi bukti bahwa identitas yang sejati dilahirkan dari sebuah proses panjang yang penuh dengan luka, pelajaran, dan keberanian.[]

