Setiap hari kita belajar bahkan dari kita lahir. Mulai dari belajar merangkak, berbicara, membaca, berjalan, berlari, dan banyak hal-hal yang kita pelajari setiap harinya. Saat dewasa kita mulai bekerja, entah bekerja untuk mencari uang, memenuhi kebutuhan, atau bahkan agar tidak bosan saja.
Manusia menjalani kehidupan dengan ritme yang hampir sama. Bangun pagi, belajar, bekerja, melakukan aktivitas lain, pulang dan tidur. Seperti itu terus sampai kadang kita lupa untuk apa kita melakukan itu semua. Apakah hanya mengikuti hidup orang-orang sebelum kita? Atau hanya kewajiban sosial? Atau bahkan hanya formalitas hidup? Kedua aktivitas ini sangat melekat pada kehidupan manusia. Karena itu, mungkin sebagian orang di dunia ini hanya menganggap hidup ini sebagai formalitas.
Setiap hari kita sibuk belajar dan bekerja, meskipun tidak mengerti juga mengapa kita melakukan itu semua. Kita sering kali mempertanyakan sesuatu kepada diri kita sendiri. “Sebenarnya apa tujuan kita belajar dan bekerja, padahal Sang Mahakuasa sudah menentukan takdir. Ke mana kita akan berlari? Kebmana kita akan membawa hidup ini? Pertanyaan ini muncul ketika kita mulai merasa lelah karena hasilnya tidak langsung terlihat. Pertanyaan ini membawa kita pada pembahasan tentang nilai dalam hidup, yang terkenal dalam filsafat sebagai aksiologi.
Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada. Berpikir inilah yang merupakan poin inti dari filsafat. Aksiologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang menekankan pembahasannya di sekitar nilai guna atau manfaat suatu ilmu pengetahuan. Dengan belajar atau bekerja kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan, apa manfaat dari ilmu pengetahuan itu sendiri?
Pertama, dapat memudahkan manusia dalam menjalani kehidupan, tanpa ilmu pengetahuan kita akan sangat mudah orang lain bodohi. Kedua, membantu memecahkan masalah, setiap orang pasti akan mengalami masalah dalam hidupnya, dengan berbekal ilmu pengetahuan kita bisa memecahkan masalah tersebut. Dan, ketiga, yaitu membangun peradaban, dengan ilmu pengetahuan kita dapat membentuk sumber daya manusia yang memiliki pemikiran yang maju.
Tindakan Bermakna
Aksiologi berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari dua suku kata, yaitu axios berarti nilai dan logos yang berarti ilmu. Singkatnya, aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang nilai dan manfaat suatu tindakan. Aksiologi membantu menjelaskan mengapa suatu tindakan ternilai bermakna dan apa yang membuat sesuatu teranggap berharga. Aksiologi terbagi menjadi tiga nilai. Pertama, nilai praktis (manfaat dan kegunaan). Kedua, nilai etika (baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas). Ketiga, nilai estetika (keindahan dan rasa nyaman).
Dalam filsafat ilmu, aksiologi membahas nilai dan kegunaan dari sebuah ilmu. Ilmu yang baik bukan hanya yang benar secara teoritis, tetapi juga yang bermanfaat dan membawa kemaslahatan. Artinya, ilmu bukan hanya sekadar terpelajari tetapi juga untuk memberi manfaat nyata pada kehidupan sehari-hari.
Belajar dan bekerja menjadi penting karena keduanya menghadirkan kemaslahatan di masyarakat juga membantu memudahkan hidup. Suatu ilmu apabila tidak teramalkan dengan baik maka akan membawa ancaman, baik bagi keberlangsungan kehidupan sosial maupun keseimbangan alam. Dengan demikian, aksiologi adalah salah satu cabang filsafat ilmu yang mempelajari tentang nilai-nilai atau norma-norma terhadap suatu ilmu.
Aksiologi menanyakan “apa tujuan dari tindakan atau pengetahuan ini?”. Aksiologi mengajak kita merenung apa nilai dari belajar? Apa manfaat dari bekerja? Setiap tindakan tentu memiliki nilai, baik nilai personal maupun sosial. Nilai tidak selalu tentang uang ataupun pujian. Belajar mungkin berat untuk hari ini, tetapi itu yang membawa kita ke masa depan yang cerah. Bekerja mungkin melelahkan untuk hari ini, tetapi itu yang mensejahterakan kita di masa mendatang.
Belajar sering termaknai sebagai tuntutan sekolah atau lingkungan. Belajar bukan hanya untuk mendapatkan nilai yang bagus. Padahal, jika terlihat dari kacamata aksiologi, kita mendapatkan makna belajar yang jauh lebih luas. Melalui belajar kita bisa melatih diri menjadi disiplin dalam segala hal, tekun dalam mengerjakan sesuatu, serta sabar menunggu hasil dari belajar itu sendiri. Kita bisa menjadikan belajar sebagai akses pengembangan diri dan pembentukan karakter. Orang yang belajar dengan sungguh-sungguh akan menjadi lebih bijak, serta siap dalam menghadapi apapun yang terjadi di hidupnya.
Nilai dan Takdir
Begitu pula dengan bekerja, banyak orang menganggap bekerja hanya untuk mendapatkan uang agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Coba kita lihat manfaat bekerja dari sudut pandang aksiologi. Bekerja bisa membuat kita senang apabila kita menerimanya dengan ikhlas. Dengan bekerja kita bisa menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain. Bekerja dapat membentuk kita menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, disiplin, dan memiliki kemampuan menyelesaikan masalah.
