It’s Okay Not to Be Okay: Keberanian Merasa dan Tidak Baik-Baik Saja

Sumber Gambar: detik.com

“It’s okay to not be okay. It’s okay to cry. You’re not weak for feeling.”

Ucapan Moon-young kepada Gang-tae ini bukan hanya sekadar kalimat penghibur, melainkan sapaan lembut bagi jiwa yang terlalu lama menahan air mata. Kalimat sederhana yang menjadi benang merah dari drama It’s Okay Not to Be Okay. Kalimat terdengar seperti pengakuan bahwa tak apa jika kita berantakan dan gagal sesekali. Karena justru dari titik rapuh itulah kita mengenal diri kita sendiri.

Drama It’s Okay Not to Be Okay merupakan serial Korea Selatan yang tayang pada Agustus 2020 dengan total 16 episode produksi tvN. Meski sudah lama tayang, drama ini meninggalkan kesan mendalam bagi banyak penonton. Bukan sekadar drama romantis biasa, tetapi juga menggali sisi psikologi tentang trauma, emosi, dan penyembuhan diri. 

Drama ini mengisahkan Moon Gang-tae (terperankan Kim Soo-hyun), seorang perawat di bangsal psikiatri. Hidupnya habis untuk merawat sang kakak Moon Sang-tae (terperankan Oh Jung-se) yang berada dalam spektrum autisme. Sejak kecil, ibunya selalu menanamkan bahwa Gang-tae lahir untuk menjaga kakaknya, sebuah kalimat yang menjadi  belenggu untuknya hingga ia dewasa.

Dalam psikologi, kondisi ini bernama parentifikasi, situasi yang menggambarkan seorang anak harus mengemban tanggung jawab orang dewasa (Wijiwigati et al. 2025). Hal ini berakibat pada Gang-tae, ia merasa hidup tanpa ruang untuk diri sendiri, terbiasa menanggung beban dalam diam, menyembunyikan setiap perasaannya di balik topeng senyuman. 

Luka yang Tak Terakui

Berbeda dengan Gang-tae yang takut merasa, Moon-young (tererankan oleh Soe Yea-ji) seorang penulis dongeng anak yang kontroversial. Ia tumbuh menjadi seorang yang tidak tahu bagaimana caranya berempati. Sejak kecil, ia hidup di bawah kendali ibunya yang manipulatif dan posesif. Sementara ayahnya yang memiliki sakit jiwa bahkan sempat berusaha membunuhnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justu menjadi sumber trauma paling dalam.

Baca Lainya  Rekonstruksi Diri: Membedah Kaitan Trauma Masa Lalu dan Beban Ekspektasi

Masa kecil yang kelam itu, membuatnya tumbuh dengan kepribadian yang memperlihatkan ciri Antisocial Personality Disorder (ASPD). Gangguan yang membuat seseorang kesulitan dalam berempati kepada orang lain dan cenderung impulsif (Putra 2021). Terlepas dari hal tersebut, Moon-young adalah sosok yang jujur secara emosional. Namun, kejujurannya justru tampak seperti ketidakpedulian terhadap perasaan orang lain.

Pertemuan antara Gang-tae dan Moon-young seperti dua cermin yang saling memantulkan luka lama. Mereka melihat satu sama lain dengan bayangan luka yang selama ini dunia sembunyikan.  Moon-young melihat bagaimana Gang-tae menahan segala perasaannya demi orang lain. Sedangkan Gang-tae menyadari bahwa di balik ketidakpedulian Moon-young terdapat hati yang kesepian dan haus akan kasih. 

Pertemuan mereka bukan kisah tentang siapa yang menolong siapa, tapi tentang dua orang yang saling belajar menatap luka melalui keberadaan satu sama lain. Moon-young mengajarkan Gang-tae untuk menatap diri sendiri. Untuk berhenti bersembunyi di balik peran “si kuat” dan belajar untuk merasakan segala emosinya tanpa merasa bersalah.

Ajaran Empati

Sementara, Gang-tae mengajarkan Moon-young bahwa empati bukan tanda kelemahan seseorang, bahwa mencintai seseorang bukan berarti kehilangan kendali akan diri sendiri. Keduanya menjadi ruang aman satu sama lain, karena mereka menyadari bahwa menyembuhkan luka bukan dengan melupakan luka itu, melainkan dengan mengakui bahwa luka itu ada. Dari sinilah perjalanan penyembuhan mereka mulai dengan perlahan.

Kisah mereka menjadi pengingat bahwa tidak apa-apa kalau kita lagi tak baik-baik saja. Setiap luka yang kita punya bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan sesuatu yang layak dimengerti, diterima, dan perlahan disembuhkan. Di dunia yang kerap menuntut kita untuk selalu tampak kuat, mungkin keberanian terbesar bukanlah untuk tersenyum setiap hari, tetapi untuk jujur bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Karena sejatinya penyembuhan berawal dari keberanian untuk mengakui keberadaan bagian diri kita yang belum baik-baik saja.

Baca Lainya  Nurhayati Subakat: Ketulusan Menjalani Ujian Hidup

Pada akhirnya, drama It’s Okay Not to Be Okay bukan hanya kisah tentang cinta, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada luka. Tentang bagaimana dua orang yang sama-sama “sakit” justru menemukan arti “sembuh” ketika mereka berhenti berpura-pura. Drama ini mengajarkan kita untuk tidak apa-apa jika hari ini kita sedang tidak baik-baik saja.

Tidak apa-apa jika kita butuh waktu untuk menangis, istirahat, atau bahkan hanya sekadar diam. Sebab merasa bukanlah suatu kelemahan, melainkan bagian menjadi manusia. Jadi bagaimana dengan kamu, sudahkah memberi izin dirimu untuk merasa tidak selalu baik-baik saja hari ini?[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *