Berdaya di Balik Lensa

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Suasana senyap menderap di halaman Episode Kopi pada malam jelang penutupan 16 Hari anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Di ruang ini, dua perempuan muncul dengan keberanian yang tumbuh dari balik lensa. Mereka menafsirkan dunia melalui cahaya, bayangan, momentum, dan kedalaman rasa yang kemudian menerjemahkannya menjadi foto yang bisa kita nikmati pelan-pelan.

Bondit, moderator acara, merunutkan alur diskusi seperti seorang yang mencoba membuka gulungan makna. Ia mempertemukan dua nama yang telah menjadikan fotografi sebagai jalan hidup. Gevi Noviyanti, perempuan yang datang dari etnomusikologi dan bertemu dengan dunia visual melalui perjalanan komunitas. Di samping itu, Nur Hasanah Sawil, perempuan yang sejak 1997 menempuh pendidikan fotografi di Institut Kesenian Jakarta, bertemu dengan cahaya sejak ia masih mencintai lukisan.

Bagi Gevi, fotografi adalah ruang belajar tanpa akhir. Ia menemukannya di Jogja, di tengah komunitas yang membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin mencoba. Setiap pengalaman memotretnya adalah perjumapaan dengan suasana yang berbeda, yang menuntut kreativitas, strategi, sekaligus kelembutan hati.

Sementara bagi seorang perempuan yang akrab tersapa Bunda Nur, fotografi adalah pintu yang menghubungkannya dengan manusia di seluruh Indonesia. Pengalaman-pengalaman lapangan membuatnya tersadar bahwa kamera bukan hanya alat teknis, tetapi perangkat rasa. Mempertemukan, menyentuh, dan menyampaikan.

Ia pernah terlibat dalam proyek fotografi yang berkaitan dengan erotisme dan perempuan. Dari sana ia membaca perbedaan mendasar antara bagaimana laki-laki dan perempuan melihat bentuk, tubuh, dan sensualitas. Pengalaman itu membekas, bukan semata tentang objek, melainkan tentang cara memandang.

Etika, Pengetahuan, dan Tanggung Jawab

Setelah perkenalan panjang, diskusi mengalir pada hubungan antara fotografi dan pengetahuan. Bunda Nur mengingatkan bahwa setiap fotografer pada dasarnya adalah pencerita. Ia mengolah cerita melalui angle, pencahayaan, momen, dan keputusan-keputusan kecil yang tampak teknis tetapi sesungguhnya sarat rasa.

Baca Lainya  Gelar Halalbihalal: RMI PWNU Jateng Susun Modul Pesantren Ramah Anak

Dalam tema “Berdaya di Balik Lensa” ia menjelaskan, bagaimana sesuatu yang biasa dapat menjadi luar biasa ketika terpotret dengan kesadaran, empati, dan penghargaan pada subjeknya. Bunda Nur juga menyinggung fenomena fotografer pelari di aplikasi digital. Mereka yang memotret tanpa izin, menjual tanpa etika. “Etika itu nomor satu,” ujarnya tegas. Baginya, memotret manusia tanpa persetujuan adalah bentuk pengabaian rasa hormat.

Gevi melanjutkan dari perspektif generasinya, milenila. Baginya, ketika teknologi membuat semua orang bisa memotret, maka tanggung jawab fotografer justru semakin besara. Menyebut diri ‘fotografer’ berarti memikul konsekuensi: bukan hanya memotret, tetapi memahami hubungan antara kamera dan subjek.

Ia mengajak audien untuk bertanya pada diri sendiri: bagaimana jika kita menjadi objek potret tanpa izin? Pertanyaan itu membentuk kesadaran baru baginya. Hal itu menjadi sebuah pengingat untuk selalu berhati-hati dalam mengambil dan mempublikasi gambar. “Keadaran-kesadaran itu datang dari menempatkan diri sebagai objek,” ujarnya.

Mazhab Fotografi dan Ruang Kritik Maskulinitas

Pembicaraan kemudian masuk pada mazhab fotografi. Menurut Gevi, fotografi pada dasarnya sederhana, memilih objek dan menautkan rasa padanya. Humen Interest, lanskap, kontemporer, fine art, lalu berkecambah menjadi jurnalistik, dokumenter, wedding, travel, dan budaya. Setiap genre tumbuh mengikuti kebutuhan zaman.

Gevi sendiri mendalami fotografi dokumenter, yang menuntut ketelitian data dan waktu yang panjang. Ia bercerita tentang pengalamannya bersama proyek Multatuli pada tahun 2022. Ia menelusuri surat-surat santri di sebuah pesantren, membaca jejak-jejak sensitif yang kamera biasa tidak dapat menangkapnya. Dari sana ia belajar bahwa foto dokumenter bukan hanya tentang visual, tetapi juga tentang proses riset dan keterhubungan.

