Pergantian tahun selalu membawa optimisme. Tahun baru seakan memberi ruang harapan, memperbaiki, dan memulai kembali. Namun bagi banyak perempuan, terutama dalam konteks pendidikan, harapan itu sering kali berjalan lebih lambat daripada perubahan kalender. Tahun boleh berganti, tetapi tantangan yang perempuan hadapi dalam mengakses pendidikan kerap tetap sama.
Pendidikan sering tersebutkan sebagai pondasi utama kemajuan bangsa. Melalui pendidikan, seseorang dapat membangun cara berpikir kritis, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik. Sayangnya, tidak semua perempuan memiliki kesempatan yang setara untuk menikmati hak tersebut. Dalam berbagai kondisi sosial dan ekonomi, pendidikan perempuan masih terposisikan sebagai prioritas kedua, mudah terkorbankan ketika keluarga berhadapan dengan keterbatasan.
Di awal tahun, refleksi tentang pendidikan perempuan menjadi penting. Masih banyak perempuan yang harus memilih antara melanjutkan sekolah atau membantu ekonomi keluarga, antara mengejar mimpi akademik atau tunduk pada tuntutan domestik. Di sejumlah tempat, pernikahan usia dini, stereotip gender, dan tekanan sosial menjadi penghalang nyata bagi perempuan untuk bertahan di bangku pendidikan.
Menyoal Perspektif
Cara pandang masyarakat turut berperan besar dalam persoalan ini. Anggapan bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi masih sering kita temui, baik secara terang-terangan maupun tersirat. Pendidikan bagi perempuan kerap teranggap cukup sebatas “bisa membaca dan menulis”, bukan sebagai sarana pengembangan potensi diri secara penuh. Pandangan semacam ini membuat perempuan kehilangan ruang untuk tumbuh dan berdaya.
Padahal, pendidikan perempuan memiliki dampak yang jauh lebih luas dari sekadar prestasi individu. Perempuan terdidik cenderung memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap kesehatan, pengasuhan anak, dan partisipasi sosial. Mereka berpotensi menjadi agen perubahan di keluarga dan lingkungan sekitarnya. Ketika perempuan mendapat akses pendidikan yang adil, manfaatnya akan terasakan oleh generasi berikutnya.
Memasuki tahun baru di era digital, tantangan pendidikan perempuan semakin kompleks. Selain persoalan akses, perempuan juga berhadapan dengan kesenjangan literasi digital, ancaman kekerasan berbasis gender di ruang daring, serta tekanan standar sosial yang tidak realistis. Tanpa pendidikan yang membekali kemampuan berpikir kritis dan keberanian bersuara, perempuan berisiko semakin terpinggirkan dalam arus perubahan zaman.
Meski demikian, harapan tetap ada. Di berbagai sudut, banyak perempuan menjadikan pendidikan sebagai bentuk perjuangan. Mereka belajar di tengah keterbatasan, bertahan meski harus bekerja sambil kuliah, dan terus mencari ruang untuk menyuarakan gagasan. Pendidikan bagi mereka bukan sekadar proses akademik, melainkan jalan untuk membuktikan bahwa perempuan layak didengar dan dihargai.
Kebijakan Inklusif
Tahun baru seharusnya menjadi titik tolak komitmen bersama. Negara, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu memastikan bahwa sistem pendidikan tidak lagi bias gender. Kebijakan yang inklusif, lingkungan belajar yang aman, serta dukungan nyata bagi perempuan harus menjadi agenda utama, bukan sekadar slogan.
Bagi perempuan sendiri, tahun baru dapat termaknai sebagai keberanian untuk terus berharap dan melangkah. Setiap usaha untuk belajar, membaca, menulis, dan berpikir kritis adalah bentuk perlawanan terhadap keterbatasan yang ada. Pendidikan bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang membangun kesadaran dan kemandirian.
Akhirnya, harapan di tahun baru tidak akan berarti tanpa perubahan nyata. Pendidikan perempuan bukan isu sampingan, melainkan kunci menuju masa depan yang lebih adil. Jika pendidikan benar-benar dijadikan jalan perubahan, maka tahun baru tidak hanya menjadi simbol pergantian waktu, tetapi juga awal dari kehidupan yang lebih setara bagi perempuan.[]