Namun, pemahaman nilai dan takdir sering berbenturan. Banyak orang berpikir, “kalau takdir sudah ditentukan, untuk apa kita melakukan ini itu?”. Ada yang berpikir, “kalau ujungnya sukses, tanpa usaha pun pasti akan tetap sukses. Kalau bertakdir gagal, usaha sekeras apapun tidak akan mengubah keadaan”. Pemikiran ini membuat orang ragu apakah usaha masih penting atau tidak? Apakah usaha masih diperlukan?
Kita tidak bisa menjadikan ini untuk alasan agar kita tidak perlu berusaha. Iya benar, takdir adalah ketetapan Tuhan, tapi dalam ketetapan itu ada yang belum terjadi dan masih dapat kita rubah dengan usaha. Mengapa kita berusaha? Karna kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa.
Mengapa kita harus tetap berusaha? Manusia mendapat ruang dan waktu untuk memilih jalan, bukan menentukan hasil akhir. Tuhan hanya menyiapkan jalan, kita harus tetap melangkah, bukan hanya tinggal diam, jika hanya diam, kapan kita akan sampai? Usaha adalah bagian dari nilai kemanusiaan. Manusia mendapat akal dan pikiran, ilmu, serta kemampuan untuk bertindak. Menggunakannya adalah bentuk rasa syukur kita terhadap Tuhan. Tanpa usaha, manusia kehilangan nilai utama sebagai sebaik-baiknya makhluk. Jika hanya ingin bermalas-malasan, lalu apa bedanya kita dengan hewan?
Di sinilah pemahaman aksiologi yang termaksudkan. Di dalam aksiologi ada nilai yang sangat penting. Nilai teranggap sebagai sesuatu yang nyata dan memiliki eksistensi, karena memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak manusia. Dalam filsafat ilmu, nilai tidak hanya bersifat abstrak, melainkan juga menjadi penentu arah dan tujuan penerapan ilmu. Misalnya, dalam ilmu kedokteran, nilai kemanusiaan menjadi dasar ontologis yang sangat kuat. Tujuan utamanya bukan sekedar menemukan obat, tetapi menyelamatkan dan meningkatkan kualitas hidup manusia.
Pembentukan Karakter
Nilai memang bukan segalanya. Tapi bagi sebagian orang, nilai adalah cerita. Cerita yang orang lain tidak bisa lihat. Di mana saat orang-orang asik dengan kasur dan selimutnya, kita memilih untuk membuka buku, mencoba memahami suatu ilmu. Nilai juga tentang kita memilih untuk bertanggung jawab pada hidup, padahal bisa saja kita mencari 1001 alasan untuk menyerah.
Walaupun terkadang hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi kita kemudian kita akan kecewa, dan itu wajar. Namun, bukan berarti kita adalah orang yang gagal. Karena yang tidak terlihat dari sebuah nilai adalah keberanian kita untuk terus mencoba. Nilai memang penting, tapi yang lebih penting adalah pembentukan karakter. Karena nilai adalah bagian kecil dari perjalanan hidup kita.
Kita sering kali merasa sia-sia melakukan usaha, yang pada akhirnya menuduh hidup ini tidak adil, kemudian kita berhenti berusaha. Barangkali yang melelahkan itu bukan kehidupan, melainkan kita yang sering kali tumbuh dengan pikiran dan prasangka buruk tentang kehidupan yang bahkan belum terjadi. Ada kalanya sesuatu tak berjalan sesuai dengan apa yang kita impikan.
Cara Tuhan
Ya, seperti itu hidup berjalan. Walaupun saat ini kita gagal, mungkin itu adalah cara Tuhan untuk menjauhkan sesuatu yang tidak baik untuk kita, dan pasti Tuhan sudah menyiapkan yang lebih baik dari apa yang kita impikan. Barangkali sesuatu itu akan terkabulkan di masa depan, mungkin usaha kita yang kurang keras, atau mungkin doa kita yang kurang khusyuk. Karena sejatinya, hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha.
Rahasia takdir adalah berhenti bertanya “kenapa?” karena tuhan tidak akan menjawab bagi mereka yang mempertanyakan takdir. Tuhan hanya akan menjawab kepada mereka yang ingin berusaha dan ingin menerimanya. Kepada orang yang menerima, Tuhan akan pahamkan kenapa takdir itu terberi kepada mereka. Apa yang datang tidak pernah salah, dan apa yang pergi tidak pernah keliru. Tuhan bukan tidak adil, ia hanya menyiapkan waktu yang paling tepat.
Pada akhirnya, semua luka akan menemukan obatnya, semua tanya akan menemukan jawabnya, dan setiap jalan akan bertemu di tempat yang sudah Tuhan sediakan. Kita hanya perlu terus melangkah, sebab hati yang tidak pernah menyerah selalu terpeluk oleh takdir yang baik. Hidup ini bukan hanya tentang hasil, bukan hanya tentang mencapai sesuatu. Tetapi tentang siapa kita di esok hari. Tentang orang-orang yang kita temui, pengalaman yang kita jalani, memori yang kita buat, skill yang kita latih, pemahaman yang kita dapatkan, juga tentang proses pembentukan karakter diri kita masing-masing.[]