Sementara Bunda Nur membawa cerita berbeda. Ia lamaberkecimpung dalam fotografi pinhole, teknik kamera lubang jarum yang menghasilkan distorsi dan kesulitan fokus. Dari situlah justru menyimpan keunikanestetik. Ia pernah memperkenalkan pinhole kepada anak-anak disabilitas. Ini juga membuat tentang kelebihan, kekurangan, dan bagaimana fotografi bisa adaptif bagi siapa saja. “fotografi itu harus adaptif,” katanya. Setiap keterbatasan bisa menjadi pembaruan. Setiap rasa bisa menjadi cara baru untuk melihat.

Baca Lainya  Dari Dapur ke Ruang Komunal: Eco Enzyme di Hari ke-14 HAKTP

Namun di sisi lain isu maskulinitas dalam fotografi tidak bisa terlewatkan. Gevi mengakui, sejak kuliah ia sudah merasakan minimnya perempuan di bidang ini. Di festival musik, tidak pernah ia melihat band-band yang mempekerjakan fotografer perempuan. Meski begitu, ketika melihat proyek-proyek dokumentasi persalinan, ia menemukan banyak perempuan memegang kamera. Hal itu membongkar stereotip: dunia fotografi bukan hanya keras dan teknis, ia juga ruang empati.

Sementara paradigma patriarki sering menjadikan perempuan semata objek. Bunda Nur membenarkan: dalam fotografi erotis, perempuan memotret sesama perempuan akan menghasilkan kedalaman rasa yang berbeda, lebih jujur dan minim fantasi seksual yang kerap hadir dalam pandangan laki-laki.

Sesi Tanya dan Mengurai Jawab

Ketika sesi tanya jawab, pertanyaan muncul mengenai fotografi sebagai alat perlawanan terhadap kekerasan seksual. Bunda Nur menekankan bahwa ruang aman bagi fotografer perempuan bermula dari kedirian. Dari Keberanian membangun baras, mengenali situasi, hingga menjaga kemandirian.

Gevi menambahkan dengan tegas, “Ekosistemnya yang harus diubah.” Banyak kekerasan terjadi di dunia fotografi, dan ia bersama lingkarannya berupaya menciptakan ruang aman, membangun pemahaman, bukan sekadar membuat tagar.

Pertanyaan lain muncul tentang AI dan industri kreatif. Gevi menjelaskan bahwa AI telah tergunakan dalam berbagai bentuk fotografi fiksi. Namun perdebatan masih panjang; sebagian seniman menggunakan AI untuk sarkasme, sebagian lainnya untuk eksplorasi. Yang jelas, menurutnya, realitas ekonomi harus terakui: tanpa relasi seni, sulit bagi fotografer perempuan untuk hidup dari karya.

Sementara Bunda Nur menekankan pentingnya “olah rasa”. AI boleh saja tergunakan, tetapi seseorang tetap harus memahami dasar fotografi dan tanggung jawab moral di balik setiap gambar.

Bondit, di akhir diskusi, menyinggung tentang buku foto: mengapa mahal dan bagaimana menikmatinya? Bagi kedua pembicara, buku foto adalah karya yang tidak bisa terlihat sekali lalu. Ia memuat pesan-pesan tersirat, konteks sosial, budaya, dan proses panjang yang memengaruhi harganya. Kertas impor, jumlah cetak yang terbatas, dan pengalaman penciptanya membuat buku foto berdiri sebagai karya seni yang berbeda.

Baca Lainya  Malam Ke-10: Ruang Sembuh dan Tumbuh Bersama WCC Mawar Balqis

Malam itu tertutup dengan kesadaran bahwa lensa tak hanya menangkap visual, tetapi juga menggambarkan relasi kuasa, etika, rasan, dan keberanian perempuan dalam memegang ruangnya. “Berdaya di Balik Lensa” bukan sekadar talk show , ini adalah percakapan tentang bagaimana perempuan menjaga diri, membangun kesadaran kolektif, dan menyalakan cahaya dari dalam, meskipun dunia fotografi masih penuh bayang-bayang.

Di halaman Episode Kopi, yang perlahan kembali riuh setelah sunyi, dua perempuan membuktikan bahwa daya tidak datang dari alat atau kecanggihan teknologi. Ia tumbuh dari keberanian memandang, dari etika yang dijaga, dan dari rasa yang mereka olah di tiap jepretan. Malam itu, cahaya tidak hanya jatuh pada objek. Ia jatuh pada mereka, dua perempuan yang berdaya dari balik lensa.[]

Penulis: Raihan Athaya Mustafa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *