Memaknai Awal Tahun: Jalan Sunyi Mahasantri Tashfiyatul Qulub menuju Produktivitas dan Perbaikan Diri

Sumber Gambar: lampungutara.pratamamedia.com

Awal tahun sering kali terpahami sebatas pergantian angka dalam kalender. Orang merayakannya dengan hiruk-pikuk resolusi, pesta, dan harapan-harapan yang terkadang berakhir sebagai wacana kosong. Namun bagi seorang mahasantri Tashfiyatul Qulub, awal tahun seharusnya termaknai lebih dalam: sebagai momentum muhasabah, penjernihan niat, dan peneguhan langkah menuju Allah Swt.

Mahasantri tidak hidup dalam ruang hampa. Ia adalah pejalan sunyi yang setiap detiknya bernilai ibadah, setiap napasnya terikat amanah keilmuan dan akhlak. Maka pertanyaan penting yang patut kita ajukan bukanlah “apa resolusi tahun ini?”, melainkan “apakah hari ini lebih dekat kepada Allah daripada kemarin?”.

Islam tidak mengenal konsep perayaan tahun baru secara ritualistik. Namun Islam sangat menekankan makna waktu. Allah Swt. bersumpah dengan waktu dalam banyak ayat-Nya, menandakan bahwa waktu adalah modal utama manusia.

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–2).

Ayat ini bukan sekadar peringatan, tetapi juga tamparan lembut bagi seorang mahasantri. Siapa yang tidak mengelola waktunya dengan iman, amal saleh, kesadaran serta kesabaran, maka ia sedang merugi—meski tinggal di pesantren, meski bergelar mahasantri.

Perjalanan Evaluasi

Awal tahun baru, bagi mahasantri, bukan tentang mengganti kalender, tetapi mengevaluasi perjalanan rohani. Sudah sejauh mana ilmu yang kita pelajari membentuk adab? Sudah seberapa besar zikir mengalahkan keluh kesah? Sudahkah target hapalan, pemahaman kitab, dan pembinaan akhlak benar-benar kita kejar dengan kesungguhan?

Produktivitas mahasantri tidak terukur dari seberapa padat jadwalnya, tetapi dari nilai amalnya. Imam Hasan al-Bashri pernah berkata: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah pergi.”

Mahasantri produktif adalah mahasantri yang sadar bahwa setiap hari adalah bagian dari diri yang tidak akan kembali. Ia belajar bukan hanya agar pintar, tetapi agar ilmunya menuntun, bukan menuntut. Ia beramal bukan agar mendapat pujian, tetapi agar mendapat rida.

Baca Lainya  Harapan di Tahun Baru: Pendidikan Perempuan sebagai Jalan Perubahan

Rasulullah saw. bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh banyak manusia: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini sangat relevan bagi mahasantri. Pesantren menyediakan ruang dan waktu yang luar biasa untuk tumbuh: lingkungan yang relatif terjaga, jadwal ibadah teratur, dan akses ilmu yang luas. Maka menyia-nyiakan satu tahun di pesantren sama artinya dengan menyia-nyiakan modal besar kehidupan.

Cita dan Doa

Berbeda dengan dunia modern yang memuja target material, target santri bersifat holistik: spiritual, intelektual, dan moral. Target hafalan, khatam kitab, atau peningkatan disiplin ibadah bukan sekadar capaian teknis, tetapi bagian dari riyadhah jiwa.
Allah Swt. berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras, dan hanya kepada Tuhanmu engkau berharap.”
(QS. Al-Insyirah: 7–8).

Ayat ini mengajarkan manajemen hidup santri: tidak ada waktu kosong tanpa makna, dan setiap target harus berujung pada ketergantungan kepada Allah, bukan pada kehebatan diri. Tahun baru adalah waktu yang tepat untuk menata ulang niat: belajar karena Allah, berdisiplin karena Allah, dan menargetkan keberhasilan bukan demi pujian, tetapi demi keberkahan.

Para ulama klasik memberi teladan luar biasa dalam memaknai pergantian waktu. Imam Nawawi, misalnya, dikenal sangat ketat dalam mengelola harinya. Dalam biografi beliau disebutkan bahwa hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk belajar, mengajar, menulis, dan ibadah—hingga para muridnya jarang melihat beliau berbaring kecuali karena kelelahan.

Imam Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khatir menulis bahwa ia sangat menyesal jika satu jam berlalu tanpa manfaat. Ia bahkan mengatakan bahwa menjaga waktu lebih sulit dari pada menjaga harta, karena waktu yang hilang tidak bisa diganti. Kisah lain datang dari Imam Asy-Syafi’i. Beliau berkata: “Aku bersahabat dengan waktu. Jika aku tidak memotongnya dengan kebenaran, maka ia akan memotongku dengan kebatilan.”

Bagi para ulama, pergantian hari—apalagi tahun—adalah alarm ruhani, bukan pesta seremonial. Mereka menyambut waktu baru dengan tekad memperbaiki diri, bukan dengan euforia yang melalaikan.

Baca Lainya  Mahasantri Penerus Tradisi, Penggerak Revolusi

Menyucikan Hati di Awal Tahun

Nama Tashfiyatul Qulub sendiri mengandung pesan berarti: penyucian hati. Maka awal tahun adalah saat yang tepat bagi mahasantri untuk bertanya dengan jujur pada dirinya: apa yang masih mengotori hatiku? Hasad, malas, cinta dunia, riya’, fomo adalah penyakit halus yang sering tumbuh diam-diam. Tanpa muhasabah tahunan, penyakit ini bisa mengeras dan membunuh keikhlasan.

Rasulullah saw. bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً… أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menyambut tahun baru berarti memperbarui tekad untuk menjaga hati: meluruskan niat, membersihkan dendam, dan memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama. Tahun baru tidak akan mengubah apa pun jika mahasantri tetap sama. Namun mahasantri yang sama bisa menjadi pribadi baru jika ia mengubah cara memaknai waktunya.

Mahasantri Tashfiyatul Qulub tidak dituntut menjadi sempurna dalam setahun, tetapi lebih baik dari kemarin. Lebih disiplin dalam ibadah, lebih sungguh-sungguh dalam belajar, lebih baik dalam adab, dan lebih jujur dalam niat. Karena sejatinya, tahun baru bukan tentang bertambahnya usia, tetapi tentang bertambahnya kesadaran: bahwa waktu terus berjalan, dan kita sedang berjalan menuju Allah.

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ

“Dan Allah menyeru ke Darussalam (surga).”
(QS. Yunus: 25)

Semoga tahun yang baru menjadi jalan yang lebih terang bagi para mahasantri Tashfiyatul Qulub—menuju produktivitas yang bernilai ibadah dan pribadi yang lebih dekat kepada-Nya. Aamiin. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *