Historiografi Perempuan Mataram (2025) berhasil membuka perspektif baru mengenai peran dan posisi perempuan masa lampau. Perempuan yang acap kali mendapat stereotipe negatif. Sri Lestari bersama rekan-rekannya dalam buku ini menawarkan beberapa pandangan baru dari hasil studinya baru-baru ini. Uniknya, para penulis, membuka perspektif tidak hanya dari satu sudut pandang yang kaku. Lestari, dkk. menyuguhkan—selain dari perspektif perempuan—dari perspektif laki-laki juga.
Menyoal sejarah sangat berkaitan dengan historiografi yang menjadi latar belakang sejarah itu sendiri. Historiografi adalah penulisan sejarah yang mencakup cara penulisan, pelaporan, dan studi tentang karya-karya sejarah. Dalam konteks Indonesia, historiografi terbagi menjadi beberapa poin, yakni tradisional, kolonial, nasional, dan modern.
Menurut Louis Gottschalk sejarawan Amerika, historiografi adalah bentuk publikasi, baik secara lisan atau tertulis tentang peristiwa atau kombinasi dari peristiwa masa lalu. Salah satu peran pentingnya yakni sebagai alat rekonstruksi dan penafsiran dari sejarah yang telah mendahului.
Narasi Kesejarahan
Dalam sejarah kerajaan masa lampau, narasi sejarah acapkali terdominasi oleh peran laki-laki. Narasi kesejarahan pada umumnya menyumbangkan cerita-cerita bernuansa keraton-sentris— kisah seorang raja, pangeran, tumenggung dan lain sebagainya. Perihal ini, seakan-akan posisi dan peran perempuan telah mengalami pereduksian dalam historiografi tradisionalnya.
Namun, dalam dunia sastra, misalnya yang tertiris dalam novel-novel sejarah, perempuan tidak hanya hadir sebagai representasi subordinat— misal istilah kanca wingking dan garwa. Buku ini tak ubahnya menyumbangkan gambaran bahwa perempuan menempati posisi yang cukup epik yang bisa mengangkat citra baik dan memainkan peran penting dalam konsepsi ketatanegaraan.
Buku ini tidak hanya berangkat dari ruang hampa, tetapi berefleksi dari kegetolan penulis yang telah lama menekuni tentang sejarah perempuan dalam narasi tradisional dan sastra sejarah. Beberapa karya yang menjadi alat penyigian ini merupakan novel sejarah yang bertemakan perempuan pada masa kerajaan. Seperti novel Rara Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri—karya Y.B. Mangunwijaya; Rara Mendut karya Ajip Rosidi; Amangkurat Agung karya Wahyu HR; Gadis-Gadis Amangkurat karya R.H Widada; dan Rembulan Ungu karya Bondan Nusantara.
Cengkeraman Hegemoni
Salah satu bahasan penting dalam buku ini adalah bagaimana perjuangan perempuan masa lampau dalam cengkraman hegemoni patriarki dan kungkungan stereotipe. Hegemoni patriarki menyigi tentang sistem pengaruh kekuasaan yang tidak hanya berdampak pada kontrol fisik perempuan, tetapi juga membentuk cara berpikir mereka. Dengan begitu, norma dan nilai patriarkial dapat terterima secara alami. Perempuan menerima dan melanggengkan subordinitas ini melalui internalisasi nilai-nilai sebagian budaya dan tradisi yang teranggap wajar.
Perjuangan yang perempuan lakukan dalam kungkungan hegemoni dapat terlacak dalam novel-novel sejarah. Yang terdiri atas hegemoni politik, bahasa, pendidikan, dan ekonomi. Hegemoni dalam ranah politik tergambarkan pada proses penaklukan Kadipaten Pati oleh Tumenggung Wiraguna dari Kerajaan Mataram dan perampasan gadis-gadis Adipati Pragola untuk diboyong menuju Mataram.
