Jakarta – Perayaan Hari Lahir ke-58 KOPRI PB PMII terselenggara pada 10 Desember 2025 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Acara ini pada momentum yang tepat, ketika gerakan perempuan di Indonesia tampak berjalan di tempat. Di tengah angka kekerasan berbasis gender yang melejit, minimnya representasi perempuan dalam pengambilan keputusan, serta kecenderungan isu perempuan terreduksi menjadi slogan seremonial, harlah KOPRI tahun ini menghadirkan energi baru—sebuah penanda bahwa stagnasi bukan takdir, dan kebangkitan selalu mungkin.
Dengan mengusung tema “Perempuan Kuat, Indonesia Hebat,” KOPRI PB PMII tidak hanya merayakan usia, tetapi menegaskan kembali posisinya sebagai pusat pembelajaran, ruang perlawanan, sekaligus laboratorium kepemimpinan perempuan muda. Di saat banyak organisasi perempuan sibuk mempertahankan eksistensi, KOPRI menghadirkan strategi konkret: meluncurkan buku Bunga Rampai 58 Tokoh Perempuan Inspiratif, menganugerahkan penghargaan bagi kader dan cabang terprogresif, hingga membentuk Koperasi Inspirasi KOPRI sebagai jalan kemandirian ekonomi. Semua ini menunjukkan bahwa gerakan perempuan tidak cukup hanya berkampanye; ia perlu infrastruktur, agenda, dan kepemimpinan yang hidup.
Refleksi Gerakan
Pernyataan Ketua KOPRI PB PMII, Wulan Sari, menjadi refleksi penting terhadap stagnasi gerakan perempuan saat ini. Dia mengingatkan bahwa perjalanan perempuan bukan sekadar sejarah yang terrayakan. Namun, warisan perjuangan yang harus kita rawat dengan kompetensi, integritas, dan spiritualitas. Tiga nilai ini sesungguhnya adalah bahan bakar untuk keluar dari stagnasi: kompetensi yang melampaui simbol representasi; integritas yang menolak gerakan perempuan terpolitisasi secara dangkal; dan spiritualitas yang menjadi jangkar etik dalam perjuangan melawan ketidakadilan.

Namun stagnasi gerakan perempuan di Indonesia tidak terjadi begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, isu perempuan kerap menjadi komoditas politik. Banyak lembaga berlomba-lomba mempromosikan empowerment, tetapi abai pada akar persoalan seperti kekerasan seksual di kampus, pelecehan di ruang publik, hingga kemiskinan struktural yang membelenggu perempuan kelas pekerja. Di banyak tempat, perempuan muda memiliki keinginan untuk maju, tetapi minim ruang aman untuk mengasah kapasitas. Gerakan sosial yang dulu tergerakkan oleh ide dan kegelisahan kini terjebak dalam rutinitas administratif.
Kemandirian Ekonomi
Di titik inilah, Harlah KOPRI menjadi penting. Ia menampilkan wajah gerakan perempuan yang bergerak—bukan menjaga status quo. Peluncuran Koperasi Inspirasi KOPRI menjadi langkah strategis yang jarang organisasi perempuan lain sentuh. Kemandirian ekonomi adalah pondasi penting, sebab perempuan yang merdeka secara finansial memiliki keberanian lebih besar untuk mengambil keputusan, bersuara, dan melakukan perubahan. Sejarah membuktikan bahwa gerakan perempuan yang kuat selalu berakar pada solidaritas, kemandirian, dan kesadaran kolektif.
Momentum harlah ini juga menjadi ruang penegasan politik moral. KOPRI kembali mengingatkan bahwa perjuangan perempuan tidak boleh tercerabut dari pembelaan terhadap kelompok rentan—terutama korban kekerasan seksual. Di tengah maraknya normalisasi kekerasan di dunia kampus dan dunia digital, komitmen KOPRI untuk mengarusutamakan kampanye anti-kekerasan menjadi bentuk keberpihakan yang tegas. Ini adalah kritik halus terhadap stagnasi gerakan perempuan yang sering melemah akibat tekanan politik dan ekonomi.
Kehadiran tokoh nasional seperti Luluk Nur Hamidah, Jihan Nur Laela, dan perwakilan pemerintah seperti Ahmad Zabidi dan Muhamad Matsani menunjukkan bahwa gerakan perempuan yang kuat membutuhkan jejaring luas, bukan berjalan sendiri. Di banyak negara, kebangkitan gerakan perempuan dimulai dari kolaborasi lintas generasi, lintas sektor, dan lintas ideologi. Harlah KOPRI, dengan seluruh rangkaian kegiatannya, membuktikan bahwa perempuan muda Indonesia masih memiliki energi besar untuk merawat harapan itu.
Membaca Zaman
Dalam refleksi yang lebih luas, usia 58 bukan hanya angka. Ia adalah pengingat bahwa gerakan perempuan harus terus mendapat perbaharuan. Stagnasi terjadi ketika organisasi kehilangan kemampuan membaca zaman; kebangkitan terjadi ketika organisasi berani menciptakan terobosan. Harlah KOPRI PB PMII tahun ini, dengan seluruh narasi dan aksinya, memperlihatkan bahwa kebangkitan itu sedang disiapkan—pelan, tetapi pasti.
KOPRI telah membuktikan bahwa perempuan bukan penonton dalam perubahan sosial, melainkan aktor utama yang menggerakkan roda sejarah. Jika gerakan perempuan Indonesia ingin keluar dari stagnasi, maka ia membutuhkan lebih banyak ruang seperti KOPRI: ruang yang menumbuhkan kesadaran, memfasilitasi kepemimpinan, dan memperjuangkan keadilan tanpa kompromi.
Harlah ke-58 ini adalah pengingat sekaligus undangan: bahwa perubahan hanya mungkin jika perempuan bergerak bersama, dengan visi yang jelas dan keberanian yang teruji. Dan, di Graha Bhakti Budaya hari itu, tekad itu kembali diteguhkan—bahwa perempuan kuat bukan sekadar semboyan, melainkan fondasi Indonesia yang benar-benar hebat.[]

