Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) bukan sekadar organisasi, melainkan ruang tumbuh bagi perempuan muda yang ingin belajar, berproses, dan berkontribusi. Dari seragam hijaunya, saya belajar banyak hal—bukan hanya tentang kepemimpinan, tapi juga tentang keberanian untuk melangkah dan menginspirasi. Setiap langkah, sekecil apa pun, membawa pelajaran berharga yang membentuk pribadi saya hingga hari ini.
Menjadi bagian dari IPPNU bukan hal yang mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Saya memulainya dari hal-hal sederhana di lingkungan organisasi. Masih ingat dalam benak, ketika saat pertama kali terlibat dalam kegiatan IPPNU. Dari situ, saya belajar bahwa tanggung jawab sekecil apa pun tetap berarti ketika menjalankannya dengan hati. Kadang saya merasa lelah, tapi di saat yang sama ada rasa bangga—karena dari situ saya tahu, proses sekecil apa pun tetap bernilai.
Dalam IPPNU, saya belajar banyak hal yang tidak saya dapatkan di ruang kelas. Di sana saya menemukan arti solidaritas dan perjuangan perempuan muda yang saling menguatkan. Kami belajar menyuarakan pendapat dengan santun, menghargai perbedaan, dan berani mengambil peran di tengah masyarakat. Setiap kegiatan—dari rapat kecil sampai acara besar—selalu meninggalkan pelajaran tentang kepemimpinan, kesabaran, dan rasa memiliki terhadap sesama anggota. Ada kalanya saya gugup atau takut salah, tapi teman-teman di IPPNU selalu membuat saya merasa tidak sendiri.
Perjalanan Organisatoris
Perjalanan itu perlahan membawa saya lebih jauh—dari kegiatan kecil hingga tingkat yang lebih luas. Hingga akhirnya, saya dipercaya menjadi panitia di tingkat kecamatan. Tentu tantangannya semakin berat, tapi setiap pengalaman membuat saya lebih siap menghadapi tekanan, belajar bekerja sama, dan menjaga integritas dalam setiap keputusan. Saya belajar bahwa menjadi bagian dari organisasi bukan hanya soal hadir di acara, tapi juga tentang hadir untuk sesama.
Sebagai seorang mahasiswi, saya mencoba menyeimbangkan dunia akademik dan dunia organisasi. Kadang keduanya berjalan bersamaan, dan di situlah saya belajar tentang manajemen waktu, tanggung jawab, dan konsistensi. Nilai-nilai itu tumbuh dari IPPNU—mengajarkan saya untuk tetap rendah hati, disiplin, dan mencintai proses.
Bagi saya, IPPNU bukan sekadar wadah organisasi. Ia adalah ruang belajar dan tempat menempa diri. Di sana saya mengenal arti pengabdian, solidaritas, dan kepercayaan diri sebagai perempuan muda. Semua nilai itu saya bawa dalam setiap langkah di kehidupan kampus—membangun dasar yang kuat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.
Kini saya semakin yakin, setiap langkah di IPPNU bukan hanya tentang aktivitas, tapi tentang perjalanan menuju kedewasaan. Kadang saya tidak menyadari seberapa banyak yang telah kupelajari, sampai akhirnya aku menoleh ke belakang dan melihat betapa setiap proses kecil telah membentuk saya. Setiap peran, sekecil apa pun, selalu berarti. Karena dari setiap proses, ada pelajaran yang membuat kita tumbuh menjadi versi terbaik dari diri sendiri.[]