Salah satu yang menjadi korban dalam peristiwa ini adalah Rara Mendut. Dalam aspek hegemoni ekonomi, alkisah pada saat itu Rara Mendut membangkang ketika akan dijadikan selir oleh Raja Mataram hingga dampaknya Mendut diberi pajak agar merasa jera. Namun, Rara Mendut tetap berjuang, perjuangannya tercermin saat Mendut memilih untuk berjualan rokok ciri khasnya.
Perjuangan perempuan dalam kelas sosial oleh Lestari terklasifikasi menjadi tiga variasi. Pertama, terlakukan oleh perempuan yang berada dalam hierarki kerajaan. Kedua, para prajurit perempuan yang gigih. Dan, ketiga, terrepresentasikan oleh rakyat biasa. Sudut pandang yang oleh Lestari paparkan pun terbagi menjadi tiga perspektif. Yakni perempuan dari perspektif laki-laki, perempuan dari perspektif perempuan, dan perempuan dari perspektif hukum kerajaan.
Kupasan Interseksionalitas
Representasi perjuangan perempuan juga tertinjau dari teori interseksionalitas. Interseksionalitas merupakan teori yang oleh Crenshaw kembangkan agar lebih dapat memahami kehidupan perempuan di masyarakat. Intersection adalah sebuah tempat bertemunya beragam identitas yang saling beririsan.
Beberapa keahlian perempuan terbaca dalam buku ini sebagai manusia yang piawai dalam bidang tertentu. Seperti “Prajurit Estri” atau “Laskar Srikandi”, juru musik dan lagu, seorang diplomat, ahli mengasuh, dan ahli menunggang kuda. Jadi, perempuan kali ini, dalam historiografinya tidak lagi mendapat beban stereotipe negatif, dan di sinilah peran penting historiografi dalam menelaah ulang sejarah dominan.
“Sastra dan sejarah adalah dua entitas yang harus saling mengisi kekosongan makna dan dijadikan wahana pembelajaran bagi kita dalam menggali nilai-nilai didaktis dan estetika agar tak kaku memaknai suatu peristiwa”
Pada akhirnya, buku ini sangat menarik untuk membingkai perspekif yang kaku dalam memaknai peristiwa. Buku yang ditulis oleh orang yang memang konsisten mengkaji persoalan ini dan juga ulung dalam memahami karya sastra, memberikan nutrisi dan seruan rekonsiliasi perjuangan perempuan masa kini. Perjuangan perempuan masa lalu menjadi pijakan yang kuat dalam konteks kehidupan sekarang. Perempuan masa kini barangkali dapat melakukan tindakan yang etis ketika digandrungi keadaan yang pelik, dengan mengambil hikmah dari getolnya perjuangan perempuan saat itu.
Buku Historiografi Perempuan Mataram ini sangat spesifik bila menjadi bahan ajar untuk membangun paradigma “kesetaraan” gender baik di kalangan akademisi maupun masyarakat. Sebab, buku ini mengkaji bagaimana perempuan itu tidak selalu terposisikan dalam subordinasi. Selain itu, perjuangan perempuan juga mendapat telaah dalam buku ini, sehingga terdapat gambaran bentuk perjuangan yang bisa menjadi teladan perempuan masa kini secara proporsional.
Sebuah catatan pinggiran, barangkali buku ini tidak hanya mandek dalam temuan ini saja. Namun, perlu mendapat analisis lebih dalam lagi terkait dari dampaknya gerakan progresif perempuan. Barangkali perlu diberi batasan atas progresifitasnya, atau boleh didiskusikan lagi dengan perspektif liyan secara komprehensif. Bagaimana dampaknya jika perempuan itu malah mendominasi balik di atas laki-laki? Bagaimana agar tidak berlebih-lebihan dalam praktiknya? Sebab, seyogianya tupoksi dari ihwal ini yang telah digagas adalah kesetaraan.[]
Identitas Buku
Judul Buku: Historiografi Perempuan Mataram
Penulis: Sri Lestari, M. Pd., dkk.
Penerbit: Selat Media
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Maret 2025
Jumlah Halaman: vi + 140 halaman
ISBN: 978-634-7131-31-7
E-ISBN: 978-634-7131-30-0

